Dalam menjalani suatu hubungan atau yang dikenal dengan istilah berpacaran, sebaiknya Anda dan sang kekasih harus tahu akan norma-norma yang dianjurkan.

Jika seseorang tak menaati norma-norma yang berlaku, maka sesuatu hal yang tak diinginkan akan berdampak pada diri Anda.

Sebagaimana diketahui, derasnya perkembangan teknologi di zaman sekarang telah disalahgunakan oleh sebagian orang, terlebih para remaja. Ironisnya, ditemukan fakta mengejutkan terkait gaya berpacaran remaja saat ini.

Seperti dilansir Okezone, Senin (11/8/2014), Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Julianto Witjaksono SpOG, KFER, MGO menyatakan bahwa terdapat 46% remaja berusia 15-19 tahun sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah.

“Paling tidak, beri pandangan bahwa ini bahaya dan mengancam generasi muda. Pernikahan dini, penyimpangan prilaku. Masalah penyimpangan remaja semestinya bisa dikendalikan. Harus dikendalikan, bisa mencegah menghambat angka kehamilan pra nikah, penyimpangan seksual akan bisa┬áberdampak pada kesehatan remaja,” ujar dr. Julianto

Julianto menambahkan, kehamilan remaja dapat meningkatkan angka kematian bayi. Itulah sebabnya, para remaja harus bermawas diri agar tidak melampau batas dalam berpacaran.

“Kualitas manusia Indonesia, tak hanya pendidikan sekolah, tetapi harus disiapkan sejak dini dalam kandungan. Kehamilan remaja memicu tingginya angka kematian bayi. Bayi berbobot
rendah,” jelasnya.

Lebih lanjut dr. Julianto mengutarakan bahwa pendewasaan usia pernikahan sangat penting dilakukan. Pasalnya, jika sudah menikah, kaum wanita dapat menunda kehamilan sampai usia 20 tahun keatas. Tentunya, itu adalah langkah tepat.

“Remaja saat ini rentan terhadap godaan – godaan, banyak terjadiabortus, penyakit seksual, hati-hati cari pacar,” lanjutnya.

Saat ini, BKKBN tak henti-hentinya mensosialisasikan masalah kesehatan dan pendidikan reproduksi dengan sasaran sekolah, universitas, pramuka, pusat kesehatan reproduksi di seluruh Indonesia.

“Itu semacam UKS, tempatnya dilengkapi petugas medis yang ramah, akses mudah, diminati remaja
kita. Banyaknya masyarakat yang datang menunjukan bagaimana rakyat butuh konseling,” kata dr. Julianto. (nha)