And amungkin masih ingat dengan sebuah kasus korupsi yang menyeret nama Gayus Tambunan, dan kemudian hal tersebut dijadikan sebuah lagu oleh Bona Paputungan. Lagu yang dibuat pada tahun 2011 itu ternyata menarik perhatian seorang praktisi hukum asal Jepang yang kebetulan pernah bertugas di Kedutaan Jepang.

“Sozaburo Mitamayama (Kawata) dari Universitas Kobe tertarik dengan lagu ‘Gayus’. Apalagi lagu tersebut sempat masuk NHK (acara berita Jepang) dan media-media setempat mengenai bobroknya negara ini dengan korupsi,” kata Bona seperti dilansir dari Kapanlagi, Kamis (2/10/2014). Dalam kesempatan tersebut Bona juga sekaligus merilis albumnya yang berjudul “Koruptor Koruptor Kakap”, dimana salah satu lagunya adalah “Gayus” versi Jepang.

Dengan persetujuan Bona, akhirnya lagu “Gayus” tersebut diubah liriknya ke dalam bahasa Jepang dan mendapat respon positif oleh penikmat musik negeri Sakura tersebut. Dengan lagu tentang koruptor tersebut sudah go international, apakah tidak membuat para koruptor di Indonesia ini malu?

“Jadi lagunya ditranslate ke bahasa Jepang, Moshimo Bokuga Ima Gayusuu dan diterima di sana. Untuk musiknya, dimasukkan etnik keroncong agar mencerminkan musik negara ini. Untuk video klip akan dibuat di Jepang namun hanya persoalan waktu aja,” lanjutnya.

Tentang tema dalam karya yang selalu berkaitan dengan kritik politik, Bona mengakui keprihatinan dirinya terhadap situasi politik di Indonesia saat ini bisa menjadi pemacu untuk terus menyuarakan lagu kritik sosial atau politik. “Saya konsisten tetap menyuarakan lagu kritik politik. Kalau soal rezeki, sudah diatur Tuhan. Karena itu karya ini bisa didengar masyarakat, bahkan saya harap sampai ke para koruptor-koruptor,” tegasnya.

Album “Koruptor Koruptor Kakap” ini diproduksi oleh Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera. Bona mengajak seniman Digo DZ dan Hardjuno Wiwoho dalam beberapa lagu. Dalam album yang diproduseri oleh Sasmito Hadinagoro itu terdapat lagu “Jerat Hutang Abadi”, “Gayus”, “Masih Korupsi”, “Trio Big Fish”, “Markus”, “Tangisan Rakyat”, “Cahaya Laskar Sondang”, “Kartini Menangis”, “Tuan-Tuan”, “Kicauan Si Udin” dan “Moshimo Bokuga Ima Gayusuu”. (tom)