Ini adalah sebuah kisah nyata dari seorang wanita bernam Christa Mc Kenna yang dulunya pernah menjadi model terkenal dan mengisi beberapa talent show. Namun entah bagaimana, Christa sendiri juga tak mengerti mengapa kini di usianya yang ke 60 tahun, ia terdampar di tepi jalan. Menjadi pengemis dan meminta-minta uang di jalan.

Christa adalah seorang wanita yang cantik dan memiliki perawakan model di saat berusia 20-an. Ia menjadi model sebuah majalah bergengsi dan kerap tampil di layar kaca atau sampul majalah. Ia ingat bahwa masa kejayaannya adalah di rentang usia itu. Bahkan, ia pernah tampil di sebuah acara bernama The Gong Show pada tahun 1979, seperti dilansir Vemale.com, Jumat (9/5/2014).

Namun ia terlena dan menjadi seorang pecandu alkohol. Ia tak menyadari bahwa alkohol telah memabukkan pikirannya dan membuatnya tersandung pada nasib yang kurang baik ini. Selepas usia 26 tahun, dunia gemerlap Christa mulai redup. Ia tak pernah lagi ketahuan kabarnya.

Hingga kini usianya 60 tahun dan ia masih mencari babak kehidupannya yang hilang sejak 34 tahun lalu. Christa pernah menikah dan memiliki 2 anak. Namun salah satunya meninggal saat kecil. Kematian anaknya ini membuatnya terpukul dan kalut. Ia juga terpisah dari keluarga kecilnya dan kini berakhir tersesat di jalanan.

Tanpa rumah, tanpa harta, tanpa keluarga, tanpa tujuan. Hidup tidak lagi mudah bagi Christa yang menua. Namun itu tak menyulitkannya untuk berbuat baik pada yang lainnya. Meski ia hanya punya penghasilan $ 7 per hari, namun ia sangat bersyukur dan berusaha tak kehilangan senyumnya.

Satu-satunya cara untuk menikmati titik paling rendah dalam hidupnya ini adalah dengan berusaha menolong orang lain. Ia berusaha membantu siapapun yang ia temui. Sesama orang jalanan, teman yang kebetulan lewat atau siapapun. Inilah cara terakhir Christa bertahan hidup.

Di samping ia mencari uang untuk dirinya sendiri dan membendung air mata atas keruntuhan masa emasnya dan masa tua yang terasa sepi, menolong orang lain adalah caranya untuk menyalakan lampu harapan dalam hidupnya. Di sini, di titik terendah ini, Christa hanya wanita biasa yang mungkin ingin menjerit dan menangis dalam pelukan anak, suami atau keluarganya.

Namun ia tak memiliki itu semua. Yang ia miliki adalah doa-doa yang setiap hari ia panjatkan pada Tuhan dan waktu untuk berbuat baik pada orang lain. “Aku tak tahu mengapa kini aku jadi begini,” ujarnya. Setiap hari ia hanya bisa bergaya seperti laba-laba sambil membawa papan yang bertuliskan ’60 tahun: butuh pekerjaan. Tuhan dan Anda, tolong aku’. (nha)