Sejak beberapa tahun lalu, para ilmuwan masih mencari cara untuk menduplikat makhluk hidup. Usaha mereka itu tidak sia-sia, karena mereka berhasil membuat kloning dari domba bernama Dolly 17 tahun lalu. Dolly merupakan mamalia pertama yang berhasil dikloning dari sel dewasadan kloningannya itu “lahir” di Institut Roslin, Skotlandia. Kini, para ilmuwan akan mengaplikasikan teknik yang sama untuk membuat sel induk (stem cell) embrionik dari sel-sel kulit manusia.

Hal itu menjawab pertanyaan yang terbesit saat Ian Wilmut, ahli embrio tak terkenal dari Roslin Institute, yang membuat dunia tercengang karena berhasil mengkloning mamalia pertama: apakah manusia bisa dikloning dengan cara yang sama? Sebuah topik yang juga melecut debat panas dan sengit, terutama soal etika dan moralitas.

Namun, beberapa fakta membuktikan meski lusinan spesies berhasil dikloning menggunakan teknik itu, sel manusia masih menunjukkan resistensi dan sulit untuk diduplikat.

Hingga saat ini, Dr Shoukhrat Mitalipov, pengajar di Oregon Health & Science University dan para koleganya mengumumkan keberhasilan mereka memprogram ulang sel kulit manusia ke kondisi embrionik, dalam jurnal Cell. Cara yang mereka lakukan itu mirip teknik kloning Dolly. Namun, mereka menyebut, tujuan studi bukan untuk menghasilkan klon manusia, namun memproduksi garis sel induk embrionik, yang bisa dikembangkan menjadi otot, syaraf, otak, jantung, atau sel-sel lainnya yang membentuk jaringan tubuh.

Ini adalah keberhasilan yang pertama. Sebelumnya, ilmuwan Korea Selatan, Hwang Woo-suk mengklaim telah menciptakan sel induk dari embrio manusia hasil kloning. Belakangan ia diketahui memalsukan bukti.

Tim dari Oregon Health and Science University telah mengembangkan embrio ke tahap blastokista – sekitar 150 sel – yang cukup untuk menyediakan sumber sel induk embrionik. “Pemeriksaan menyeluruh dari sel-sel induk yang berasal dari teknik ini menunjukkan kemampuan mereka untuk mengubah diri seperti sel induk embrio normal, menjadi beberapa jenis sel yang berbeda, termasuk sel-sel saraf, sel-sel hati dan sel-sel jantung,” kata Dr Shoukhrat Mitalipov, seperti dimuat BBC, Senin (23/2/2015).

“Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam mengembangkan pengobatan sel induk yang aman dan efektif, kami percaya ini adalah langkah maju yang signifikan dalam mengembangkan sel-sel yang dapat digunakan dalam kedokteran regeneratif.”

Kloning manusia telah digunakan untuk menghasilkan embrio awal, menandai “langkah signifikan” dalam hal pengobatan. Embrio yang dikloning diyakini akan menciptakan kemajuan di dunia medis. Para peneliti mengatakan sumber sel induk mungkin lebih mudah, lebih murah dan kurang kontroversial. Namun, di sisi penentang mengatakan, tidak etis untuk melakukan percobaan pada embrio manusia.

“Para ilmuwan akhirnya “melahirkan bayi” yang akan menjadi kloning manusia: metode andal  menciptakan embrio manusia hasil kloning,” kata Dr David King, dari kelompok  Human Genetics Alert. “Penting untuk membuat larangan hukum internasional untuk kloning manusia sebelum penelitian lebih lanjut seperti ini terjadi,” lanjutnya.

Namun, para pendukung teknik baru tersebut mengatakan, embrio yang tercipta dari proses seperti itu tak akan bisa jadi manusia utuh, layaknya proses kloning bayi monyet yang pernah dilakukan sebelumnya, yang berujung pada kegagalan. Jika monyet saja gagal, maka demikian pula halnya untuk manusia, setidaknya untuk saat ini. (tom)