Setelah cukup lama tak terlihat di layar bioskop, akhirnya artis cantik bertubuh mungil Nirina Zubir kembali membintangi sebuah film. Film terbarunya ini berjudul â??Silent Heroesâ??. Di film ini, Nirina memerankan tokoh bernama Karina.

Yang unik dari â??Silent Heroesâ?? adalah film ini film Mandarin pertama yang diproduksi insan perfilman asli tanah air. Syuting film ini dilakukan di Jakarta dan juga di beberapa lokasi lain, yaitu Hong Kong, Singkawang, serta Singapura. Dan tak ketinggalan, sebagai film Mandarin, hampir seluruh dialog di â??Silent Heroesâ?? diucapkan dalam bahasa tersebut.

Untungnya, meskipun harus menggunakan bahasa Mandarin di film yang disutradarai oleh Ducho Chan ini Nirina bisa dengan lancar menjalani perannya sebagai Karina. Nirina memang tidak lancar berbahasa Mandarin, namun dirinya cukup mengerti kebudayaan Cina menghabiskan masa kecil di Hongkong.

â??Saya dari kecil tinggal di Hongkong dan SMA di Beijing. Jadi sudah familiar sama kultur Cina. Saya senang mendengar orang ngomong bahasa Mandarin. [Film ini] Membangkitkan memori lagi, soalnya sudah lama banget nggak di sana. Lumayan beberapa bulan membiasakan bahasa Mandarin lagi,â? terang Nirina seperti dilansir dari Kapanlagi.

Namun, di Silent Heroes wanita yang mengawali karirnya di dunia hiburan ini dengan menjadi presenter MTV Indonesia ini tak hanya menggunakan bahasa Mandarin. Nirina juga harus melafalkan beberapa dialog yang berbahasa Sunda.

â??Bahasanya 50% Sunda 50% Mandarin. Ada suatu waktu di mana saya berdialog dengan tante. Itu menggunakan bahasa Sunda,â? terang Nirina lagi.

Menurut Nirina, selain menghibur film â??Silent Heroesâ?? ini juga memberikan pesan penting bagi masyarakat Indonesia. Film ini seperti mengingatkan lagi bahwa Indonesia tak hanya terdiri dari satu suku saja, namun beraneka ragam. Inilah yang disebut Bhineka Tunggal Ika.

Nirina berharap dengan menonton film ini, orang-orang dapat kembali menerapkan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai ada pengkotak-kotakan lagi di Indonesia karena sebenarnya semuanya adalah penopang bangsa ini. (alo)