Vednita Carter dulunya adalah seorang pekerja seks komersial, untuk mendapatkan uang dan menarik perhatian klien tak jarang dirinya harus menjajakan dirinya di jalanan layaknya barang dagangan. Tapi itu hanya kisah masa lalunya yang kelam, kini wanita itu sudah berubah menjadi wanita pejuang yang membela hak-hak perempuan yang ingin terbebas dari jerat prostitusi.

Dikutip dari vemale.com (Selasa, 24/6/2014), Vednita adalah seorang berjasa yang mendirikan organisasi bernama Breaking Free. Organisasi nirlaba ini membantu para wanita keluar dari lingkaran hitam prostitusi. Sejak tahun 1996, Vednita sudah membantu lebih dari 6.000 wanita yang butuh bantuan. Menurutnya, prostitusi dan perdagangan seks sama saja, keduanya adalah tentang jual beli manusia.

Vednita mendirikan Breaking Free atas pengalaman kelam masa lalunya. Saat usianya 18 tahun, Ia ingin mencari uang agar bisa melanjutkan kuliah. Saat itu Ia melamar pekerjaan sebagai penari, mulanya Ia menari seperti penari biasa dengan pakaian lengkap namun lama-kelamaan, Vednita disuruh sang bos dan pacarnya untuk menari stritease, dari situlah Ia mulai terjebak prostitusi.

Beruntungnya, setahun kemudian ada seorang yang membantunya keluar dari lembah hitam tersebut sehingga Ia pun bebas dan bisa menjalani kehidupan normalnya lagi. Saat itu Ia merasa beruntung dan berkeinginan untuk mendirikan sesuatu yang dapat membantu banyak orang untuk keluar dari prostitusi.

Sebanyak 95 persen wanita yang dibantunya, telah mengalami berbagai kondisi buruk. Kondisi buruk yang mereka alami antara lain, kekerasan fisik, trauma mental, rasa malu, dan ketidakstabilan ekonomi.

Organisasi yang didirikannya akan memberi edukasi pada para wanita yang telah dibantu untuk mengikuti kelas selama 14 minggu. Kelas tersebut bernama Sisters of Survival. Nantinya para wanita ini akan mengalami kelulusan atau wisuda yang menandai awal baru kehidupan mereka.

Kedepannya, Vednita ingin terus memperjuangkan keadilan untuk para wanita korban perdagangan seks dan membantu mereka keluar dari prostitusi, karena wanita pun memiliki hak untuk dapat hidup lebih baik.(dea)