Tak pernah ada yang menyangka hidup anaknya bisa berubah drastis setelah melakukan obrolan yang singkat dengan seorang penumpang yang berprofesi sebagai dokter ahli syaraf.

Irving Stern adalah seorang supir taksi di New York, sudah lama Ia menjalani profesinya itu untuk bisa menghidupi keluarganya. Walaupun gajinya hanya US$100 per pekan, tapi Ia bangga bisa menjadi seorang supir taksi.

Suatu ketika saat melintas dan mencari penumpang di York Avenue dan melewati New York Hospital, seorang berpakaian rapi memanggil taksinya dan meminta untuk diantarkan ke Bandara LaGuardia.

Selama dalam perjalanan, terjadi obrolan singkat antara Irving dan sang penumpang yang belum diketahui namanya tersebut. Sang penumpang bertanya, “Mengapa Anda menjadi seorang supir taksi?”

Sambil melihat kaca spion, Irving pun menjawab, “Jika ada pekerjaan yang bisa membayar saya lebih dari US$100 per minggu saya akan berhenti menjadi supir taksi.”

Irving pun kemudian bertanya balik kepada sang penumpang, “Memangnya pekerjaan Anda apa?”

“Saya ahli syaraf di New York Hospital,” jawab pria itu singkat. Setelah itu tidak ada obrolan lainnya lagi. Namun karena tidak enak lama-lama berdiam dengan penumpang, Irving pun memutuskan untuk memulai percakapan.

Dikutip dari andriewongso.com (Selasa, 23/9/2014), Irving pun bertanya seperti ini pada sang ahli syaraf, â??Boleh saya bertanya? Saya punya anak lelaki, prestasi belajarnya baik di sekolah. Saya tadinya mau mengirimkan dia ke acara perkemahan di liburan musim panas ini. Tapi ia maunya bekerja. Mana mungkin ia diterima magang, usianya saja baru 15 tahun. Kalau saja saya punya kenalan pengusaha, mungkin ia bisa mendapatkan pekerjaan magangnya selama libur. Sayangnya saya tak punyaâ?¦â?

Irving pun kemudian bertanya, barangkali sang dokter bisa membantu anaknya itu namun tidak dijawab.

Akhirnya Irving merasa menyesal hingga berhasil mengantarkan penumpangnya ke bandara dengan selamat. Tak ada percakapan lain setelah Irving bertanya tentang hal tersebut.

Saat hendak membayar sang dokter pun mengatakan bahwa ada proyek di New York Hospital dan bisa saja anaknya tersebut melamar dalam proyeknya. Kemudian sang dokter pun menuliskan namanya dalam selembar kertas makanan karena saat itu kartu namanya habis, dan meminta sang supir taksi menyerahkan rapor anaknya kepadanya di rumah sakit. Sang dokter menuliskan nama Fred Plum, N.Y. Hosp pada kertas tersebut.

Singkat cerita, dari percakapan singkat tersebut anaknya bisa diterima magang dan pada akhirnya Robert Stern sang anak bisa menjadi dokter karena bantuan penumpang di taksi ayahnya.(dea)