Sungguh malang nasib Elang (10). Ceritanya sungguh menyedihkan bak sinetron. Bocah SD Yasporbi III Pasar Minggu Jakarta Selatan ini nekat berhenti sekolah karena memilih menemani ibunya di rumah. Ibunya diketahui sudah divonis kanker dan tak ada yang merawat kecuali Elang.

Namun beban Elang tak cuma itu saja. Dia dan ibunya sudah ditinggal pergi oleh ayahnya entah ke mana. Alhasil Elang tak tega untuk meninggalkan ibunya sendiri walau sehari saja.

Ibu Elang diketahui terkena kanker serviks stadium 4. Elang dan ibunya ini juga dikabarkan selalu dibantu para tetangganya untuk mencukupi kebutuhan pangan.

“Iya benar,” kata Kepala Sekolah SD Yasporbi III, Sukamto, seperti dilansir dari Merdeka, Kamis (16/10/2014). Menurut Sukamto, Elang sendiri sebenarnya sudah lama tak mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hanya saja, sesuai kebijakan yayasan, Elang masih tercatat sebagai murid sekolah.

“Yang jelas dari April sampai Juli itu sudah nggak masuk. Karna Elang ini takut meninggalkan ibunya,” katanya.

Semenjak Elang berhenti sekolah dan merawat ibunya di rumah, dikabarkan Elang dan ibunya selama ini selalu mendapatkan bantuan dari para tetangganya.

Ada pula pesan yang sudah tersebar melalui jejaring sosial dan broadcast message via handphone. Dalam pesan itu juga meminta bantuan dana melalui rekening bank untuk menambah biaya hidup dan pengobatan ibu Elang.

Kepergian ayah Elang diduga selingkuh dengan pembantunya. “Bapaknya pergi sama pembantunya,” kata Sukamto. Dari informasi yang didapat Kamto, sejak bulan Juli lalu, kepala keluarga itu meninggalkan istri dan anaknya. Namun dia enggan mengetahui latar belakang urusan keluarga kecil itu. “Kejadiannya sih belum lama,” katanya.

Ayah Elang kabur bersama pembantunya bersama satu orang anak. Diduga anak yang dibawa itu hasil perselingkuhan dengan pembantunya. Ibu Elang enggan berkomentar saat ditemui awak media. Sang ibu tak mau urusan pribadinya terekspos orang banyak.

“Ibunya sih bilang begitu, soalnya enggak mau perkembangan anaknya jadi terganggu. Cuma kalau yang mau ngasih bantuan langsung aja ke rumahnya,” kata Sukamto.

Elang sendiri dikenal sebagai murid yang pintar di sekolahnya. “Pintar dia anaknya,” kata sang kepala sekolah. Menurut Kamto, hal itu terlihat dari beberapa nilai mata pelajaran Elang yang rata-rata mendapat nilai tujuh. Bocah sepuluh tahun itu juga diketahui memiliki banyak teman. “Di atas rata-ratalah (nilainya),” ungkapnya.

Selain itu, dari pengakuan para guru dan rekan kelasnya, Elang dikenal sangat pintar dan menyukai mata pelajaran komputer. Elang juga dikenal sangat suka game online. “Dia sukanya itu tuh, apa? Game online,” kata dia.

Kunjungan kemudian dilakukan untuk mengecek kondisi ibu Elang. “Saya sudah perintahkan agar besok dokter dan perawat segera mengecek ke kediaman Elang,” kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emmawati.

Dien menjelaskan, pada pemeriksaan tahap awal akan dilihat kondisi pasien apakah masih bisa dirawat di rumah atau harus dibawa ke rumah sakit. Karena menurut Dien, penderita kanker yang penyakitnya telah mencapai stadium 4 lebih baik apabila dirawat di rumah.

“Karena penyakit kanker khususnya stadium 4 lebih berbahagia jika berada di tengah keluarga. Tetapi kalau hanya dirawat oleh anaknya, ya kami bawa ke rumah sakit. Intinya kita lihat keadaan rumahnya juga,” kata Dien.

Selain akan mengecek keadaan pasien dan kondisi rumahnya, Dien menyatakan bahwa petugas nantinya juga akan melihat identitas kependudukan pasien. Menurut Dien, apabila ibu Elang berstatus sebagai warga DKI Jakarta, maka Dinas Kesehatan siap menangggung seluruh biaya perawatannya.

“Pada prinsipnya kalau dia warga Jakarta, apalagi tengah mengidap kanker, akan kami galakkan untuk penanganan. Kami support dalam hal pelayanan. Penanganannya akan disesuaikan dengan diagnosa,” ucap Dien. (tom)