Banyak politisi yang berlomba demi meraih RI1. Bukan rahasia lagi jika dalam mencapai posisi presiden, kadang seseorang membutuhkan dana super melimpah. Mungkin saja dana tersebut didapat dari jalur yang benar, mungkin pula melalui kongkalikong dengan para konglomerat. Seorang calon presiden bukan tidak mungkin berjanji akan memberikan kesempatan monopoli terhadap konglomerat tertentu asalkan ada kucuran dana tak terbatas untuk kampanyenya. Sangat ironis jika kita menyadari bahwa menjadi presiden Indonesia adalah hal paling mustahil di tanah air kita.

Perhitungan Kapasitas Warga Yang Didengar Presiden

Bayangkan standard umum seorang kepala negara. Ia mesti mendengar dan memilih aspirasi yang datang dari berbagai kalangan politik atau kelompok masyarakat tertentu. Sekarang, kita menghitung bahwa jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta.

Bayangkan seandainya satu warga negara diberi kesempatan berbicara satu menit saja dengan presiden. Maka, dalam sehari, presiden hanya bisa berbicara dengan 60 x 24 = 1440 orang.

Hitung lagi berapa banyak orang yang berbicara dengan presiden dalam setahun, yaitu 1440 x 365 = hanya 525600 orang. Bahkan, asumsi ini dibuat dengan masa kerja presiden yang penuh, tanpa istirahat hari Minggu atau cuti libur lainnya.

Kemudian, kita berspekulasi bahwa presiden tersebut berkuasa selama 10 tahun (2 kali masa jabatan). Maka, kalikan 525600 dengan 10 tahun. Hasilnya, dalam dua periode pemerintahannya, seorang presiden hanya berbicara dengan 5256000 orang saja! Artinya, dibandingkan dengan angka 230 juta penduduk, jumlah ini hanyalah 0,023% dari total penduduk Indonesia, tidak ada satu persennya!

Lagi-lagi, perhitungan ini dibuat dengan anggapan semua warga negara Indonesia mengantre untuk berbicara semenit saja di depan presiden. Lagi-lagi pula, perhitungan ini memaksimalkan waktu kerja presiden yang selama 10 tahun tidak pernah berhenti mendengarkan keluhan warganya. Jelas, angka 0,023% ini akan semakin mengecil karena presiden mengenal hari minggu, cuti bersama, dan tak mungkin selama 24 jam bekerja terus untuk negara.

Perhitungan 0,023% warga yang terlayani presiden ini pun baru masalah mendengarkan curhat warga negara. Dalam 10 tahun saja, presiden tak mampu bertindak apa pun terhadap curhat 0,023% warga negaranya tersebut. Padahal, dalam bertindak, presiden membutuhkan waktu misalnya untuk memberi keputusan dan menghubungi seorang menteri yang mungkin mampu menangani masalah sang warga yang curhat tadi.

Perhatikan pula, apa yang bisa memuaskan dari curhat semenit? Mengingat warga negara kita suka basa-basi, tentu dalam semenit yang semestinya berharga tersebut, waktu akan habis hanya untuk memperkenalkan identitas dan pengantar masalah; bukan masalah sesungguhnya.

Membuang 99% Lebih

Melihat perhitungan di atas, pantas saja jika presiden misalnya hanya mendengarkan orang-orang tertentu yang dekat dengannya, baik secara fisik maupun yang berada di lingkaran kelompoknya (misalnya, dari partai politik yang mengusungnya, dan lain-lain).

Kita mungkin bisa berburuk sangka bahwa presiden hanya membela kepentingan kelompoknya. Namun, dari sudut pandang perhitungan angka-angka ini kita mungkin menyadari, masalahnya juga berkaitan dengan waktu dan jumlah warga negara yang terlalu besar. Sehebat apa pun presidennya, menangani Indonesia yang begitu kompleks tampaknya begitu berat. Agak aneh tentunya jika begitu banyak orang yang berusaha mendapatkan posisi RI1 ini; seolah orang-orang tersebut telah memilih (maksimal) 0,023% warga yang akan dibelanya dan menepikan 99,977% warga negara lainnya; angka yang jelas sangat mencolok. Jadi, masihkah ada yang berniat menjadi presiden Indonesia?