Kabupaten Gunung Kidul kini sedang naik daun dikalangan traveller dan para pecinta alam. Jika biasanya kabupaten ini dikaitkan dengan keindahan pantainya, ternyata terdapat lokasi wisata yang tak kalah indah dari jajaran pantai. Beberapa goa siap menyambut kedatangan kita, salah satu yang paling terkenal yaitu Goa Pindul. Rasakan Sensasi menyusuri sungai dalam goa yang berhiaskan stalaktit serta stalagmit menawan.

Goa Pindul berada di dusun Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul. Goa ini mempunyai panjang sekitar 350 meter dengan lebar hampir 5 meter. Sedangkan jarak atap gua dengan permukaan air 4 meter, dan kedalaman air mulai dari 2 hingga 12 meter. Waktu tempuh untuk mengarungi sungai didalamnya sekitar 45 menit lamanya. Tiket memasuki Goa ini sebesar Rp35.000 dimana fasilitasnya meliputi pemandu yang bakal ndongengin kamu selama perjalanan, lalu asuransi, kamar mandi, ban pelampung, jaket pelampung, dan sepatu karet. Kalau selama wisata ingin mengabadikan foto, kamu bisa sewa fotografer dengan biaya sebesar Rp100.000.

Bagi pecinta alam kegiatan susur sungai menggunakan ban pelampung itu termasuk hal biasa, tapi kalo sungai itu melewati gelapnya goa tentu menjadi petualangan yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Wisata air yang menggabungkan aktivitas caving dan body rafting ini biasa disebut dengan istilah cave tubing. Sensasi petualangan yang ditawarkan oleh penduduk ini mengajak Tim jadiBerita.com menyusuri gelapnya sungai di perut bumi yang dihuni oleh kelompok hewan malam, kelelawar.

Setiap kelompok akan dipandu dengan 2 orang penanggung jawab wisata. Dimana tugas yang berada didepan sebagai penunjuk jalan yang akan bercerita mengenai masa lalu dari Goa Pindul, sedangkan pemandu yang dibelakang tugasnya menjaga peserta yang mungkin saja tertinggal rombongan. Tidak ada persiapan khusus untuk menikmati cave tubing di sini, karena seluruh peralatan sudah disediakan oleh pihak pengelola wisata. Sungai yang mengalir tenang menjadi salah satu alasan mengapa aktivitas ini tergolong aman bagi siapapun yang ingin mencobanya. Waktu yang paling tepat untuk berkunjung sekitar pukul 9 pagi hingga 3 sore, dimana cahaya matahari masih tampak bersinar gagah dilangit.

Di tengah merasakan dinginnya air dengan cahaya remang-remang, sang pemandu bercerita mengenai legenda nama â??Goa Pindulâ? yang tidak dapat dipisahkan dari kisah Mangir Wonoboyo. Dia merupakan putri Panembahan Senopati yang anaknya akan dibunuh oleh ayahnya sendiri. Namun karena tidak tega untuk membunuhnya, bayi tersebut disembunyikan di dalam gua. Ketika hendak masuk kedalam, bayinya terbentur atau dalam bahasa jawa kebendhul. Mulai saat itulah goa ini dinamakan Goa Pindul.

Ketika menyusuri Goa, kamu juga akan menemukan sebuah stalagtit terbesar nomor 4 di dunia. Stalagtit yang telah bersatu dengan stalagmit membuatnya tampak bagai pilar dengan ukuran amat lebar. Butuh sekitar 5 orang untuk melingkarinya, bahkan celah kanan kiri pilar hanya mampu dilewati satu orang saja dengan menekuk kaki. Ornamen yang terpampang nyata disepanjang dinding Goa ibarat mahakarya Kuasa Tuhan yang tak ternilai keindahannya. Terdapat stalagtit dengan bentuk tirai yang terbentuk dari tetesan air kapur diatap Goa.

Kepercayaan yang dibuat oleh warga sekitar tidak hanya mengenai sejarahnya saja, tetapi mengenai beberapa batu yang memiliki khasiat. Bagi pengunjung laki-laki disarankan untuk menyentuh stalagmit perkasa yang dipercaya untuk menambah stamina dan kharisma. Tak hanya laki-laki saja, untuk wanita pun juga ada yaitu stalagtit dengan bentuk candi terbalik yang dipercaya jika dibawahnya dilewati sambil melambaikan tangan akan menambah kecantikan dan membuka aura jiwa. Lalu ditengah Goa terdapat ruangan besar dengan lubang dibagian atas yang disebut sumur terbalik, sehingga sinar mentari menyerobot masuk ke Goa yang menambah suasana menjadi indah. Disini biasanya dijadikan tempat berfoto sehingga pengunjung bisa berenang atau merasakan sensasi terjun dari ketinggian. Tak terasa pengarungan telah berakhir di mulut goa dan bertemu dengan bendungan Banyumoto yang telah ada sejak jaman Belanda menyambut akhir wisata air kali ini. (jow)