Tak terasa band Pee Wee Gaskins sudah selama 8 tahun meramaikan industri musik Indonesia. Di usianya yang ke-8 ini, band tersebut mengaku sudah banyak berubah, ke arah yang lebih baik tentunya. Gebrakan yang mereka lakukan adalah kini mereka memiliki studio rekaman sendiri

Jika diibaratkan orang, usia 8 tahun memang masih lebih ingusan ketimbang orang yang udah berusia belasan tahun. Meski begitu, di usia delapan tahun seseorang sudah tak boleh lagi terlalu bergantung dengan orang tuanya. Dia harus mulai belajar mandiri. Mulai dari tidur sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, bahkan untuk mengerjakan tugas atau PR sehari-hari dari sekolah, juga harus dikerjakan sendiri.

Begitu juga dengan band. Di usia 8 tahun mereka seharusnya memang udah bisa berjalan sendiri untuk menghidupi dirinya. Dan inilah yang terjadi sama Pee Wee Gaskins (PWG).

â??Kalo diibaratkan hubungan sih kami udah makin bounding aja, makin mateng lah. Semakin tau kekurangan masing-masing personil di band,kalo yang satu lagi kekurangan, yang lainnya melengkapi. Bisa dibilang kayak pacaran juga, kayak adik kakak, malah kadang juga kayak fans satu sama lain,â? ungkap Dochi Sadega seperti dikutip dari HaiOnlinecom, Kamis (9/4/2015).

Hal yang diucapkan Dochi itu terbukti ketika mereka sedang mengadakan sesi pemotretan. Fauzan â??Sansanâ?, vokalis-gitaris band ini sibuk dengan putra semata wayangnya, K. Seakan tahu kalo frontman  mereka sedang fokus membujuk sang anak, keempat personil lainnya berinisiatif untuk melakukan sesi foto terlebih dulu.

â??Ya udah, foto yang sendiri-sendiri aja dulu,â? ucap drummer PWG, Renaldy â??Aldyâ? Prasetya yang sebelum pemotretan juga terlihat sibuk mondar-mandir ngurusin studio yang menjadi basecamp bandnya itu.

Sejak setahun belakangan PWG memang punya basecamp baru, yang nggak lain adalah studio milik Aldy. Beberapa kali majalah kesayangan kamu ini mencari PWG, mereka pasti mengajak bertemu di studio bernama Beatspace ini.

â??Sekarang kami juga jadi lebih leluasa ngerjain album baru karena udah ada studio sendiri,â? ungkap Dochi. â??Dibandingkan dulu, sebelum ada studio, kami seringnya cuma ketemu di bandara sih sama di atas panggung hahaha!â? ingat Reza â??Omoâ? Satiri, pemain keyboard dan synth PWG.

Bisa dibilang, studio musik ini pun turut menghidupi band PWG. Simbiosis mutualisme, kalau kata orang, melihat usaha yang dilakukan PWG di luar dan di dalam band. Memang, PWG tak hanya hidup untuk musik saja saat ini. Selain tiga dari lima personilnya sudah berkeluarga, beberapa dari mereka juga memiliki lini usaha masing-masing. Mulai dari clothing line sampai studio musik seperti Aldy.

Terlebih, setelah mereka sudah tidak lagi berada di bawah label yang menaungi mereka sebelumnya, yaitu Alfa Records sejak tahun 2013 lalu. Praktis kawanan pop punk ini harus memutar otak untuk menghidupi band mereka secara mandiri, persis seperti analogi orang berusia 8 tahun tadi.

â??Nantinya bukan nggak mungkin merchandise PWG diproduksi masing-masing clothing line kami. Soalnya, di clothing line gue misalnya, konsumennya memang kebagi dua. Ada yang memang konsumen umum, ada juga yang dari Dorks (sebutan fans PWG),â? jelas Dochi.

Sukses terus untuk PWG. (tom)