Mendengar kata robot, yang terpikirkan olehmu pastilah harus besar, kuat dan penuh dengan logam berat. Hal itu juga dikatakan oleh Robert Wood, insinyur listrik di Laboratorium Microrobotics, Harvard University. “Robot, secara tradisional, dibuat besar, kuat, objek yang terbuat dari logam yang mampu melas pintu ke mobil seperti di pabrik,” katanya dikutip dari Nationalgeographiccoid, Rabu (1/4/2015).

Namun kini, Roboert Wood bersama dengan timnya tengah mengembangkan robot dengan ukuran jauh lebih kecil daripada ukuran robot yang ada dalam benak kita. Proyek yang sedang dikerjakannya saat ini adalah robot yang bisa terbang lebih ringan, meluncur melalui ruang sempit, dan berukuran mikro dari robot biasanya.

“Robot-robot yang kami eksplor ini sangat berbeda, beberapa berskala ukuran mirko yang benar-benar baru, dan yang lain terbuat dari material lembut,” kata Wood. Menurutnya, cara robot-robot ini membantu manusia di masa depan akan menjadi sangat menakjubkan.

Salah satu robot yang sedang dikembangkan adalah RoboBees. RoboBees sendiri merupakan koloni mikro-robot terbang yang telah dikembangkan oleh Wood dan timnya selama bertahun-tahun. Kata Wood, koloni robot mungil ini suatu hari nanti akan berperan dalam ekspedisi pencari-dan-penyelamat, mensurvey lingkungan berbahaya, mengumpulkan data-data lapangan ilmiah, bahkan membantu penyerbukan pertanian.

“Jika Anda ingin menciptakan robot terbang sebesar satu sentimeter, ratusan ribu solusi sudah ada di alam semesta,” kata Wood. “Kita tak hanya menjiplak alam. Kita juga memahami aspek-aspek apa, bagaimana, dan mengapa di balik anatomi, pergerakan, dan perilaku sebuah organisme, kemudian menerjemahkannya ke istilah-istilah teknik.”

Ia dan rekan-rekan peneliti merancang sebuah teknik baru untuk membuat dan merakit miniatur mesinnya, masing-masing seukuran lalat, sayap selebar 3 sentimeter, dan berbobot 80 miligram. Prototipe terbaru tim Wood hinggap pada benang tipis, mengepakkan sayapnya sebanyak 120 kali tiap detiknya, melayang dan terbang sepanjang program yang dijalankan.

“Kami berkolaborasi dengan peneliti lainnya untuk menciptakan dan menguji baterai ultramikro, sel bahan bakar, dan metode transfer daya nirkabel,” kata Wood. Saat ini ia juga sedang mengembangkan sensor penglihatan yang akan membantu navigasi lebah dengan cepat, seperti lalat menghindari tepukan dengan merasakan kecepatan tangan.

Wood ingin memprogram lebah robot ini agar mendeteksi tingkatan panas tertentu atau karbon dioksida, sehingga dapat mencari bangunan runtuh atau siapapun yang selamat dari bencana dan bertindak sebagai pemandu para penyelamat. Skenario lainnya yang memungkinkan untuk terjadi adalah segerombolan RoboBees dapat dilepas ke berbagai arah untuk mencari tumpahan bahan kimia, sebelum kembali ke “sarang” untuk mengunggah informasi.

Robot baru ini terdengar seperti fiksi ilmiah, dan Wood akan memanfaatkan teknologi tersebut untuk membuat anak-anak senang akan sains. Tim Wood telah membawa prototipe robot mereka ke sekolah-sekolah dan festival-festival sains di seluruh penjuru negara, menggapai ribuan siswa dan keluarga.

“Bahkan anak-anak muda tidak memahami seluk-beluk sistem kami akan konsep besar tersebut. Mungkin beberapa dari mereka akan menempuh karir di bidang ini di masa depan,” kata Wood. Namun, tak semua ajaran yang diberikannya menyenangkan.

“Saya pun memberitahu anak-anak, bahwa ketika Anda mengerjakan sesuatu, akan lebih banyak kegagalan daripada kesuksesan dan sebelum mencapai kesuksesan itu. Tetapi Anda terus mengulang dan terus belajar, kemudian eureka!” kata Wood. (tom)