Tempatnya mungkin persis di sisi rel kereta, atau menempel pada dinding gedung-gedung lama yang sudah tak dipedulikan penghuninya. Mungkin juga di pinggir jalan, antara stasiun dan terminal bis kota; berjejer dalam kios kecil-kecil beratap rendah, dengan barang-barang bekas yang saling bertumpuk berdesak-desakan.

Baju-baju lusuh, celana-celana lama tahun 80-an, sepatu-sepatu usang, pernik-pernik alat elektronik yang warnanya sudah kusam, tas-tas bekas yang sebagiannya merupakan tas promosi hingga ada identitas instansi tertulis pada sablonannya, para penjaga kios yang mayoritasnya juga sudah uzur, menyiratkan kesan betapa kios-kios loak ini terpencil dan ditinggalkan zaman.

Namun, kenyataannya tidak seperti kesan yang nampak.

Pasar loak sudah ada sejak zaman revolusi. Dari riwayat Asrul Sani (dalam buku Kumpulan Puisi â??Derai-derai Cemaraâ?) kita tahu kisah kegemaran penyair Chairil Anwar berkunjung ke pasar buku bekas di Kwitang. Di sana buku-buku orang Belanda, entah hasil jarahan atau buangan, bertumpuk-tumpuk dijual dengan harga terjangkau. Kegemaran Chairil, kita tahu, tentu saja buku-buku sastra.

Di kota Depok, sejumlah kios barang loak bisa ditemukan di sisi rel kereta api pasar lama Jalan Dewi Sartika. Di dekat stasiun Manggarai juga terdapat beberapa kios barang loak, kalau misalnya kita berjalan kaki dari stasiun menuju terminal. Melihat â??mutuâ? barang yang ditawarkan (yang sering bertahan berbulan-bulan di â??etalaseâ? tembus pandang): sepatu yang sudah saatnya dipensiunkan, tas-tas veteran yang sudah saatnya istirahat dari perjuangan, blender bekas yang kusam luar biasa,  baju-baju jaman dulu yang warnanya sudah bulai dan pudar, dipajang bergelantungan untuk ditawarkan kepada pembeli —tidak jauh dari Pasaraya Manggarai yang modern— terlintaslah di benak: siapakah yang bakal membeli barang-barang peninggalan zaman purbakala ini? Siapa pula para penjualnya? Dari mana mereka peroleh barang-barang dagangannya? Dan kenapa mereka masih bisa bertahan berdagang sambil duduk-duduk minum kopi, menghisap dan mengepulkan asap rokok dengan santainya.

Dalam nalar kita yang sederhana, kalau mereka mampu survive dalam bisnis ini, berarti memang telah terjadi sejumlah transaksi. Transaksi-transaksi itu cukup bisa membuat mereka bertahan. Makan, minum, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, entah kalau biaya-biaya di luar itu. Dan memang ada segmen masyarakat pembelinya. Entah itu kolektor, tukang reparasi barang pencari spare-part langka, orang-orang super miskin yang tidak mampu beli baju, kecuali baju-baju lusuh itu. Tidak mampu beli celana dan sepatu, kecuali celana dan sepatu butut itu.

Mereka adalah para pedagang yang akan menyalami anda keras-keras bila diberi baju-baju bekas yang anda sendiri sudah tidak berminat lagi memakainya. Mereka yang bungkuk-bungkuk mengucap terima kasih dengan senyum terlebar bila diberi secara cuma-cuma sepatu kulit yang sudah â??mengangaâ? ujungnya.

â??Masih bisa laku ini, Pak?â?

â??Masih! Masih! Makasih, Om!â?

Mereka juga yang akan menawar barang bekas anda dengan harga terendah, bila anda suatu saat coba-coba menjual â??barangâ? bekas ke kios loak itu.

â??Tabung gas tiga kilo begitu sering meledak, mas!â?

â??Mas enggak baca di koran, apa?â?

â??Coba kios sebelah sana, kalau laku!

Kalau kita mau bahas dari sisi kreatifitas, kios-kios loak itu akan menyodorkan suatu ambivalensi ke ujung hidung anda. Mau dibilang kreatif, bisa. Karena hanya orang-orang kreatif-lah yang bisa menemukan celah bisnis, dari produk-produk yang sebenarnya sudah uzur dan layak masuk kubur. Mereka punya barangnya, punya kiosnya, punya segmen pembelinya, dan  bisa survive. Ini wiraswasta murni kaum yang kalau tidak kreatif sekali, mungkin juga kepepet sekali, lantaran sudah tidak ada bidang pekerjaan lain.

Mau dibilang kuno, ketinggalan zaman, dan tidak kreatif juga bisa. Karena, dari sudut pandang mata pencaharian, usaha jualan barang bekas tidak masuk kategori food producing tidak juga food gathering. Anda tidak memproduksi barang, tidak juga memberi jasa. Anda hanya berdagang.

Berdagang bisa apa saja. Asal bukan barang haram, barang curian, atau narkoba. Tidak mesti barang-barang baru yang kinclong. Berdagang adalah ciri masyarakat berperadaban, tetapi peradaban macam apa yang membuat bisnis semacam ini tetap ada dan menyisa. Dari telisik sesaat saja, terhadap sosiologi sederhana pasar loak, sudah terbersit sejumlah keprihatinan.