Apa yang kamu jadikan sebagai pedoman untuk berbusana dan menjadi fashionable saat kamu menjadi gadis remaja? Kebanyakan dari kita akan mencari pakaian, aksesoris, sepatu, tas dan lainnya yang trendy dan mengikuti zaman.

Namun berbeda dengan wanita yang memiliki nama lengkap Raden Ir. Dewi Arimbi Dibyareswari Soeharto Herry Alamsjah. Dilansir dari vemale.com, sejak masih remaja, beliau sudah mencintai kain tradisional.

Wanita yang kini sudah berusia 50 tahun ini mengaku bahwa kecintaannya terhadap kain tradisional berkat sang ibu, Sinta Soeharto, yang merupakan seorang kolektor. Begitu ungkapnya saat ditemui di The Pejaten House, Jakarta Selatan, 1 hari seletah ulangtahunnya yang ke 50.

Kecintaan wanita ini terhadap wastra atau kain tradisional berkualitas tinggi dari berbagai penjuru Nusantara membuatnya ikut mengumpulkan koleksinya sendiri, yang saat ini sudah mencapai ratusan jumlahnya.

â??Saya kumpulkan ya sejak remaja, puluhan tahun yang lalu hingga saat ini.Alhamdulillah jumlahnya cukup banyak dan wastra-wastra ini sangat kaya akan keindahan dan seni, dibuat oleh tangan-tangan terampil karya bangsa yang mengagumkanâ?, tuturnya.

Arimbi, begitu wanita ini akrab dipanggil, memiliki kain-kain yang luar biasa keindahan seninya. Usia wastra-wastra yang dimilikinya lebih dari 30 tahun, bahkan ada yang melebihi 100 tahun.

Ibu Arimbi (berbagai sumber)

Arimbi membawa koleksi wastra-wastra kesayangannya ketika ia pindah rumah. Tak satupun wastra yang ia tinggalkan begitu saja, semua ia ikut bawa bersama kepindahannya ke rumah baru.

Kemudian, karena kecintaanya terhdapa kain tradisional yang akhirnya membuat Arimbi mengkoleksi ratusan wastra (kain tradisional), Arimbi memutuskan untuk menggelar pameran Wastra Antik Koleksi Pribadi di The Pejaten House.

Arimbi sukses menampilkan 50 kain tradisional, baik tenun, batik tapis maupun songket. Semua koleksi tersebut berasal dari keturunan keluarganya, yakni Jawa, Palembang dan Lampung.

Kisah Arimbi dapat mengajarkan pada kita bahwa kita harus dapat meletarikan kebudayaan yang kita miliki sebagai identitas nasional, agar tidak lagi-lagi diakui oleh negara tetangga. Kemudian, awal mula kecintaan Arimbi terhadap kain tradisional yang sederhana membawanya pada kesuksesan pameran yang kini ia gelar.

(anb)