Anda tidak akan pernah tahu siapa dan kapan seseorang akan bunuh diri. Tiba-tiba saja Anda sudah dikejutkan dengan berita meninggalnya orang yang Anda kenal. Anda mungkin berpikir, apa yang mereka pikirkan hingga bisa memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dilansir dari everydayhealth, Senin (8/9/2014), berikut adalah 5 faktor pemicu meningkatnya risiko bunuh diri.

1. Gender

Perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencoba bunuh diri, namun pria memiliki keinginan lebih besar dan memutuskan dengan cepat ketika memilih bunuh diri. Bahkan rasionya empat kali lebih banyak pria daripada wanita yang mati karena bunuh diri.

2. Usia

Dulu pencegahan bunuh diri sebagian besar berpusat hanya pada orang tua dan usia muda. Namun dalam beberapa tahun terakhir, angka bunuh diri di kalangan paruh baya juga meningkat tajam, bahkan dikabarkan orang-orang antara usia 45-64 tahun memiliki peningkatan jumlah orang yang bunuh diri hingga tahun 2011.

3. Ras

Tanpa ada maksud rasis, ras memang menjadi faktor yang bisa meningkatkan risiko bunuh diri. Tingkat bunuh diri paling banyak adalah rasa kulit putih atau kaukasia. Ini mungkin disebabkan oleh gaya hidup dan beberapa faktor lainnya. Sedangkan yang paling rendah angka bunuh diri adalah ras orang Asia, Kepulauan Pasifik, Afrika-Amerika dan Hispanik. Namun fakta tersebut bisa saja berubah nantinya.

4. Masalah tidur

Jika Anda kurang tidur, otak tidak mendapatkan cukup istirahat sehingga bisa memicu amarah saat Anda sedang mengantuk. Hal ini bisa memicu stress yang kemudian berakumulasi dan menjadi depresi. Bahkan penelitian juga sudah membuktikan bahwa ada hubungan erat antara kualitas tidur yang buruk dengan depresi yang nantinya bisa memicu seseorang bunuh diri.

5. Masalah kesehatan kronis

Kesehatan di sini bisa kesehatan fisik maupun mental. Di antara banyaknya kasus bunuh diri, memang sebagian besar menderita penyakit mental atau gangguan mental termasuk depresi, gangguan makan bulimia nervosa dan anorexia nervosa, gangguan bipolar, skizofrenia, dan gangguan kecemasan seperti gangguan stres pasca trauma. Sedangkan untuk penyakit fisik kronis, orang dengan rheumatoid arthritis atau kanker juga memiliki peningkatan risiko untuk bunuh diri, yang sebenarnya juga berujung pada depresi karena penyakit tersebut. (tom)