Tri Bagio adalah seorang pria yang memiliki keterbatasan fisik. Saat masih kecil, Tri harus menjadi operasi akibat kecelakaan saat bermain bola. Namun, setelah ia melakukan operasi, matanya justru tidak bisa melihat lagi.

 “Ketika saya tidak melihat, serasa dunia ini menjadi runtuh, tidak ada pengharapan lagi. Semuanya totally musnah.” ujar Tri, seperti dilansir Jawaban, Rabu (25/6/2014).

Tentu saja, kebutaan ini membuat Tri tidak merasa nyaman. Tri merasa sebagai kelompok yang terpinggirkan dari orang-orang yang disekitarnya. Sempat depresi, Tri pun pernah mencoba bunuh diri.

Di dekat rumahnya, ada sebuah sumur, disanalah ia memutuskan untuk mengakhiri hidup. Namun, saat Tri hendak melompat, tetangganya memergoki dia dan menyelamatkannya.

Akhirnya, tetangganya menasihati Tri untuk tetap semangat menjalahi hidup. Tri pun belajar dengan serius, apalagi di sekolah umum tidak tersedia sarana bagi penyandang tunanetra sehingga Tri harus bekerja keras dan bergantung penuh pada pertolongan teman-temannya yang mau membacakan materi pelajaran.

Meski begitu, Tri mendapatkan hasil yang berbuah manis. Tri berhasil lulus SMA dan dapat meneruskan pendidikannya ke universitas. Namun di sana, dia pernah gagal dalam suatu mata kuliah karena tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Salah satu teman wanitanya pun menawarkan untuk menjadi pembaca tetapnya dan itu sangat membantu Tri. Siapa sangka? Persahabatan yang tulus itu akhirnya berkembang menjadi sebuah hubungan asmara.

“Saya menganggap dia sosok yang bisa mengganti penglihatan saya. Ketika saya tidak bisa melihat, dia bisa menggantikan hal itu. Dia bisa menjadi tongkat, dia bisa menjadi penolong saya.” ujar wanita tersebut.

Namun suatu hari, kekasih Tri memutuskan agar mereka berpisah karena ditentang oleh keluarga wanita. “Saya sempat juga bertanya pada Tuhan : Kenapa sih Tuhan ini terjadi pada saya? Kalau saja saya bukan tunanetra, saya tidak akan mengalami hal seperti ini.” cerita Tri

Pasca ditinggal kekasihnya, Tri mengurung diri di kamar selama tiga hari. Ia pun merasa kecewa hingga dia mendengar suatu lagu di radio yang sedang dibukanya.

“Tuhan berbicara di syair lagu itu dan betul-betul saya kena. Di situ saya terbangun. Kenapa hanya masalah itu saja kok kamu terpuruk, kamu jatuh. Saat itu saya mengevaluasi diri, saya merefleksikan kenyataan yang saya alami dengan kata-kata di lagu itu dan saya bangkit. Saya berdoa dan tidak akan menyalahkan diri saya. Saya ingin bangkit, saya ingin menjadi Tri yang berbeda.” lanjutnya.

“Saya menangkap Tuhan berkata bahwa saya tidak boleh mengandalkan manusia, karena rancangan manusia itu belum tentu rancangan Tuhan, rancangan saya juga belum tentu rancangan Tuhan. Jadi saya harus memahami, ketika Tuhan punya rancangan, mungkin tidak enak buat saya, tapi rancangan Tuhan itu indah pada waktunya, pasti menyenangkan.” tandasnya.

Berkat kegigihannya, kini Tri bisa merampungkan gelar S1-nya. Bahkan, saat ini dia tengah menyelesaikan gelar S3-nya. “Kebutaan bukan akhir dari semuanya. Saya bersyukur juga, ketika saya boleh mengalami hal itu, saya nilai bahwa Tuhan ijinkan history saya kenal dengan dia, ada perubahan, ada motivasi, ada pengharapan, ada rancangan ke depan membangun cita-cita.” tutup Tri. (nha)