Seringkali laki-laki zaman sekarang berpendapat sepihak bahwa perempuan hanya mementingkan masalah duniawi. Konon, jika perempuan disuruh memilih cowok yang pulang-pergi naik angkot atau memiliki mobil sendiri, perempuan akan memilih yang terakhir. Masalahnya, benarkah pendapat ini?

Jika ditelusuri lebih jauh, laki-laki yang berpikiran semua cewek matre, sebenarnya kurang berpengalaman atau mungkin hidupnya kurang beruntung. Nyatanya, masih banyak perempuan yang berasal dari keluarga yang cukup mapan, mau menikah dengan pemuda biasa yang mau bekerja keras. Banyak contoh perempuan yang rela ngedate hanya di warung atau malah hanya di sekolah (kampus). Banyak pula perempuan yang mau pergi naik angkot asal bisa bersama kekasih. Faktor kenyamanan adalah kata kuncinya.

Bagi perempuan yang benar-benar perempuan, harta atau kepentingan duniawi adalah masalah kedua. Mereka akan memilih seseorang yang tulus dan tampil apa adanya. Lelaki yang tulus tidak akan meninggalkan perempuan kala lelaki tersebut telah mapan. Sebaliknya, lelaki mapan, meskipun sekilas menggiurkan, mungkin saja berpaling ke lain hati kala cinta sang perempuan sudah terpaku kepadanya saja.

Perempuan cenderung lebih lama dalam memutuskan untuk mencintai seseorang. Maka, dalam melupakan orang tersebut, perempuan juga membutuhkan waktu yang lebih lama pula. Wajar dalam proses mencintai tersebut, perempuan membutuhkan banyak bukti bahwa lelaki pilihannya benar-benar mencintainya. Jika salah satu bukti kepedulian dan perhatian sang lelaki kadang dibuktikan melalui materi (meski kebanyakan tidak), tentu hal ini tidak lebih daripada sekadar ujian dari perempuan tersebut. Sebaliknya, lelaki yang belum apa-apa sudah mengeluh ini dan itu, bagi perempuan, tidak akan berniat serius untuk membina hubungan lebih jauh.

Lelaki yang kuat ujian, yang terus mencintai sang perempuan, entah melalui ujian yang disengaja atau tidak, niscaya akan memiliki ketangguhan pula dalam menjalani hidup. Pada titik inilah perempuan akan meyakini bahwa pilihannya tepat. Kala saat itu tiba, perempuan bisa mengorbankan segala hal. Atas dasar inilah kadang-kadang perempuan, bahkan rela memberikan hal-hal yang paling berharga kepada kekasihnya. Tentu keterlaluan sekali jika seorang lelaki tidak mau mengetahui hal ini dan justru memanfaatkan kepolosan dan ketulusan hati perempuan yang hatinya sudah terikat kepada sang lelaki.

Tidak ada yang bisa mengalahkan cinta seorang perempuan. Kala ia sudah menetapkan hati pada seorang pria, halangan seberat apa pun, entah ketidaksukaan sahabat, keengganan orang tua, status sosial yang jomplang, pekerjaan yang timpang, akan dilenyapkan. Perempuan bisa saja terlihat mudah didekati oleh banyak lelaki. Namun, kala cinta telah menetap, perempuan bisa mengunci hati sepenuhnya pada seorang lelaki saja; hal yang sangat sulit dilakukan oleh lelaki. Kesetiaan seorang perempuan bahkan bisa bertahan kekal ketika lelaki yang dicintainya meninggalkan hidupnya. Bisa dihitung, berapa banyak lelaki yang menikah lagi setelah istrinya meninggal dan berapa banyak perempuan yang lebih memilih menjanda daripada memulai hubungan baru dalam hidupnya.

Maka, seorang lelaki yang berkata bahwa perempuan hanya memandang harta semata, tidak mau diajak susah, atau mengira seorang perempuan akan memilih pria mapan, lelaki ini belum benar-benar bertemu dengan perempuan yang sesungguhnya. Lelaki ini belum pernah mengenal betapa dahsyatnya cinta seorang perempuan. Di sisi lain, jika lelaki sudah menemukan seorang perempuan yang begitu peduli padanya, begitu mau mengikuti kemana pun sang lelaki melangkah, alangkah malangnya jika lelaki tersebut gagal memberikan cinta yang setimpal dengan pengorbanan seorang perempuan. Ada sebuah pepatah, â??perempuan mungkin bisa tertawa di depan beberapa lelaki. Namun, perempuan hanya bisa menangis di depan seorang lelaki yang dicintainya.â?