Beberapa waktu silam, kelompok radikal Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) resmi menyebarluaskan foto sesosok perempuan yang terpenggal. Pihak ISIS mengklaim bahwa gadis itu bernama Rehana. Akan tetapi, jurnalis Kurdi Pawan Durani dengan tegas membantah pernyataan yang dilontarkan oleh ISIS.

“Rehana masih hidup. ISIS hanya ingin meningkatkan moral pejuangnya. Propaganda dan kepalsuan adalah ciri khas ISIS. Rehana masih terus memburu mereka,” tulis dia dalam laporannya, seperti dilansir Mirror.co.uk, Rabu (29/10/2014).

Kabarnya, Rehana berhasil menyelamatkan diri dari cengkraman ISIS. Itulah sebabnya alasan ia masih bertahan hidup hingga kini. Salah satu rekan Rehana yang tak mau disebutkan namanya pun membenarkan kabar itu.

Ia menyebut foto yang dipublikasikan ISIS sangat berbeda dengan bentuk wajah Rehana. Rekan Rehana itu mengatakan, wanita di dalam foto itu adalah pejuang wanita Kurdi lainnya.

Saat ini, Rehana diklaim tinggal di bagian selatan Turki. “Dia teman saya dan saya bisa pastikan bahwa dia masih hidup. Foto pejuang wanita yang dipenggal bukan foto Rehana,” ujar sang wanita misterius itu

Bahkan, ia sempat melihat Rehana meninggalkan kota Kobani saat terjadi peperangan di sana pekan lalu. Namun, dirinya dan Rehana saat ini kehilangan kontak lantaran menjalani perjalanan terpisah.

“Dia saat ini berada di Turki. Saya akan mencoba untuk memperoleh nomor teleponnya, karena saya telah kehilangan kontak. Dia berhasil dievakuasi dari Kobani dan saya masih tinggal di sana saat itu. Di awal pertempuran di Kobani, Rehana telah pergi,” lanjutnya.

Ternyata, ada pula teman lain yang membenarkan bahwa Rehana masih tetap hidup. “Bentuk wajah [yang ada di foto itu] bukan dia,” sambung rekan yang tak mau memberi tahu identitasnya.

Nama Rehana menjadi terkenal lantaran ia menjadi pejuang perempuan dalam pasukan Kurdi di Suriah. Menurut kabar yang berhembus, Rehana dituding telah membunuh lebih dari 100 militan ISIS dalam pertempuran berdarah di Kobani, kota di perbatasan Suriah dan Turki. Namun, rumor itu langsung dibantah oleh jurnalis bernama Abdel Qader.

(nha)