Jangan dikira cerita tukang bubur naik haji hanya ada di sinetron, sebab di kehidupan nyata cerita seperti itu juga ada. Nama tukang buburnya Sariyah, warga Sukabumi, Jawa Barat yang akhirnya bisa berangkat haji setelah 24 tahun menabung.

Warga Desa Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas, itu mengaku telah mengumpulkan uang sejak tahun 1990, demi menyempurnakannya rukun Islam kelima, yakni ibadah haji ke Baitullah di Mekkah.

Sehari-hari Sariyah hidup dalam kesederhanaan. Namun kondisi itu tak membuat janda satu anak ini bergantung pada orang lain. Dia tekun beribadah, bersabar mengarungi hidup setelah suaminya meninggal beberapa puluh tahun silam. Agar bisa bertahan hidup, Sariyah bekerja berjualan bubur candil dan penganan lain sembari membulatkan niat dan keyakinan untuk bisa berhaji memenuhi perintah Allah.

“Penghasilan saya dulu ya waktu masih gendong ya sekitar Rp 5 ribu sehari. Kadang-kadang ya Rp 7 ribu. Sekarang ya udah pakai sepeda, jualannya macam-macam sekarang sampai Rp 30 ribu, untungnya kadang-kadang sampai Rp 20 ribu,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, seperti dilansir dari Merdeka, Jumat (12/9/2014).

Sehari-hari Sariyah yang kini menginjak usia 52 tahun, harus menyiapkan dagangannya sejak pagi hingga siang. Jelang pukul 13.00 WIB hingga menjelang maghrib ia berkeliling menjajakan dagangannya. Menggunakan sepeda tua ia menyambangi satu per satu desa yang ada di sekitar rumahnya. “Sekitar tiga desa saya berkeliling untuk menjajakan bubur candil dan beberapa penganan lainnya,” ucapnya.

Sampai saat ini, dia mengaku masih menjajakan bubur untuk menambah uang saku selama menunaikan ibadah haji. Sariyah, mengaku selama ini bekerja keras untuk menggapai cita-citanya menunaikan ibadah ke tanah suci. “Kalau memang sudah niat, mungkin Allah akan memberi rizki yang gampang, barokah. Mudah-mudahan saudara saya semua di seluruh Indonesia dipanggil oleh Allah (berhaji ke Mekkah) dengan hasil kerja keras sendiri,” ucapnya.

Kepala Dusun I tempat Sariyah tinggal, Slamet Mubarak mengatakan, warganya yang tinggal di RT 006/RW 03 no 6 ini dikenal sosok yang sederhana dan pekerja keras. Slamet sendiri mengaku, tidak percaya dengan perjuangan Sariyah yang luar biasa.

“Saya kira kisah tukang bubur naik haji hanya ada di sinetron. Tetapi ini, sungguh perjuangan yang luar biasa dari Ibu Sariyah. Saya sendiri salut dengan kemauan dan kerja keras yang dikumpulkan Ibu Sariyah selama ini,” ucapnya usai acara pelepasan jamaah calon haji. (tom)