Tak banyak orang yang memilih jalan hidupnya sebagai seorang motivator. Namun tidak demikian halnya dengan pemuda asal Aceh yang satu ini. Selain menjadi motivator, dirinya juga menjadi direktur utama sebuah lembaga pendidikan di Aceh. Seperti apa kisahnya sebelum dirinya sesukses sekarang? Berikut kisahnya seperti dilansir dari MotivatorIndonesianet, Kamis (18/12/2014).

Pemuda asal Aceh bernama Azza Aprisaufa itu lahir pada tanggal 20 April 1990. Dilahirkan dari keluarga sederhana, telah memaksanya belajar untuk bisa hidup mandiri dan berani. Dibesarkan di Takengon, Aceh Tengah sejak TK hingga SMA, Azza selalu memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya. Sadar bahwa sebagai anak sulung dan tumbuh di keluarga yang sederhana, membuatnya selalu ingin jadi yang terbaik, apapun resikonya.

Azza adalah anak seorang pelukis jalanan, dimana ayahnya bekerja sebagai pelukis lepas. Tibalah suatu hari tepatnya ditahun 2001, disaat Azza masih duduk dibangku kelas 5 SD. Azza diminta untuk membantu ayahnya berjualan lukisan keliling di Banda Aceh. Azza telah puluhan kilometer berjalan, menemani ayahnya menjual lukisan, dan mengetuk pintu ke pintu setiap rumah berharap ada yang iba dan membeli lukisan ayahnya. Dan ternyata Tuhan belum mengirimkan orang baik itu, hingga Azza pun dan ayahnya harus rela pulang dengan rezeki dan perut kosong.

Setiap harinya Azza dan ayah mulai jalan dan berjualan dari pagi pukul 09.00 hingga menjelang Maghrib. Masih segar sekali dalam ingatan, ketika itu tanggal 23 Juli 2001. Saat menjelang Ashar, Azza dan ayahnya hendak pulang kerumah, karena sudah terlalu lelah berjalan. Saat ingin pulang, tiba tiba mereka bertemu dan berpapasan dengan seorang ibu paruh baya di jalan. Ibu itu kemudian meminta ayah Azza untuk melukis dinding ruang tamunya dengan lukisan pemandangan. Tanpa pikir panjang sang ayah menerima tawaran itu dan kemudian ke rumah ibu itu.

Setelah selesai dan hendak menerima pembayaran, sang suami ibu itu pulang dan marah mengetahui dinding rumahnya telah dilukis. Suami ibu itu kemudian mengancam akan melaporkan hal itu ke polisi jika tidak dihapus. Dengan berat hati, Azza kemudian mengecat ulang dinding rumah itu menjadi putih kembali. Sungguh hancur hati Azza kalau dia telah menghapus karya ayahnya dengan tangannya sendiri.

Sejak itu, Azza bertekad untuk bisa mengangkat derajat orang tua dan keluarganya. Ia pun tumbuh dengan emosi positif yang baik dan bertekad untuk menjadi orang yang berhasil dan berjanji untuk bisa membantu sebanyak banyak orang dan menghargai setiap karya siapapun.

Selama sekolah, Azza selalu meraih prestasi, mendapat penghargaan langsung dari Bapak Presiden saat itu yaitu Dr. H Susilo Bambang Yudhoyono langsung di Istana. Lulus sekolah, Azza selalu ditolak oleh universitas mana pun, hingga ada satu lembaga pendidikan komputer swasta kecil di Aceh yang menerimanya, dengan syarat dia hanya boleh kuliah malam.

Setelah 1 tahun lamanya, Azza pun dinobatkan menjadi wisudawan terbaik untuk Diploma 1 dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya di Jepang, berdasarkan beasiswa pemerintah Aceh.

Pulang ke Indonesia, Azza kemudian membuat kursus kecil-kecilan di rumahnya. Siapa sangka, tempat kursus itu akan menjadi besar. Nama tempat kursus itu adalah Saufa Center. Sudah pasti, Azza menjadi direktur utamanya. Selain menjadi direktur utama tempat kursus terbesar di Aceh, Azza juga menjadi seorang motivator. Kini Azza Aprisaufa telah menjadi salah satu motivator muda terbaik yang yang dimiliki indonesia di usianya yang ke-24. Akhirnya, ujian waktu yang telah dijalaninya, mengajarkanya bahwa hidup ini ternyata Tuhan memang mendesign hidup ini tidak mudah, karena begitulah cara Tuhan untuk menyeleksi, mana mana hambaNya yang mau berupaya. (tom)