Cerita nyata ini terjadi pada seorang pria sebut saja Hamdani. Bisa dikatakan Hamdani merupakan sosok yang taat beribadah kepada Allah SWT. Ia pun tidak pernah merasa takut oleh manusia, bila menyangkut kebenaran yang ia bela.

Hamdani merupakan seorang mukasyafah sehingga ia biasa berdialog dengan ruh mursyidnya yang sudah meninggal. Tentu, ini adalah kemampuan yang begitu luar biasa.

Sudah hampir setahun, Hamdani mengalami kasyaf (tersibaknya alam ruhani atau tabir spiritual) atau biasa berdialog dengan gurunya bernama Syekh Habib Syarwani, yang sudah wafat 10 tahun yang lalu.

Semasa hidupnya, Syekh Habib merupakan ulama hikmah, guru spiritual, seorang mukasyafah, dan seorang penasehat agama. Syekh Habib dipercaya sebagai wali dengan kehebatannya. Meski begitu, ia enggan meramal layaknya dukun.

Semua kalangan dari orang biasa hingga orang-orang penting mengakuinya sebagai guru penasehat yang tepat. Pasalny, Syekh Habib memiliki ilmu hikmah yang luar biasa.

Sejak Hamdani menjadi kasyaf, ruh gurunya terus membimbing hidupnya secara ruhani. Menurut Hamdani, suatu malam, ruh gurunya didampingi beberapa muridnya di alam sana, menawarinya sesuatu: “Ahmad, ini ada Jin Muslim diantara kita, namanya Syekh Maulawi. Ia berumur 400 tahun. Ia mempunyai putri namanya Fatimah, umurnya 200 tahun. Fatimah masih gadis. Syekh Maulawi tertarik padamu, pada keshalehanmu dan kekuatanmu dalam memeluk agama. Kami semua disini menawarkan padamu untuk menikahi Fatimah binti Maulawi. Bagaimana pendapatmu? Silahkan fikirkan dan pertimbangkan.”

Hamdani pun kaget luar biasa. “Menikah dengan jin?â? tanyanya.

Tidak pernah terbayang sedikitpun bahwa ia akan dinikahkan dengan jin. Mau menolak, ia sangat takzim pada Syekh sebagai gurunya lahir batin sejak hidupnya. Menyatakan mau juga tidak terbayang bagaimana jadinya dan nantinya. Dalam kebingungannya, ia mendesah: â??Menurut Syekh bagaimana?â?

â??Ini hanya tawaran. Bersedia syukur, tidak pun tidak apa-apa.â? tanya sang guru

â??Menurut Islam bagaimana? Saya kan manusia.â? tanya Hamdani

â??Tidak ada larangan.â? jawab gurunya

Pikiran Hamdani masih terus diliputi kebingungan. Selama berbulan-bulan sejak ia bisa berdialog dengan gurunya tersebut secara ruhani, Hamdani sudah terbiasa melihat jin. Meski ini adalah ujian beratnya, ia pun mau tak mau harus melakukannya.

Akhirnya Hamdani menyatakan siap dan ikhlas untuk menikah dengan jin cantik. Disaksikan gurunya dan ruh-ruh yang hadir, dengan suasana sangat khidmat, Hamdani dinikahkan dengan Fatimah binti Maulawi, seorang gadis jin Muslimah, berumur 200 tahun.

Mas kawinnya, cukup hanya membaca surat Al-Fatihah. Mertuanya bernama Syekh Maulawi adalah jin yang sangat dihormati di kalangan jin Muslim di alamnya.

Sebagai gambaran tentang sosok Fatimah, ia pun berkata: “Ia memakai kerudung dan masya Allah cantiknya luar biasa. Tubuhnya harum. Tingginya sekitar 4 meter. Setelah nikah, saya memangilnya ummi, dia memanggil abi. Sikapnya tawadhu luar biasa kepada suami, bahasanya santun, sifatnya halus dan kecantikannya belum pernah saya lihat pada manusia. Saya belum pernah melihat wajah secantik itu.”

Selain itu, Hamdani bercerita tentang bulan madunya. Walaupun tinggi Fatimah sekitar 4 meter, tapi ketika melakukan hubungan suami istri, Fatimah merubah ukurannya menjadi ukuran manusia.

Sebagai pasangan suami istri yang beriman kepada Allah SWT, mereka pun saling mengingatkan beribadah, saling menasehati untuk sabar dalam menghadapi masalah masing-masing. Tidak ada suasana sedikit pun dari Fatimah mendominasi Hamdani dari istri aslinya yang manusia, yaitu istri pertamanya.

Bahkan, dalam banyak kesempatan, Fatimah selalu mendorong Hamdani untuk berlaku harmonis dengan istrinya dan anak-anaknya. Kehadiran Fatimah, tidak sedikitpun menggangu keberadaan keluarga Hamdani karena tidak ada nafkah yang harus dikeluarkan. Makanan Fatimah sebagai jin Muslim dan makhluk adalah saripati-saripati makanan.

Hingga kini, mereka tetap rukun dan damai. Hamdani dan Fatimah pun merasa sangat bahagia. Kepada istri pertamanya, Hamdani tidak pernah menceritakan peristiwa poligaminya ini karena tidak perlu dan tidak akan dimengertinya. Hamdani dan Fatimah. (nha)