Menyandang status semi-pengangguran membuat saya tidak mampu membayar kos yang waktu itu tarifnya cuma 150 ribu per bulan. Karena merasa untuk menjadi baik kita butuh komunitas yang kondusif untuk itu, mendekatlah saya ke suatu komunitas santri. Padahal pekerjaan belum jelas. Status pekerjaan: penyunting lepas, tapi dengan honor yang serba tidak pasti. Maka, waktu lebih banyak habis dengan pulang balik dari kos ke rumah, atau sebaliknya. Maksudnya, kalau ada uang saku saya nginap di kos, kalau uang habis saya pulang ke rumah orang tua. Dan teman kos saya yang baru kali ini adalah seorang yang teramat istimewa.

Orangnya nampak biasa saja. Tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk. Tidak pemarah, tetapi tidak cuek dan misterius. Tidak cerewet, tidak juga pasif. Tidak terlalu gesit jejingkrakan, tidak juga lebam dan pemalas. Kulitnya tidak legam seperti negro, tidak juga putih bersih seperti artis. Namun cokelat seperti buah sawo. Wajahnya mencerminkan orang Jawa yang penurut. Dia di sini dalam rangka rehabilitasi. Sebelum ini sudah beberapa kali dia masuk panti, namun gagal dan jatuh lagi. Maka, hidupnya didekatkan ke pesantren. Kebetulan pamannya adalah salah seorang ustadz yang disegani di komunitas santri itu.

Kawan baruku, sebut saja namanya Elang, rupanya adalah aktivis seni. Aku tahu itu dari foto-fotonya yang berserakan di kamar. Ada fotonya dengan rambut dicat emas dan fotonya bersama Butet Kertaradjasa, pementas monolog yang suka memparodikan mantan Presiden Suharto itu. Dia juga suka nulis curhatan di buku, dan senang baca komik Jepang.

Elang bukan anak orang miskin, karena sudah dimaklumi keluarganya adalah keluarga yang berkecukupan. Kakaknya, temanku juga, adalah makhluk paling periang yang pernah kutemui; sudah jadi santri dan sudah berkeluarga, sebut saja namanya Joko.

Walau kini sudah mengenakan baju gamis, di mulutnya masih terselip sebatang rokok. Katanya dia memang berusaha meninggalkan narkoba, tetapi belum sanggup ninggalkan merokok. Di bulan puasa sesekali dia shalat di masjid. Dan kadang bablas, tidak shalat karena ketiduran.

Dan beberapa hari belakangan ini, kawanku satu kamar itu agak aneh. Dia suka ngeluyur entah kemana. Katanya mau ketemu orang. Berhubung saya berperan selaku teman sekamar dan bukan satpam, saya tidak berhak mencegah atau melarangnya. Setelah ketemu â??orangâ? itulah terjadi sejumlah keganjilan.

Elang sangat tertutup untuk urusan penyakitnya. Kalau malam, kami cuma ngobrol sebentar dan dia cepat sekali tidur. Dan kalau tidur, tidurnya lamaaa sekali. Pernah pada satu hari dia tidur satu hari satu malam: yakni dari subuh sampai ketemu subuh berikutnya. Tapi dia tidak mati. Wong ngoroknya keras.

Kemarin dia bertengkar dengan Joko karena galon air mineral yang waktu itu harganya cukup lumayan, sudah dia jual entah kepada siapa dan untuk keperluan apa. Elang juga memaksa Joko agar meminjamkan sepeda pancalnya. Katanya sepeda itu untukku, karena aku bosan di kamar dan butuh jalan-jalan. Maka, Joko meminjamkannya sepeda. Tak lama kemudian, sepeda itu pun raib dijual. Mereka bertengkar lagi.

Tidak ada yang aneh dalam gerak-geriknya kecuali bahwa akhir-akhir ini dia suka sekali berlama-lama di kamar mandi. Ngapain lama-lama dan kenapa betah banget, soalnya kamar mandi kami jelek, lembab, dan lumutan.

Akhirnya, secara tak sengaja nampak olehku beberapa jarum suntik di loteng di dekat sumur. Ada jarum suntik yang tabungnya berisi cairan berwarna merah. Gaswat, dia kambuh lagi!

Pamannya, dan juga Joko kakaknya, mengatakan: sebetulnya mereka sudah berusaha sekuat tenaga menyembuhkan Elang, tetapi Elang sendiri yang tidak mau sembuh.

Sedangkan Elang pernah menulis di buku catatannya, dengan tulisan cakar ayam dan bernada marah: bahwa dia sudah berusaha untuk bangkit dan berusaha, tetapi kalianlah (entah siapa) yang bikin dia terpuruk dan terpuruk lagi. Begitu kurang lebih maknanya. Tulisan itu terserak begitu saja di kamar.

Elang akhirnya meninggalkan komunitas santri itu setelah dituduh mencuri. Sebetulnya dia mencuri karena sakaw.

Sekarang, kabarnya Elang sudah pulih total dan sempat menjadi aktivis di lembaga sosial yang bergerak di bidang rehabilitasi pecandu narkoba.

***

Menurut Benny Mamoto, Direktur Badan Narkoba Nasional (BNN) dalam suatu wawancara di Radio Elshinta, Indonesia merupakan pasar narkoba dengan harga yang bagus. Yang bilang begitu adalah big boss narkoba internasional yang ketangkap polisi di Cina. Benny menyebut sejumlah negara produsen ganja dan narkoba terbesar di dunia, antara lain Afghanistan (ganja) dan Iran (Shabu).  Bisnis ini menggiurkan karena menawarkan keuntungan selangit. Benny menyebut Colombia sebagai negara dimana mafia narkoba memiliki kekuasaan dana dan senjata. Mafia kolombia â??mengirimâ?? paket narkoba ke Amerika Serikat lewat kapal selam tak berawak!

Saya sendiri belum pernah menjajal benda berbahaya itu, dari jaman pil anjing sampai ecstasy, dan jarang sekali melakukan kontak dengan orang-orang yang berinteraksi dengan narkoba, alhamdulillah. Dan karenanya juga, sedikit sekali sumbangsihku dalam rangka pemberantasan narkoba ini. Kecuali dengan sekedar menuliskan beritanya di jadiberita.com. Wassalam!