Salah satu alamat majunya kebudayaan adalah bagaimana orang menyikapi mahkota di kepalanya. Rambut yang tumbuh membelukar di kepala itu mesti dirawat, dicuci, dipangkas, dan sesekali disisir untuk mencerminkan bahwa anda bukanlah manusia biadab.

Singkat kata, model rambut sesungguhnya mencerminkan kepribadian person atau orang si pemilik rambut: klimis umumnya rambut pegawai negeri, cepak rambut tentara atau polisi, gondrong rambut seniman, dan jigrag rambut pemuda pemberontak.

Buat sementara kalangan, bercukur rambut adalah salah satu sarana relaksasi dan memanjakan diri. Orang yang taraf ekonominya lumayan mungkin akan berangkat ke salon, tetapi warga dari kelas ekonomi menengah ke bawah cukup pergi ke outlet pangkas rambut tarif ekonomi.

Hari gini, tidak susah mencari outlet pangkas rambut semacam itu. Pasalnya mental wiraswasta bangsa Indonesia sudah sangat suburnya. Lagi, bangsaku adalah bangsa yang suka merawat diri. Walau sampah bertebaran di mana-mana, untuk masalah penampilan mereka sangatlah perhatian. Nyaris di semua jalan raya di Jabodetabek orang gampang menemukan outlet pangkas rambut yang aromanya khas itu.

Outlet tidak mesti ber-AC, cukup disejukkan dengan putaran baling-baling kipas angin. Ruang cukur tidak mesti tenang, seperti kamar mayat, tapi boleh berisik sedikit dengan musik dangdut atau siaran televisi.

Bagi para pasien yang harus antre disediakan bahan bacaan berupa surat kabar yang menyajikan berita-berita kriminal mengerikan. Bahasa yang digunakan koran-koran itu adalah bahasa pasaran Melayu-Jakarta yang luar biasa kasar. Maka, pasien cukur yang problemnya sudah bertumpuk umumnya akan segera melipat koran murahan itu dan memilih menunggu sambil melamun saja.

Jika tiba giliran dicukur, pasien akan dipersilakan duduk dan dipakaikan selendang khusus. Bila nasib pasien sedang baik, biasanya kain itu masih menaburkan wangi pelembut dan pengharum cucian. Sebaliknya, bila nasib baik sedang tak berpihak, maka aroma agak apek segera melingkar melayang-layang di depan hidung untuk kira-kira setengah jam ke depan.

Di ruang cukur anda menghadapi cermin, yang makin hari nampak makin menghina karena menampakkan wajah anda yang semakin tua, dan rambut yang mulai diselingi warna putih. Bagian tubuh yang paling mulia, kepala, kini bagai sebongkah bola di hadapan Abang Sang Tukang Cukur. Maka, berkuasalah sang tukang cukur dengan kuasa mutlak atas kepala sang â??pasien.â? Namun, rasa percaya pasien yang tinggi membuatnya nyaman belaka, tanpa merasa sedikitpun terancam. Abang tukang cukur â??dengan pisau dan gunting di tangan — tidak memanfaatkan kuasa mutlak itu untuk berbuat jahat atas pasiennya, misalnya dengan menyilangkan pisau ke leher pasien, sambil membentak:

â??Serahkan isi dompet anda!â?

Melainkan berkata dengan sangat sopan: â??Kepalanya tolong dimiringkan sedikit!â?

Lantas mulailah dipangkas rambut bagian atas dengan benda-benda tajam itu. Sensasi geli bercampur dengung alat cukur listrik merupakan kekhasan pangkas rambut tarif ekonomi. Rasa lelah dan kepala yang agak pening segera membuat mata pasien merem melek seakan-akan sedang dibuai mimpi indah. Sementara abang tukang cukur terus beraksi, memantas-mantas hasil cukurannya dengan ekspresi wajah yang serius. Kadang tubuhnya miring ke kiri, ke kanan, sambil sesekali melirik ke arah cermin. Abang tukang cukur nampak tekun, seperti seniman lukis sedang menggarap karya masterpiece.

â??Bagaimana, Bang?â? tukang cukur bertanya.

â??Haah! Lumayan!â? jawab pasien agak tersentak.

Pasien yang terlena terbangun sejurus kemudian, karena tanpa terasa prosesi pencukuran hampir selesai.

Sensasi berikutnya adalah rasa geli di tengkuk ketika tukang cukur merapikan ujung-ujung pangkasan. Lantas rasa dingin oleh sebab olesan sabun yang berperan sebagai krim cukur. Lagi-lagi benda tajam berupa pisau kerik memainkan peranannya.

Terakhir adalah finishing.

Bagaimana dengan handuk yang dipakai? Berdoalah bahwa tidak ada bibit jamur candida melekat di sana.

Kepala pasien pun dilap, ditaburi bedak layaknya sup ditabur merica, disikat seumpama ban sepeda, dikepulkan sisa-sisa rambutnya yang melekat, dan siap diberi layanan â??plusâ? berikutnya.

Dengan lumuran minyak pijat Abang tukang cukur mulai melakukan pijatan ke tengkuk, dengan tenaga penuhâ?¦Lantas kepala bagian atas, berpindah ke jidat, sambil mengguncang-guncang bahu sang pasien. Kalau di saat itu kita mencoba menatap ekspresi wajah tukang cukur, maka ia akan segera berpaling, seperti orang yang rikuh dan malu-malu.

Pasien pasrah saja ketika kepala ditekuk agak keras ke kanan.

Krekkkk!

Ke kiri. Krekkkk!

Tegang-tegang urat leher mengendur. Proses cukur selesai.

Setelah mematut-matut diri sekenanya, pasien segera menyimpulkan apakah ia bertambah cakep atau sama saja seperti sebelumnya.

Namun, ketampanan adalah anugrah yang tidak bisa didustakan.

Setelah mengibas-ngibas selendang dan pakaian serta berlagak seperti orang baru bangun tidur. Pasien bertanya, â??Berapa, Bang?â?

Tukang cukur tidak menjawab melainkan menunjuk ke arah dinding. Di situ jelas-jelas tertulis:

DEWASA  –  Rp. 8.000,-

Pasien merogoh koceknya dan membayar dengan delapan ribu rupiah persis. Tak kurang tak lebih.

Abang tukang cukur nampak berseri-seri. Pasien pun beranjak pergi dengan rasa puas. Dengan aroma bedak, minyak pijat, sabun, dan keringat bercampur baur.