Perjalanan seseorang di masa mendatang memang tak ada yang tahu. Pasalnya, garis hidup manusia sudah di atur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang terjadi pada pria bernama Tommy Sihotang.

Tommy tak menyangka bahwa ia berhasil menjadi orang yang hebat. Padahal, dahulu Tommy adalah anak seorang pedagang sayur. Awal ke Jakarta bersama orangtuanya, mereka harus tidur di kolong jembatan dengan membangun bedeng dari bambu.

“Kalau kami semua bisa makan setiap hari, itu sudah suatu karunia yang luar biasa,” tutur Tommy, seperti dilansir Jawaban.com, Senin (16/6/2014)

Lalu, orangtuanya memulai usaha dengan berdagang hasil bumi seperti bawang, cabai dan sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga, Tommy dan ibunya setiap pagi harus pergi ke pasar induk Kramat Jati untuk mengambil bahan-bahan dagangan mereka dan dijual. Mereka harus naik sebuah mobil bak kecil setiap jam 4 pagi.

Pada saat itu, ia berpikir bahwa mereka tidak boleh seperti ini terus. Ia harus membuat perubahan dalam kehidupan ekonomi mereka. Setelah lulus SD, Tommy tidak sekolah selama 2 tahun. Ia pun berjualan es, koran, dan permen. Bahkan ia menjadi pemecah batu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Tinggal di Jakarta dengan 13 orang anak dan dalam kemiskinan, orangtua Tommy tetap menganggap bahwa sekolah adalah hal yang penting. Namun keterbatasan finansial membuat Tommy harus bersabar dan menahan keinginannya yang menggebu-gebu untuk belajar, hingga suatu hari seseorang yang baik hati menawarkannya sekolah.

“Sekolah itu, bapak saya dan mamak saya sudah tidak ngurusin saya, karena saya sudah mulai cari uang sendiri. Saya pikir, saya tidak boleh berdiam diri, saya tidak boleh begini terus. Karena kalau saya ikuti situasi saat itu, paling banter saya seperti bapak saya, punya kedai makanan, warung makan nasi. Masa saya harus seperti itu… hal itu memacu saya, saya harus bangkit,” tandasnya.

Selang beberapa tahun, ia kemudian masuk sekolah pelayaran dan berlayar untuk mengumpulkan uang demi bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

Pada tahun kedua ia kuliah, ia diajak temannya untuk bekerja di kantor pengacara. Awalnya ia tidak tahu apa itu pengacara. Yang ia tahu bahwa kalau ia bekerja maka ia akan mendapat uang. Ia bekerja di Firma Hukum Maruli Simorangkir dan menjadi asisten pengacara. Tetapi disana ia melakukan semua pekerjaan. Termasuk pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Office Boy.

Ia lakukan semua itu dengan sukacita. Ia harus bekerja disana sampai jam 5 dan harus ke kampus sepulang kerja. Tanpa ia sadari sebenarnya ia sedang mempelajari praktek hukum yang sebenarnya disana yang tertanam sampai sekarang. Menurut Maruli ia adalah orang yang tekun. Tekun dalam pekerjaan dan sekolah.

“Saya bahkan memilih tidur di kantor. Proses pembentukan itu, ya seperti itu.. Sampai hanya dalam waktu satu tahun saya sudah mahir bagaimana membuat gugatan, bagaimana membuat pembelaan perkara pidana..” ujarnya.

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil, pada tahun 1986 ia berhasil mendapat gelar sarjana hukum. Bahkan di tahun 1988 ia mengundurkan diri dan mendirikan firma sendiri yaitu Tommy Sihotang & Partners.

Sejak saat itu ia dipercayakan untuk menangani kasus-kasus besar dan namanya mulai sejajar dengan para pengacara-pengacara besar yang sudah ada. Bahkan pada tahun 2006, Tommy berhasil mendapat gelar doktor di bidang hukum.

“Saya bisa lewati semua itu, dan saya bisa mendapat buah yang sangat baik dari Tuhan, semua karena kebaikan Tuhan. Saya harus katakan, ‘tanpa Tuhan ngga usah ngomong, karena semua itu ngga ada artinya hidup.’ Tuhan sudah bawa saya ke tempat yang tinggi, itu artinya Tuhan sudah tetapkan saya bekerja di ladang hukum saja. Itu juga pelayanan saya di gereja, yang berhubungan dengan hukum. Pekerjaan saya Tuhan pakai untuk pelayanan bagi orang lain.” urainya.

Kini, Tommy sudah berhasil melewati kemiskinan yang membelenggunya dan keluarganya. “Jangan pernah putus harapan, karena harapan itu selalu ada. Dia hanya mau kita lakukan tugas dan kewajiban kita dengan benar dan maksimal.  Jadi sekali lagi, semua yang saya lakukan, yang saya ucapkan, yang saya peroleh, semua itu untuk hormat dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus saja,” tutupnya.