Segudang pekerjaan yang belum terselesaikan selalu membuat karyawan mau tak mau harus lembur. Untuk itu, karyawan pun rela bekerja hingga larut malam demi menyelesaikan pekerjaan mereka.

Terkait hal ini, sebuah studi yang dilakukan perusahan asuransi menyebutkan bahwa lembur sangat berdampak buruk terhadap kesehatan dan kehidupan sosial karyawan.

Adapun studi ini dilakukan oleh AXA. Penelitian ini mengklaim bahwa karyawan yang menambah jam kerja sebanyak 4 hingga lebih dari 7 jam setiap minggu dapat memicu stres ang bisa berujung pada depresi.

Selain itu, karyawan yang bekerja lembur atau mengambil waktu ekstra di akhir minggu memiliki waktu kebersamaan dengan keluarga dan para sahabat yang lebih sempit.

â??Faktanya, akibat kerja lembur banyak karyawan yang kehilangan waktu berharga bersama keluarga,â? ujar Glen Parkinson, peneliti dari AXA, seperti dilansir Viva.co.id, Selasa (12/8/2014)

Parkinson menambahkan, tak sedikit karyawan yang bekerja lembur divonis menderita penyakit psikis, seperti stres, kecemasan berlebihan, hingga depresi. Bahkan, saat bersosialisasi, mereka cenderung tak memiliki pembicaraan lain selain urusan pekerjaan

Studi AXA pun menemukan bahwa perusahaan kurang memperhatikan kesehatan mental karyawannya. â??Kebanyakan perusahaan memberikan asuransi kesehatan fisik dan bukan psikis, sehingga penyakit psikis pada karyawan kerap tidak diketahui hingga terlambat ditangani,â? tandasParkinson.

Untuk itu, AXA menghimbau agar perusahaan memberikan benefit berupa asuransi kesehatan mental bagi karyawan yang bekerja lembur. â??Hal itu tidak hanya akan memberikan keuntungan bagi karyawan, tapi juga perusahaan,â? kata Parkinson.

Selain memicu stres dan depresi, karyawan yang bekerja lembur juga memiliki risiko 67% lebih tinggi menderita serangan jantung atau bahkan kematian dibandingkan orang yang bekerja standar. Hal ini diungkapkan oleh studi terbaru dari Annals of Internal Medicine.

“Jadwal kerja mungkin seringkali diabaikan dan kurang dimanfaatkan sebagai tanda atau peringatan dini untuk penyakit jantung,” ujar Mika Kivimaki, seorang profesor epidemiologi dan kesehatan masyarakat di University College London (nha)