Begitu dilantik dan mulai ikut dalam sidang-sidang DPR, saya agak â??shockedâ? karena apa yang pernah dikatakan Gus Dur bahwa DPR seperti â??taman kanak-kanakâ? mulai terasa â?¦. Bayangkan, sidang baru dibuka dan pimpinan baru memberikan pengantar, sudah muncul teriakan-teriakan interupsi â?¦ . bahkan, menyebutkan interupsi pun banyak yang salah. Ada yang meneriakkan â??instruksiâ?, â??instrupsiâ?, â??intruksiâ?. Bahkan ada yang meneriakkan â??interaksiâ? tanpa kikuk.
(Mahfud MD, Gus Dur: Islam, Politik, dan Kebangsaan)

Demikianlah kisah Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD ketika beliau menjadi anggota DPR masa jabatan 2004 hingga 2009. Kesan yang didapatkan beliau tidak terlalu berbeda dengan kita terhadap lembaga yang konon mewakili rakyat tersebut.

Selama ini, DPR sudah dicap sebagai lembaga yang tidak benar. Apa pun yang dikerjakan mereka selalu salah. Kalau tidak salah, ya disalahkan. Banyak pembenaran yang bisa dipakai untuk menyalahkan DPR.

Misalnya, anggota DPR tidak mengetahui alamat e-mail lembaganya saat berada di Australia. Yang lain, sering menggunakan kesempatan studi banding keluar negeri sebagai sarana mencari oleh-oleh. Ada pula anggota DPR, entah pria atau wanita (terutama yang pria), bersinggungan dengan masalah perselingkuhan atau kehidupan â??malamâ?. Belum lagi mereka yang tertidur atau pura-pura cerdas saat berdiskusi dengan sesama wakil rakyat.

Rakyat, yang merasa bahwa DPR adalah perwakilan mereka, mungkin layak geram. Sudah susah-susah memilih mereka dalam Pemilu (walaupun kebanyakan tidak mengenal siapa yang dipilih dalam Pemilu), kini pilihan tersebut diselewengkan.

Namun, ada baiknya kita berkaca sedikit pada diri sendiri. Bisa jadi, DPR adalah representasi paling tepat tentang rakyat Indonesia pada umumnya.

Kebanyakan, orang yang dibesarkan dalam masyarakat, bermental berani hanya ketika berkelompok. Ketika ia dipaksa sendirian, orang tersebut akan mengemis mati-matian demi hidup. Contohnya, orang tua murid SD di Jawa Timur yang memusuhi ibu dan anak yang lantang menyebut ada permainan dalam ujian.

Mereka takut pada kekuasaan yang dapat menghancurkan nasib anak-anak yang dibiayai susah payah. Mereka khawatir, jika kasus ini meluas dan ada penyelidikan lebih jauh, semua anak akan dinyatakan tidak lulus. Belum lagi kekhawatiran lain terhadap otoritas guru. Kita masih mengingat adanya adegan beberapa orang tua murid yang mengemis seorang guru dan berkata agar anaknya tetap diluluskan.

Keadaan akan berbeda jika orang-orang tua murid ini ditanya tentang korupsi atau kebusukan DPR. Mereka akan dengan mudah berkata, DPR tak peduli pada wong cilik, dan sebagainya. Ketika tiba pada masalah pribadi, kebanyakan dari kita bisa memaafkan diri sendiri secara luar biasa. Namun, pada orang lain tidak. Padahal korupsi DPR yang akut, nyaris tak ada bedanya dengan sistem pembiaran contekan massal atau malah pemaksaan pembocoran dalam Ujian Kelulusan. Keduanya sama-sama mengindikasikan kecurangan dan kelicikan untuk mengacaukan sistem. Agak lumrah jika DPR yang wakil rakyat, â??mewakiliâ? â??kebusukan mentalâ? bangsa Indonesia dalam sebuah gedung megah yang konon minta direnovasi tersebut.

Tentang DPR yang hobi mampir ke tempat-tempat wisata ternama di Eropa atau Australia, bukankah masyarakat kita juga demikian? Bahkan, lebih parah. Misalnya ibadah haji yang sebenarnya berfungsi sebagai ziarah umat Islam. Berapa banyak seorang haji yang lebih meributkan oleh-oleh ini dan itu ketika pulang haji. Bahkan, oleh-oleh haji bisa dipotong kompas, dibeli di berbagai daerah di Indonesia. Oleh-oleh haji hanyalah â??citraanâ? yang barangkali penting agar menunjukkan kepedulian pada masyarakat. Namun, bukan hal yang terpenting.

Kalau selama haji, menghadap Tuhan di Kabah, kiblat manusia bersujud kepada-Nya, kita masih bisa meributkan oleh-oleh, tentu DPR juga berpikir pola yang sama ketika berwisata dan berstudi banding. Jangankan ibadah haji. Jika, kita bepergian ke tempat wisata terdekat pun, yang dibutuhkan bangsa Indonesia sebagai wujud eksistensinya adalah barang kenangan yang membuktikan kesahihannya: Bahwa ia benar-benar datang ke tempat tersebut. Lagi-lagi, dengan keadaan yang berlebih, DPR sukses â??mewakiliâ? sikap orang Indonesia.

Kata orang, lebih baik menyalahkan diri sendiri daripada menguliti orang lain. Maka, kita juga bisa berpikir demikian. Senantiasa curiga bahwa sikap DPR yang mungkin sangat â??memuakkanâ? adalah cerminan keadaan kita, tentu lebih baik daripada selalu menyalahkan DPR tanpa mengoreksi diri sendiri. Bahkan jika DPR memang benar-benar salah.