Pria bernama Ciming memiliki kisah pahit dalam hidupnya. Sejak kecil, ia harus hidup bersama kedua orangtua yang tak pernah mempedulikan dia layaknya anak lain. Bukan kasih sayang yang Ciming dapat, melainkan siksaan bertubi-tubi setiap harinya.

“Mama saya penjudi berat, waktunya habis di judi saja. Dengan kekerasan perhatiannya tuh, bukan dengan kelemah lembutan.” ujar Ciming, seperti dilansir Jawaban.com, Sabtu (30/8/2014)

Bahkan, Ciming sering mendapat perlakuan buruk dari sang ayah, seperti diikat, dipukul dan disundut rokok yang menyala, dan dibiarkan dikerubutin oleh semut sambil diikat. Sontak pengalaman itu membuat Ciming mengalami trauma. “Saya sangat ngga kuat waktu orangtua saya menyiksa saya,” ungkap Ciming.

Tak hanya itu saja, sang ayah juga sempat ingin membunuh Ciming. “Saya dimasukin ke karung, lalu dicemplungin ke air. Tapi tiba-tiba tetangga saya datang menolong. Karena hal itu saya dendam pada orangtua saya, nanti kalau saya sudah besar saya akan bunuh mereka.” lanjutnya

Merasa kesal, Ciming akhirnya pergi dari rumah dan bergaul dengan anak-anak jalanan. Di sanalah ia belajar melakukan kejahatan. “Disana saya belajar kejahatan, mencuri, dan menodong.” paparnya.

Bahkan diusianya yang baru 13 tahun, Ciming telah berani menusuk lawannya. Akibatnya, ia harus melarikan diri dari kejaran kelompok preman lain agar tidak terbunuh.

“Kalau ketemu, saya pasti mati dibunuh. Saya lari ke Lampung. Selama beberapa hari itu, yang saya makan cuma pisang busuk. Menderita saya di Lampung.” imbuhnya

Tidak betah tinggal di jalanan, akhirnya Ciming mencari pamannya yang juga tinggal di Lampung. Ia tinggal bersama pamannya itu hingga ia mendapatkan pekerjaan. Tetapi, Ciming malah lupa daratan lantaran telah memiliki penghasilan sendiri.

“Ada duit itu tujuannya cuma satu, perempuan. Karena selama ini ngga ada yang memperhatikan saya, tidak pernah diperhatikan sama orangtua saya, sama mama saya, jadi carinya dari perempuan,” tutur Ciming

Namun pribadi Ciming tidak pernah berubah, ia adalah orang keras dan nekat. Sebagai seorang preman, tidak ada satupun yang ia takuti. “Kalau saya orangnya nekad, kalau lingkungan saya diganggu orang, saya akan datangi preman yang penguasa itu. Mereka takluk dengan keberanian saya itu. Yang paling parah waktu teman saya ditusuk pahanya, saya tusuk lagi orang itu.” urainya.

“Kalau saya sudah cabut pisau, orang itu harus saya tusuk. Darahnya saya jilat, kalau saya sudah jilat, saya baru merasa puas.” ucap Ciming

Semua keberingasan Ciming itu karena sebuah keris yang ia miliki, “Keris itu kecil, kalau ada orang niat jahat, keris itu ngasih tanda. Kalau sudah keris itu nempel saya saya, dipukul orang sekampung pun saya ngga kerasa apa-apa. Tapi kalau saya mukul orang, sekali pukul orang itu langsung terkapar. Saya juga heran, saya pernah di keroyok, tapi mereka terkapar dan kabur semua.” katanya

Ciming pun sempat mendekam di balik jeruji besi akibat perbuatan jahat yang ia lakukan. Namun, Ciming akhirnya berhasil keluar dari penjara berkat bantuan seorang saudara. Pasca bebas, Ciming bertekad akan menjadi pribadi yang lebih baik. “Saya ingin hidup benar, saya ngga mau lagi berbuat seperti dulu lagi.” paparnya

Seiring berjalannya waktu, ia pun bertemu dengan seorang wanita dan menikahinya. Meski rumah tangganya tidak selalu harmonis, Ciming tetap mencintai istrinya dan tidak melakukan kekerasan kepada istrinya. Namun tidak kepada anaknya. Ia masih ingat bagaimana masa kecilnya bagaimana orangtuanya keras kepadanya, herannya ia juga melakukan hal yang sama kepada anaknya.

“Saya sudah gelap mata, saya pukul. Saya suruh dia tidur diluar, ngga boleh masuk rumah. Tengah-tengah malam, saya ngga bisa nafas, dan Tuhan berbicara, “Anakmu, darah dagingmu.” Saya bangun, saya minta maaf sama anak saya.” katanya.

Setelah peristiwa itu, Ciming mengalami sesuatu yang mengguncang jiwanya. Adik kandungnya meninggal dunia saat mengandung 7 bulan. “Saya mulai berpikir nanti kalau saya meninggal gimana nih? Saya takut, karena badan saya ini kotor. “Kalau saya mati mau kemana ya?” Adik saya ini rajin ibadah, dia cinta Tuhan. Ujan-ujan dia datang beribadah, saya pernah bilang, “Gitu ya melayani Tuhan, ujan-ujan harus pergi. Ngga ada hari besok,” paparnya

Pasca kehilangan sang adik tercinta,┬áCiming memutuskan untuk merubah hidupnya. “Hal itu membuat saya tobat, membuat saya harus mempercayai Yesus sebagai Juru Selamat saya. Karena saya melihat adik saya.” urai Ciming. (nha)