Setelah satu bulan berpuasa di bulan Ramadan, maka umat Muslim akan merayakan Hari Raya Idul Fitri atau istilahnya Lebaran. Memasuki masa Lebaran, biasanya orang-orang Indonesia akan melakukan sesuatu yang dinamakan mudik alias pulang kampung. Karena itulah, hingga kini momen Lebaran identik dengan mudik. Namun haruskan kita mudik saat Lebaran?

Sebagian besar kaum Muslimin di negeri kita mengira, bahwa mudik ada kaitannya dengan ajaran Islam, karena terkait dengan ibadah bulan Ramadan. Sehingga banyak yang lebih antusias menyambut mudik lebaran daripada mengejar pahala puasa dan lailatul qadr. Dengan berbagai macam persiapan, baik tenaga, finansial, kendaraan, pakaian dan oleh-oleh perkotaan. Ditambah lagi dengan gengsi bercampur pamer, mewarnai gaya mudik. Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang.

Sebenarnya, mudik tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam karena tidak ada satu perintahpun baik dari Alquran maupun Sunnah yang menyatakan bahwa setelah menjalankan ibadah Ramadan harus melakukan mudik agar bisa melakukan acara silaturahmi untuk kangen-kangenan dan maaf-maafan, karena silaturahmi bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi.

Apabila yang dimaksud mudik dilakukan sebagai bentuk kegiatan untuk memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk menjernihkan suasana keruh dan hubungan yang retak, sementara tidak ada kesempatan yang baik kecuali hanya waktu Lebaran, maka demikian itu boleh-boleh saja. Namun, bila sudah menjadi suatu yang lazim dan dipaksakan, serta diyakini sebagai bentuk kebiasaan yang memiliki kaitan dengan ajaran Islam, atau disebut dengan istilah tradisi Islami, maka demikian itu bisa menjadi bidâ??ah dan menciptakan tradisi yang batil dalam ajaran Islam.

Meski demikian, tampaknya mudik sudah menjadi tradisi orang Indonesia dalam menyambut Lebaran, dan yang namanya tradisi pasti akan sulit dihilangkan. Jika alasannya adalah untuk silaturahmi, maka tanpa perlu repot-repot pergi jauh-jauh dan mengeluarkan biaya, Anda bisa menghubungi kerabat atau keluarga Anda melalui telepon atau media lainnya agar bisa saling bermaaf-maafan. Dengan demikian, Anda tetap bisa menyambung tali silaturahmi tanpa perlu membahayakan diri Anda sendiri dan orang lain. Namun semua itu kembali ke diri Anda masing-masing.

Jadi, intinya, apakah kita harus mudik saat Lebaran tiba? Jika menuruti ajaran Islam, maka kita tidak harus mudik ke kampung halaman karena tidak terdapat ajaran mudik dalam Islam. Namun jika menuruti tradisi, maka kebanyakan orang akan memilih untuk mudik, bagaimana pun caranya. (tom)