Aneh-aneh saja ulah sebuah toko di negeri tirai bambu, Tiongkok. Sebuah toko busana di Ibu Kota Beijing, Tiongkok bikin sebel warga Negeri Tirai Bambu itu. Mereka melarang masuk seluruh konsumen warga Tionghoa lantaran kelakuannya dinilai menganggu.

Dilansir dari Daily Mail, Senin (8/12/2014), toko ini memasang tanda yang bertuliskan “Warga Tionghoa tidak diakui, kecuali untuk staff”. Warga menganggap tanda tersebut merupakan bagian dari rasis. Namun, Satu pegawai di toko di Jalan Yabaolu, wilayah belanja paling tersohor se-Beijing mengatakan konsumen Tionghoa terutama perempuan sering mencoba seluruh pakaian namun mereka akhirnya tidak jadi beli apa pun, dan hal itu dianggap ‘terlalu mengganggu’.

Hal ini dibuktikan oleh jurnalis Tiongkok yang bekerja untuk Beijing Youth Daily. Saat hendak masuk ke toko dia langsung dicegah pramuniaga toko yang mengatakan kalau mereka tidak menjual baju pada warga Tionghoa dengan alasan bajunya takut ditiru.

Tak hanya itu, tanda itu juga ditaruh lantaran ada turis yang kehilangan dompet dan toko itu wajib membayar ganti rugi. “Kami tidak bermaksud mengucilkan bangsa kami namun mereka sering bertindak kelewatan,” ujar pegawai toko itu.

Beberapa staff mengatakan bahwa larangan itu sebenarnya untuk mencegah pesaing meniru desain pakaian dari toko mereka. Sementara, seorang pakar hukum Profesor Li Xiandong dari Universitas Ilmu dan Pengetahuan Politik Tiongkok mengatakan bahwa larangan itu termasuk diskriminasi. Namun, pemilik toko dianggap tidak melanggar hukum karena larangan itu bukanlah diskriminasi rasial.

Terkait pelarangan warga Tionghoa masuk ke toko ini, banyak yang menuntut melalui situs Weibo yang merupakan Twitter versi Tiongkok agar toko tersebut ditutup. Namun karena tidak melanggar hukum, maka toko itu masih bisa beroperasi hingga sekarang. (tom)