Berada di padang pasir Nazca yang terkenal dengan garis Nazca-nya tentu membuat siapa pun tercengang. Bagaimana tidak? Di hamparan pepasir yang sedemikian luas, terdapat berbagai pola gambar berukuran raksasa. Mulai dari kera, burung kolibri, hingga makhluk aneh yang mungkin bisa diidentifikasi sebagai alien. Siapa yang membuat gambar-gambar ini?

1. Garis Nazca dan Alien

Erich von Daniken, seorang ahli pseudosains, menyampaikan hipotesis yang pasti dicerca oleh orang-orang skeptis. Menurutnya, pola gambar berukuran raksasa tersebut merupakan semacam landasan pesawat alien. Banyaknya ragam gambar menunjukkan bahwa setiap gambar diperuntukkan untuk model pesawat alien tertentu.

Erich von Daniken memperkuat hipotesisnya dengan menunjukkan bahwa satu-satunya cara melihat pola gambar ukuran raksasa tersebut adalah dengan berada dalam ketinggian tertentu di udara. Artinya, seseorang yang ingin melihat gambar burung kolibri raksasa di Nazca, mesti memiliki pesawat terbang atau setidaknya benda yang bisa melayang di langit beberapa saat. Karena orang-orang dari peradaban masa lalu belum menemukan pesawat, alienlah yang paling mungkin mencorat-coret padang pasir Nazca.

Sebagai gagasan pengimbang hipotesis Erich von Daniken, ada pula pendapat yang menyatakan bahwa garis Nazca tersebut adalah buatan penduduk lokal pada masanya. Tujuan membuat gambar-gambar raksasa tersebut semata-mata demi menarik perhatian dewa agar menurunkan hujan ke wilayah tersebut. Lagipula, gambar ukuran raksasa tadi tidak hanya bisa dilihat dari angkasa. Terdapat beberapa perbukitan yang memungkinkan seseorang melihat gambar ukuran raksasa tadi sekaligus menyusun rancangan bentuknya.

2. Pesawat Wimana dari India?

Berkaitan dengan garis Nazca, konon dalam teks-teks lama India, terdapat penjelasan mengenai bentuk pesawat wimana (dalam google, kita akan lebih mudah menggunakan kata vimana). Bahkan, dengan pembacaan tertentu, ada beberapa sempalan kisah dalam Mahabarata dan Ramayana, salah satu epik terbesar di dunia, yang menceritakan detail bagaimana peradaban masa lalu menerjemahkan pemahaman mereka tentang wimana yang mungkin saja lebih canggih daripada pesawat buatan manusia pada masa modern. Satu hal yang paling menarik, wimana dikendalikan dengan kekuatan hati dan pikiran; bukan semata kemampuan fisik.

3. Mahabarata Adalah Perang Nuklir?

Jika kita mempelajari Mahabarata dan Ramayana lebih jauh dari sudut pandang pseudosains, hal-hal yang lebih seru bahkan bukan tidak mungkin terkuak. Misalnya, konon Bharatayudha (perang keluarga Barata) dalam Mahabarata sebenarnya merupakan perang nuklir. Senjata yang dimiliki para pahlawan Pandawa, seperti panah-panah Arjuna yang beragam nama dan kemampuannya, bisa diterjemahkan sebagai senjata ultramodern.

Menariknya pula, dari teks yang sama, kita bisa menarik kesimpulan yang sama sekali berbeda. Bharatayudha bisa dipahami sebagai pertempuran ruh dan jiwa yang tidak pernah selesai selama manusia masih terjebak dalam tubuh fisik. Pandawa, yang merepresentasikan ruh mulia, senantiasa berusaha menaklukkan keinginan-keinginan liar dari jiwa yang tak terkendali, yang ditampilkan oleh sosok para Kurawa.

Dengan melihat perbandingan-perbandingan di atas, tanpa berusaha memutuskan mana pendapat yang lebih benar, ada satu hal yang bisa dipelajari. Ternyata, tidak semua hal bisa diterjemahkan dengan akal yang sudah terkonsep oleh pikiran modern. Memang, mungkin saja garis Nazca dibuat oleh alien karena mungkin hanya pesawatlah yang bisa membuat seseorang melihat gambar-gambar raksasa tersebut. Mungkin pula Bharatayudha adalah perang nuklir. Namun, gagasan-gagasan ini mungkin pula terlahir dari pikiran yang terbatasi konsep kekinian. Bahwa, sekarang ada alat bernama pesawat yang memungkinan seseorang melihat dari ketinggian yang sangat jauh. Bahwa, ide perang nuklir tersebut lahir ketika kita sudah mengenal berbagai perang modern.

Memang, mungkin kisah-kisah ini hanyalah penjelasan tentang pemahaman esoteris manusia pada masa lalu; yang mengenal Tuhan dalam keadaan yang berbeda dengan keadaan kita yang sekarang. Interpretasi apa pun terhadap hal-hal di atas, selamanya tetap saja interpretasi. Tinggal bagaimana seseorang memilih mana yang lebih â??nyambungâ? dengan pola pikirnya.