Di berbagai belahan dunia ini banyak terdapat kedai yang menyajikan keunikannya sendiri. Misalnya satu kedai yang ada di Pittsburgh, Amerika Serikat bernama Conflict Kitchen yang satu ini. Apa keunikan dari kedai tersebut?

Yang unik dari Conflict Kitchen adalah kedai tersebut hanya menyediakan makanan yang berasal dari etnis di negara-negara yang bertikai dengan pemerintah Amerika Serikat, sesuai namanya. Sejak pembukaannya pada tahun 2010, restoran ini sudah menyajikan masakan Iran, Afghanistan, Venezuela, dan Kuba.

Kedai ini hanya menyediakan menu dari satu negara saja dalam jangka waktu tertentu. Menu makanan akan berubah setiap enam bulan sekali. Perubahan menu dirayakan dengan membuat festival kecil-kecilan yang dilengkapi dengan pertunjukan musik dari negara yang bersangkutan. Dilansir dari Daily Mail, Minggu (3/8/2014), tujuannya utama dari kedai ini adalah untuk mengampanyekan perdamaian antara etnis minoritas di Amerika Serikat dengan penduduk asli negara Paman Sam tersebut.

Pergantian Conflict Kitchen dari waktu ke waktu
Pergantian dekorasi Conflict Kitchen dari waktu ke waktu

Saat menyajikan menu masakan Iran, restoran mengangkat tema budaya Iran dan mengganti nama menjadi Kubideh Kitchen. Saat berganti tema menjadi Afghanistan, restoran berganti nama Bolani Pazi dan menyajikan Bolani. Ketika masakan Venezuela yang disajikan, restoran berubah wajah menjadi La Cocina Arepas dengan menu andalan arepas.

Conflict Kitchen adalah proyek yang dirintis oleh dosen Carnegie Mellon University, Jon Rubin dan Dawn Weleski. Operasi restoran ini didukung oleh Waffle Shop: A Reality Show, Benter Foundation, serta pusat kebudayaan masyarakat setempat. Setiap kali restoran mengganti menu dan tema, mereka akan melakukan dekorasi ulang yang prosesnya dibantu oleh anggota komunitas etnis asing dari negara yang bersangkutan, entah itu dari warga keturunan Amerika Latin atau Timur Tengah.

“Conflict Kitchen memformat ulang hubungan sosial yang sudah ada dalam bentuk makanan dan pertukaran ekonomi. Tujuannya adalah untuk melibatkan masyarakat umum dalam diskusi tentang negara, budaya dan retorika polarisasi politik AS yang selama ini selalu menjadi tajuk berita utama di media-media massa,” ujar Rubin. (tom)