Seorang Lelaki Memang Mesti Mengorbankan Hidupnya

164

Seringkali kita mendengar bahwa lelaki jarang menepati janji; apalagi setia. Lelaki seperti ditakdirkan untuk senantiasa “berburu” karena dominasi sifat aktifnya. Lelaki juga dikenal sebagai pribadi egois yang tidak akan berkorban. Menarik jika kita bandingkan anggapan ini dengan dua dongeng klasik. Yang pertama, Adapa dari Mesir, dan yang kedua, Adam, yang kisahnya diteruskan turun-temurun sejak umat Yahudi hingga umat Islam dengan berbagai variasi. Kedua cerita ini mungkin akan mengubah pandangan kita tentang apa yang seharusnya dikerjakan oleh para lelaki.

Adapa dan Roti Hidup Abadi

Alkisah, Adapa adalah seorang pelindung kota. Ia mengabdi dengan sangat patuh pada Enki, dewa Mesir. Suatu ketika, ia berangkat memancing demi menghidupi seluruh warga kotanya. Akan tetapi, naas. Angin selatan yang digambarkan seperti burung, bersayap, bertiup sangat kencang; nyaris membalikkan sampannya. Tak terima dengan perlakuan sang angin, Adapa bergegas mematahkan sayap angin selatan. Efeknya luar biasa, angin selatan tak bisa bertiup hingga beberapa hari.

Mengetahui angin selatan tak bertiup, An, sang dewa tertinggi bertanya siapa pelakunya. Semua dewa menunjuk Adapa, yang berkhidmad di kota tempat semua penduduknya menyembah Enki. Bukannya hendak menghukum Adapa, An justru kagum dengan kemampuannya yang setara dewa. Oleh karena itu, An mengundang Adapa untuk menghadap ke surga, menerima hadiah istimewa.

Sebelum berangkat, Adapa bertemu dengan tuannya, Enki. Di sinilah Adapa menerima wejangan dari Enki agar menolak apa pun yang dihadiahkan para dewa. Adapa memegang janji tersebut. Ia berangkat tanpa pengharapan apapun. Tibalah Adapa di pintu gerbang An, berhadapan dengan Dumuzi dan Gizzida, dua penjaga gerbang tersebut.

Mereka merayu Adapa untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati, termasuk memakan roti yang akan membuatnya hidup abadi. Sebenarnya, jika Adapa hanya mementingkan diri sendiri, ia akan menerima roti tersebut. Adalah sebuah penghargaan besar bagi manusia seperti dirinya untuk menjadi salah satu dewa. Ia juga tidak perlu lagi melewati kematian. Akan tetapi, Adapa menolaknya. Janji adalah janji. Ia memilih setia kepada Enki, meninggalkan Dumuzi dan Gizzida yang tidak percaya ada orang “setolol” Adapa.

Adam dan Buah Khuldi

Berbeda dengan Adapa yang menolak roti hidup abadi, Adam justru memakan buah khuldi yang menurut iblis akan membuatnya hidup abadi. Iblis berkata, “Hai Adam, maukah jika kutunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Q.S. 20:121). Adam terbujuk rayuan iblis tersebut. Dalam sekejap, hidup Adam berubah setelah memakan buah terlarang itu. Bukannya hidup kekal, Adam justru diturunkan dari surga oleh Allah.

Kita bisa saja menyebut bahwa Adam tolol atau tengah khilaf karena lalai terhadap bujukan Iblis. Tapi, jika kita mau menggali lebih dalam, kita bisa belajar harga kesetiaan dari turunnya Adam.  Kita mengenal tafsir dalam Kitab Tawasin karya Husain bin Masnhur Al-Hallaj bahwa Iblis menolak tunduk pada Adam karena setia kepada Allah. Menurut Iblis, hanya Allah yang layak disembah. Namun, jika Iblis mengaku setia kepada Tuhan hanya karena masalah tunduk dan tidak tunduk, kesetiaan Adam jauh lebih baik daripada hal semacam itu.

Iblis dikeluarkan dari surga karena kelakuannya menggoda Adam. Akan tetapi, Iblis masih sempat berdalih untuk meminta tangguh hingga tiba hari kiamat. Ia bahkan bersumpah akan menyesatkan keturunan Adam demi kekuasaan-Nya (Q.S. 38:82). Apa yang bisa kita petik? Semua makhluk terjebak pada keakuan. Semua makhluk akan menyalahkan yang lain jika menerima kerugian. Yang lebih fatal, Iblis bahkan berdalih dengan bersumpah demi kekuasaan Allah.

Coba kita bandingkan kelakuan iblis ini dengan Adam. Ketika diturunkan dari surga, Adam tidak meminta apapun. Adam mencukupkan kesalahan pada dirinya sendiri. Tidak juga ia berbalik menyalahkan Iblis. Kita bisa melihat doa Adam yang begitu tulus, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. 7:23).

Kesetiaan yang lebih hakiki terlihat ketika seseorang mau menerima apa pun keputusan kekasihnya. Iblis tidak berbuat demikian. Ketika ia diminta tunduk pada Adam, ia menentang. Ketika ia diusir dari surga, ia berbalik mengancam Adam. Akan tetapi, Adam bahkan tak peduli lagi bahwa ia bisa saja mengaku bahwa iblislah yang membujuknya memakan buah khuldi. Kesetiaan Adam bahkan bisa disebut sebagai kesetiaan orang yang mau menampung derita orang lain dan masih mempertahankan cintanya kepada orang tersebut.

Pertanyaan untuk Laki-Laki

Jika kita boleh bertanya, di manakah kesetiaan yang dikisahkan dalam dongeng-dongeng di atas? Kesetiaan yang membuat Adapa tidak memakan roti hidup abadi. Kesetiaan yang membuat Adam berani turun dari surga, melepas segala kenikmatan tanpa perlu menyalahkan pihak lain. Kesetiaan yang membuat Muhammad bersendiri dengan Allah dan tiada makhluk lain yang mampu menjangkaunya.

Saat ini, segalanya sedang terselimuti keakuan. Laki-laki (dan perempuan) hanya mau berkorban kalau sudah menemukan jatah yang pasti. Saat ini, Iblis muncul dalam berbagai rupa yang melegakan dahaga sesaat, yaitu rasa kepemilikan dan tidak mau berkorban. Umat beragama secara gegabah hanya menganggap iblis sebagai makhluk bertanduk yang menyesatkan, padahal semua rasa kepemilikan dan keakuan akhirnya bermuara pada tingkah laku iblis.  Ya, segala bentuk keakuan, kebanggaan, kebebalan, dan kehausan untuk menang dikategorikan sebagai Iblis. Dia tidak bertanduk atau bertaring. Dia ada di dalam setiap perjalanan hidup. Dia mesti ditekan agar tak bisa menggoda. Dia mesti ditekan agar kita tak mabuk kemenangan.

Kita bisa melihat Adapa dan Adam yang rela berkorban; merelakan hidupnya. Adapa membuang hidup abadinya, Adam tak mengeluh ketika diturunkan ke dunia fana. Melihat keduanya yang sama-sama lelaki, bolehlah kita menyebut bahwa laki-laki memang harus mati, harus berkorban demi keluarganya. Jika kita menolak berbuat demikian, bukankah kita adalah anak-cucu Adam? Kita melanggar kodrat kita sendiri untuk “mati.” Sebuah kutipan mungkin akan membuka cakrawala pandangan kita, “Jika seorang suami tidak bahagia dalam rumah tangganya, hal tersebut sama sekali bukan tanggung-jawab istrinya. Sebaliknya, kebahagiaan istri dan anak adalah tanggung-jawab mutlak sang suami.”