Negara kita terkenal dengan semboyannya â??Bhinneka Tunggal Ikaâ? yang berarti, walaupun memiliki berbagai macam suku, kebudayaan dan adat istiadat yang berbeda-beda tetapi memiliki rasa persatuan dan kesatuan yang sama. Semboyan ini tampaknya menjadikan suatu inspirasi tersendiri bagi Raden Sirait, seorang perancang busana yang berasal dari Porsea, Sumatera Utara.

Rasa cinta Raden Sirait terhadap Kebaya yang membuatnya mendapatkan suatu gagasan yang benar-benar di luar dugaan. Ia memadukan rancangan siluet kebayanya dengan menggabungkan berbagai macam pola busana tradisional di seluruh pelosok Indonesia, seperti Sulawesi, Betawi, Sumbawa, Bali, Padang, Sunda, dan Batak yang memang tiap-tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Tidak hanya itu saja, busana-busana tradisional dari beberapa Negara lain juga ia gabungkan dalam rancangan kebayanya tersebut.

Seorang perancang busana yang telah digeluti oleh Raden Sirait semenjak 15 tahun yang lalu, dan dalam 5 tahun terakhir ia memang mencoba untuk mendalami dunia rancangan busana Kebaya. Ternyata memang benar jika, â??buah jatuhnya tidak jauh dari pohonnyaâ??. Jiwanya dalam menggeluti dunia busana telah ia dapatkan dari Ayah tercintanya yang berprofesi sebagai seorang penjahit. Raden Sirait lahir di Porsea, sebuah kecamatan kecil yang terletak di pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Walaupun kedua orang tuanya tidak sempat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, namun kedua orang tuanya selalu mengingatkan Raden untuk terus menimba ilmu pengetahuannya setinggi mungkin. Pesan dari kedua orang tuanya lah yang memotivasi Raden untuk terus menimba ilmu pengetahuan hingga ia mendapatkan beasiswa di sebuah Institut ternama di Bogor jurusan Agrobisnis.

Raden Sirait

Sebuah latar belakang yang sangat bertolak belakang sekali yang dimiliki oleh Raden Sirait, yang terkenal dengan busana-busananya yang brilian. Seperti yang tercermin dalam perkataannya yang dikutip oleh Kompas.com, â??Aku tidak bisa menggambar, aku tidak bisa membuat pola, aku juga tidak bisa menjahit. Tetapi aku sangat bersyukur dengan talenta yang tidak terbatas yang dianugerahkan Tuhan kepada aku, yakni membayangkan perempuan-perempuan memakai kebaya bagaikan bidadari-bidadari dari kahyanganâ? pernyataan Raden yang kerap ia lontarkan kepada media-media. Hanya bermodalkan talenta dan imajinasi yang terus-menerus diasah oleh Raden lah yang menjadikannya terkenal hingga ia dapat membuat sebuah pagelaran busana rancangan Raden Sirait, â??Kebaya for the Worldâ? yang menampilkan lebih dari 155 busana kebaya racikan darinya. Ambisi dari Raden lah yang mendorongnya untuk menggeluti dunia busana, â??Misi saya hanya satu, memperkenalkan dan mempopulerkan kebaya ke pasar internasional. Dikenakan oleh para pemuka dunia dan menjadikannya bagian dari busana yang dikenakan oleh masyarakat di luar Indonesia.â?

Ia memang tidak bisa menggambar, membuat pola, dan menjahit, namun kejelian dan kecerdasannya yang menggunakan teknik moulage (merancang langsung dengan menempel kain di manekin) dalam merancang busana yang kemudian dijahit oleh para karyawannya. Ia mengetahui benar, bahwa bagi kaum muda sekarang ini melihat Kebaya adalah suatu busana yang ketinggalan zaman. Dengan berbagai macam observasi dan kecermatannya dalam mengolah idenya tersebut dengan memadukan berbagai ornament-ornamen manik, payet, serta Kristal Swarovsky membuat Kebayanya akan terkesan menjadi sebuah busana indah nan anggun bagi perkembangan busana saat ini. Karena ia tahu betul, bahwa ciri khas dari Kebaya itu sendiri adalah â??tak akan pernah usangâ?? walaupun dipadukan dengan berbagai jenis kain busana tradisional lainnya dengan menampilkan sebuah luapan emosi akan keanggunan, kharisma, kontras, ataupun polaritas jiwa, agresivitas, gairah, dan juga maskulinitas, seperti hasil busana Kebayanya tersebut.

Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh Raden tersebut, mungkin dapat memberikan sebuah dorongan bagi kita yang ingin membuat sesuatu yang brilian dan dapat digemari oleh orang banyak. Kita harus jeli dalam mengetahui talenta yang kita miliki dan keinginan dalam diri kita sendiri, sehingga dengan bermodalkan kedua hal tersebut kita dapat mewujudkan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya.