Bumi diketahui telah berumur 4,54 miliar tahun sejak peristiwa dentuman besar Big Bang. Mengenai bentuk awal bumi, dalam teori lama disebutkan permukaan planet diselimuti magma yang sangat panas.

Tapi penelitian pakar geologi Universitas Vanderbilt, Tennessee, Amerika Serikat membantah teori lama itu. Alih-alih diselimuti panasnya magma, situasi awal bumi disebutkan justru sudah sama seperi gambaran dunia yang ada saat ini. Bumi pada masa awal sudah lengkap dengan lautan dan benua.

Dilansir dari Daily Mail, Rabu (11/2/2015), kesimpulan ilmuwan itu setelah mereka mendalami batuan mineral kuno sisa bumi awal atau sirkon di Islandia. Kawasan Islandia selama ini dianggap mewakili gambaran bumi pada masa awal.

Nyatanya, hasil analisa batu mineral kristal yang ada di Islandia memang menunjukkkan terbentuk dari formasi panas, namun batu mineral kristal itu tak cocok dengan komposisi batu mineral yang ditemukan di daerah lain di belahan bumi.

“Kami menemukan sirkon (batu mineral) Islandia cukup berbeda dari kristal yang terbentuk dari lokasi lain di Bumi modern,” jelas Tamara Carley, salah satu mahasiswi doktoral Universitas Vanderbilt.

Temuan itu sekaligus membantah teori lama, bahwa Islandia nyatanya tak mewakili analogi bumi pada masa awal.

Carley bersama timnya juga menemukan batu mineral itu terbentuk dalam magma yang sangat berbeda dengan batu mineral Hadean. Hadean merupakan era awal bumi saat berusia 500 juta tahun.

Dalam analisa, peneliti mengumpulkan sampel gunung berapi dan pasir yang berasal dari erosi gunung berapi Islandia. Sampel kemudian memisahkan ribuan sampel batu mineral kristal yang meliputi keragaman wilayah pulau, usianya serta dianalisa komposisi unsur isotopnya.

Atas dasar itu, peneliti yakin telah membuktikan teori lama bahwa masa awal bumi diselimuti panas magma adalah salah. Malahan bentuk bumi pertama kali bisa disebut sebagai Taman Eden, bukannya panas magma seperti neraka.

“Kesimpulan kami berlawanan dengan intuisi. Batu mineral Hadean tumbuh dari magma yang agak mirip dengan yang dibentuk pada zona subduksi modern, tapi rupanya lebh dingin dan basah dibandingkan batu mineral yang dihasilkan pada saat ini,” terang Profesor Calvin Miller, pemimpin penelitian. (tom)