Indonesia suka yang murah-murah? Hm, apa jawaban Anda? Mungkin serba salah. Karena kalau dijawab ‘tidak’ demi gengsi, pada kenyataannya sebagian besar masyarakat Indonesia memang suka membeli barang murah, tak peduli itu barang bajakan ataupun barang Cina yang bisa menggilas pasar lokal.

Lalu bagaimana dengan kalangan atas yang sudah terjangkit pola hidup jetset-nya? Kebalikannya, mereka justru sangat cinta dengan segala barang bermerk mahal. Tak sedikit juga yang akhirnya menjadi apatis dengan nasib perekonomian dan pasar Indonesia.

Kalau dilihat dari perkembangan jaman sekarang ini, sifat konsumtif warga Indonesia seperti sedang dipupuk untuk lebih menggila dari masa ke masa. Dan kegilaan belanja ini tidak hanya menjangkiti para kaum berduit, namun juga para pegawai yang bergaji pas-pasan dan bahkan pelajar. Kalau kita menengok ke pusat perbelanjaan yang jumlahnya makin banyak di Jakarta dan sekitarnya, bisakah kita dengan mudah menebak barang  keluaran apa yang dijual? Pasti.

Tapi kalau cari produk asli Indonesia, tentu sulit. Karena terlalu banyak barang sandang yang bermerk Cina dan tentunya dengan harga yang sangat miring. Jangan tanya masalah kualitas, karena kalau kantong tipis yang bicara dan nafsu belanja yang sudah mendesak, maka kualitas tak akan diperhitungkan lagi. Yang penting beli dan punya. Lagipula, produk sandang buatan Indonesia pun tak jarang setara dengan kualitas produk cina namun dengan harga yang tinggi.

Tapi tidak hanya kebutuhan sandang saja. Coba lihat banyaknya tukang VCD/DVD bajakan yang memenuhi trotoar bahkan mall. Mereka tidak pernah sepi pembeli dan kualitas kepingannya pun cukup bersaing dengan yang asli. Meskipun barang bajakan, namun pembeli bisa dengan santai dan mudah mendapatkannya.

Tentu saja ini buruk untuk mental penerus bangsa yang jadi terbiasa membeli barang ilegal dan tanpa ada sangsi apapun. Begitu juga dengan elektronik dan gadget Cina yang makin menguasai pasar Indonesia. Lagi-lagi jangan tanya masalah kualitas, karena meskipun kualitas bawah toh mereka tetap laris dibeli. Alasannya tidak jauh dari kepingin beken tapi tipis kantong.

Beda lagi dengan warga kalangan atas Indonesia yang dengan santainya menggesek kartu kredit di mall demi mendapatkan barang-barang bernilai jutaan rupiah. Ketika termanjakan dengan limpahan uang, mereka jadi tak punya kontrol diri dalam berbelanja. Berapapun harganya, kalau sudah terlanjur suka, ya dibeli. Hal ini juga diungkapkan dalam buku Amelia Masniari berjudul Miss Jinjing yang mengungkap pola hidup kalangan atas yang selalu haus belanja.

Tidak hanya belanja di mall Indonesia, tapi mereka juga tidak ragu untuk terbang ke Singapura, Hongkong, Korea, Itali, AS, hanya untuk mendapatkan tas-tas idaman mereka di butik. Harga 10 sampai 50 juta untuk sebuah tas jinjing bukanlah hal aneh walau mungkin banyak orang yang menganga kaget melihat nominalnya. Belum lagi urusan salon, perawatan kulit, otomotif, gadget, dan konsumsi tersier lainnya dengan harga yang juga kelewat tinggi. Apatisme menjadi hal yang biasa dan lama-lama menjadi budaya tambahan di Indonesia.

Penduduk Indonesia memang terkenal sebagai konsumen paling aktif di Asia. Rasa gengsi akibat tuntutan lingkungan, penyakit sophaholic, dan didikan yang kurang mengenai kebijakan berbelanja menjadi beberapa faktor utamanya. Butik dan mall di Singapura, Korea, Itali, Hongkong, Australia, dan AS pun memiliki daftar pembeli tetap yang sebagian besarnya adalah penduduk Indonesia.

Konsumen Indonesia punya kebiasaan memborong barang-barang edisi terbaru, tak berniat menawar, dan kembali lagi kalau puas dengan pelayanannya. Hal ini yang dimanfaatkan oleh butik-butik luar negeri untuk selalu mengajak konsumen Indonesia mampir lagi. Itu karena uang konsumen Indonesia banyak memakmurkan brand luar negeri.

Kalau dilihat dari sini, maka tak heran kalau banyak produsen lokal yang merana. Barang-barang lokal tak pernah menjadi nomor satu di luar negeri, dan bahkan di negeri sendiri. Memang perlu diakui kalau produk lokal punya banyak kelemahan dibanding produk impor. Belum lagi, produsen Indonesia jarang memasang harga yang lebih murah melainkan lebih tinggi, alasannya karena pungutan distributor yang tinggi dan kelangkaan/mahalnya bahan baku. Tentu saja konsumen kabur.

Karena produk lokal tidak dapat memuaskan hasrat belanja, maka mencomot barang impor menjadi pilihan. Apalagi sebagian besar penduduk Indonesiaâ??dari kalangan bawah hingga atasâ??terbukti memiliki penyakit mental untuk terus menerus belanja meski tidak membutuhkan barang tersebut. Dan tidak ada penanganan yang serius dari didikan di lembaga pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari juga memperparah mental konsumen Indonesia.

Mungkin Anda juga memiliki hasrat belanja yang serupa, namun bisakah Anda berubah menjadi lebih bijak dalam memilih barang dan mengelola uang Anda? Dan, penerapan ekonomi macam apa yang akan Anda turunkan kepada anak cucu Anda?