“Gulungan air laut yang menjulang tinggi dan gelap” adalah gambaran yang sering diungkapkan oleh para korban selamat tsunami Aceh yang terjadi 10 tahun lalu. Bagaimana sebenarnya gambaran itu bila diwujudkan bentuknya?

Pengalaman tersebut kini bisa dirasakan bila kita mengunjungi Museum Tsunami Aceh dengan menyusuri lorong sempit dan gelap dengan dinding air yang sesekali memercikkan air ke kepala dan tubuh. Lorong tersebut adalah pintu utama menuju ke dalam Museum Tsunami Aceh yang terletak di Jalan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh.

Dilansir dari Metrotvnewscom, Sabtu (27/12/2014), museum ini mulai dibangun pada tahun 2007, dan kemudian diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Februari 2009. Tiga bulan kemudian, tepatnya 8 Mei 2009, museum ini resmi dibuka untuk umum.

Samar-samar terdengar rekaman suara perempuan menyanyikan lagu dalam bahasa Aceh, mengiringi langkah para pengunjung di jalan menurun yang landai. Gelap, hening, suara dan percikan air akan membawa pengunjung yang baru masuk dari ruang terbuka menuju bagian dalam museum, memasuki lorong kenangan.

Jalan landai di lorong itu berakhir pada ruang yang luas dengan atap tinggi. Di sana ada  jajaran sejumlah podium yang menampilkan rangkaian foto Banda Aceh sesaat setelah dihempas air laut. Foto-foto Banda Aceh yang luluh lantak, para penyintas yang tengah menyelamatkan diri, kapal-kapal menyangkut di atap rumah, bisa menggambarkan betapa perihnya kejadian itu.

Dari ruang besar itu, kembali terdapat jalan sempit menanjak yang di bagian kirinya terdapat pintu masuk ke ruang berbentuk kerucut, yang dinamai Sumur Doa. Pada dinding ruangan tertera ribuan nama korban jiwa. Di puncak kerucut terdapat penutup tembus cahaya dengan tulisan Allah dalam aksara Arab. Ini melambangkan bahwa para korban yang meninggal dunia itu sudah kembali kepada Sang Khalik. Di ruangan inilah, pengunjung akan berdoa.

Keluar dari ruang kerucut, jalan menanjak mengitari kerucut. Ini adalah lambang bahwa para penyintas, korban yang selamat, masih harus berjuang untuk menyelamatkan diri, keluar dari pusaran air. Di ujungnya terpampang ruang yang terang dan luas, atap gantung di langit-langit tembus pandang, berbentuk menyerupai kapal. Di lokasi itulah, bendera dari sejumlah negara tergantung dengan tulisan “damai” dalam berbagai bahasa.

Di bagian bawahnya terdapat Jembatan Harapan yang melambangkan harapan hidup bagi warga Aceh. Ruang berikutnya adalah ruang pamer berisi gambar dan diorama. Masih di ruang yang sama, ada wahana simulasi gempa dan tempat pengunjung mempelajari sains terkait gempa dan tsunami.

Perjalanan berakhir pada ruang teater semi terbuka dengan tribun dan panggung tanpa dinding dan di seberangnya dikelilingi kolam ikan. Di sinilah pengunjung biasanya merenungi kembali, membayangkan betapa dahsyatnya dampak bencana alam yang menimpa Aceh, sekaligus mengubah wajah politik, sosial dan ekonomi Aceh.

Museum ini sendiri dibangun oleh Ridwan Kamil, walikota Jawa Barat, sebagai arsiteknya. Dilihat dari bawah, bangunan museum ini terlihat menyerupai kapal. Namun, atapnya sendiri dibuat bergelombang mirip ombak laut. Bangunan tinggi, empat lantai ini, oleh sang arsiteknya tidak hanya dirancang sebagai museum semata. “Ini juga sebagai tempat evakuasi, jika tsunami datang,” papar Ridwan Kamil alias Kang Emil. (tom)