Terasa menyakitkan memang jika kita mengalami putus cinta dengan orang yang amat dicintai. Namun, itulah sebuah risiko yang harus dialami dalam menjalani suatu hubungan. Percintaan seseorang terkadang tak selalu berjalan mulus. Pasti Anda dan sang kekasih kerap menemui rintangan yang menguji seberapa kuat Anda dan dia bisa bertahan.

Biasanya, orang yang mengalami putus cinta akan sulit untuk membuka hatinya kembali. Tak heran jika mereka lebih memilih hidup sendiri hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Bahkan, tak sedikit orang yang nekat melakukan percobaan bunuh diri lantaran ia telah kehilangan belahan jiwanya. Jika sudah begitu, apakah putus cinta bisa menyebabkan kematian?

Menjawab pertanyaan itu, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Internal Medicine awal tahun ini menyatakan bahwa jumlah orang yang terkena serangan jantung, stroke, satu bulan setelah orang yang mereka cintai meninggal dua kali lebih banyak daripada mereka yang tidak berduka.

“Kita sering menggunakan istilah ‘patah hati’ untuk menandakan rasa sakit kehilangan orang yang dicintai dan penelitian kami menunjukkan bahwa rasa kehilangan bisa memiliki efek langsung pada kesehatan jantung.” ujar Dr Sunil Shah selaku penulis studi dari St George di University of London

Namun, menurut British Heart Foundation orang yang mengalami putus cinta dikenal dengan nama stress cardiomyopathy atau takotsubo cardiomyopathy.

Ini adalah kondisi sementara di mana otot jantung seseorang tiba-tiba melemah atau menyebabkan pingsan. Kemudian ventrikel kiri, salah satu ruang jantung berubah bentuk lantaran mengalami syok. “Sekitar tiga perempat orang yang didiagnosis takotsubo cardiomyopathy mengalami stres emosional atau fisik yang signifikan sebelum menjadi tidak sehat,” imbuh British Heart Foundation.

Serangan jantung cenderung terjadi pada seseorang lantaran adanya sebuah penyumbatan dan pembekuan darah di dalam tubuh.

“Sebagian besar serangan jantung terjadi karena penyumbatan dan pembekuan darah terbentuk di arteri koroner, arteri yang memasok darah ke jantung,” tulis FAQ mengenai sindrom patah hati yang dipublikasikan Johns Hopkins University. (nha)