Seorang wartawan Swedia bernama Carl-Magnus Helgegren memutuskan untuk mengajarkan kedua putranya, yang terobsesi dengan video game bertema perang, tentang apa perang itu sebenarnya. Dirinya kemudian membawa anak-anaknya mengunjungi Israel dan Suriah untuk menunjukkan tentang seberapa keras daerah-daerah yang dilanda perang.

Perjalanan yang berlangsung selama 10 hari itu membuat Leo, 11 tahun , dan Frank, 10 tahun, benar-benar berubah. Ide untuk melakukan perjalanan itu tercetus saat Carl dan keluarganya sedang menikmati makan malam mereka tahun lalu.

Leo dan Frank di atas tank
Leo dan Frank di atas tank

Leo dan Frank saat itu memohon kepada ayah mereka untuk dibelikan game perang terbaru yang berjudul “Call of Duty”. Obsesi mereka membuat Carl bertanya-tanya apakah kedua putranya benar-benar menyadari efek nyata dari perang yang kerap menelan banyak korban.

Carl pun akhirnya menyusun sebuah rencana brilian untuk memberikan pelajaran berharga bagi kedua anaknya. Dia kemudian membuat sebuah kesepakatan dengan mereka. Jika mereka setuju untuk melakukan perjalanan bersamanya ke daerah yang dilanda perang dan mau menghabiskan waktu dengan korban perang, dia akan membeli kan mereka semua video game yang mereka inginkan saat mereka kembali nanti.

Leo dan Frank berfoto bersama prajurit
Leo dan Frank berfoto bersama prajurit

“Saya ingin menunjukkan kepada mereka tentang dampak negatif dari perang,” kata Carl seperti dilansir dari The Local, Kamis (21/8/2014).

Leo dan Frank awalnya tidak begitu percaya kepada ayah mereka, tetapi mereka setuju untuk membuat kesepakatan ketika mereka menyadari bahwa ayahnya serius. Ibu mereka Elisa, sebenarnya cukup enggan untuk menyetujui kesepakatan mereka, karena dia hidup terpisah dengan mereka.

Carl yang pernah bekerja sebagai jurnalis lepas di Timur Tengah, tahu rute mana yang harus diambilnya untuk membawa kedua anaknya. Pada awalnya, dia ingin membawa mereka ke Irak atau Afghanistan, tetapi dia menyimpulkan bahwa dua tempat itu terlalu berbahaya bagi putranya, jadi dia pun memutuskan untuk membawa mereka ke Israel dan Suriah.

Carl dan kedua anaknya juga mengunjungi Mjadal Shams di Dataran Tinggi Golan – dataran tinggi berbatu yang memiliki setidaknya 2.000 ladang ranjau. Di sana, mereka berbicara dengan banyak perempuan dan laki-laki muda yang tumbuh selama masa perang. Anehnya, Leo dan Frank menunjukkan minat yang besar pada kisah mereka dan mulai memahami rasa sakit yang dialami oleh orang-orang yang terpisah dari keluarga.

Carl senang karena kedua anaknya sekarang bisa memahami dampak negatif dari perang. Dia justru tidak mengerti kenapa banyak orang tua yang mencegah anak-anak mereka untuk melihat liputan tentang perang, tetapi membiarkan anak-anak mereka bermain video game perang. (tom)