Dengan pembangunan yang sudah semakin pesatâ??terutama di ibukota, lalu kesibukan yang tinggi di dunia perkantoran, dan menipisnya sifat kuno masyarakat, membuat pernikahan dini tak sebegitu sering terdengar di kalangan masyarakat dibandingkan dengan jaman kakek nenek kita.

Dahulu perjodohan sudah biasa, namun sekarang sudah banyak pemuda pemudi yang lebih mengejar karir ketimbang pernikahan. Meskipun begitu, angka kehamilan dini tidaklah surut sebagaimana pernikahan dini, malah cenderung meningkat. Kehamilan dini seringkali ditemukan di daerah pedesaaan yang kulturnya masih sangat kental. Tapi, bukan berarti wilayah lain tidak.

Kecenderungan warga yang berlatar pendidikan rendah yang akrab terhadap pernikahan dini memicu banyaknya gadis belia yang melahirkan di bawah umur. Pandangan sosial yang salah dan dipertahankan dari generasi ke generasi membuat penyuluhan akan bahayanya menikah di bawah umur menjadi tidak efektif.

Masih banyak rumah tangga di Indonesia yang menikahkan anak perempuannya di umur belasan tahun, bahkan dari sejak 8 tahun. Menstruasi sering dijadikan patokan untuk menjodohkan anak perempuan dengan laki-laki yang telah matang dengan umur yang terpaut sangat jauh. Padahal, menstruasi bukan patokan kesiapan seorang perempuan untuk menjalani hidup berumah tangga apalagi melahirkan anak.

Memang, umur tiap anak gadis dalam mendapatkan menstruasinya berbeda-beda, terutama jika dibandingkan antara jaman sekarang dengan gadis-gadis berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kalau dulu menstruasi pertama seringnya didapatkan di umur 13-17 tahun, sekarang anak-anak perempuan banyak yang mendapatkannya mulai dari umur 8 tahun. Hal ini tidak lepas dari konsumsi sang anak yang telah berbeda jauh dengan anak di puluhan tahun lalu.

Kalau dulu anak-anak belum terlalu cepat mengerti tentang istilah dan kegiatan seksual dan asupan makanannya pun lebih sehat dan lengkap. Kalau sekarang anak-anak sudah terpengaruh kecanggihan teknologi yang membuat mereka dapat menyerap berbagai informasi dengan sangat mudah walaupun itu belum waktunya. Asupan pun menjadi berbeda, sekarang ini anak-anak lebih sering mengkonsumsi daging-daging olahan dan cepat saji yang sangat mempengaruhi perkembangan hormonnya.

Makin cepat tanda-tanda akil balig muncul pada anak perempuan, maka makin cepat pula mereka dinikahkan oleh orangtua mereka yang masih memegang teguh norma adat. Banyak adat desa yang beranggapan bahwa anak perempuan harus sesegera mungkin dinikahkan, jika tidak akan menimbulkan aib atau rasa malu, dan lagi tak ada lelaki yang menginginkan anak perempuan diatas umur 17 tahun.

Alhasil banyak gadis desa yang menikah dan hamil di usia dini. Dan resiko keselamatan sang ibu dan anak tentunya sangat besar, apalagi kalau melahirkannya berkali-kali dan dalam jarak waktu yang dekat.

Selain dari pernikahan dini yang masih menjadi budaya di beberapa daerah, pemerkosaan dan keingintahuan yang begitu besar pun menjadi pemicu kehamilan dini. Keingintahuan yang besar akan kegiatan seks dapat membuat anak muda tergiur untuk mencoba-coba, terhasut oleh pergaulan, dan akhirnya mengalami kehamilan dini.

Dan kasus lainnya adalah pemerkosaan anak dibawah umur yang berujung pada kehamilan. Hanya ada dua jalan yang nantinya ditempuh sang ibu. Melahirkannya atau aborsi, dan sudah pasti keduanya memiliki resiko yang besar mengingat umur yang belia tidak bisa menjamin keselamatan fisik dan mental sang ibu. Alhasil, jumlah kematian ibu belia yang melahirkan pun terus meningkat.

Selain resiko kematian yang tinggi, biasanya anak-anak perempuan pada usia muda masih belum dapat menerima tanggung jawab besar dalam memelihara sebuah nyawa. Ia akan mengalami serangan psikis yang berat dan berlangsung lama hingga secara sadar tak sadar akan mempengaruhi pertumbuhan bayinya juga.

Selain tantangan psikis dan kematian, kanker dan berbagai penyakit pun dapat menghantui. Contohnya kanker serviks dan dinding rahim yang rusak akibat sistem reproduksi yang belum terlalu matang.

Begitu banyaknya resiko bagi seorang ibu muda dalam melahirkan membuat Pemerintah melakukan penyuluhan mengenai ruginya melahirkan dini. Namun sayang, belum semua penduduk Indonesia terjamah penyuluhan tersebut dan masih hidup di dalam kultur yang ketat mengenai pernikahan dan perolehan keturunan.

Padahal banyak perempuan-perempuan muda Indonesia yang butuh pendidikan sampai setinggi-tingginya untuk berkarya daripada sekedar membangun rumah tangga di usia belasan sambil mengurus banyak anak. Siklus ini akan terus awet dari generasi ke generasi jika penyuluhan tak merata dan kekerasan seksual maupun keingintahuan yang tak terbentengi masih terus berkembang di masyarakat.