Jadiberita.com – Pada saat ini bisa dibilang, pasar belantika musik tanah air kurang beragam dan cenderung monoton. Musik yang kita dengar di tv dan radio ternama tidak jauh-jauh dari musik galau yang selalu dikemas dengan tempo mendayu, musik yang mudah ditebak, serta lirik yang itu-itu saja tidak jauh dari kata aku, kamu, dia, dan cinta.

Padahal lagu bertema galau tidak hanya dapat dikemas dengan nuansa pop atau melayu, bahkan juga bisa dikemas dengan aliran Rock!

Ya, contohnya adalah aliran ‘Shoegaze’! Pada beberapa dekade lalu, musik dunia sedang mengalami perkembangan yang begitu pesat, aliran rock mewarnai hampir seluruh bagian di dunia, hingga muncullah beberapa sub-genre seperti post-rock. Dari sub genre post-rock tersebut lah, mulai dikenal sebuah istilah atau beberapa lagi menyebutnya aliran ‘Shoegaze’

Kata ‘Shoegaze’ merupakan artian dari menatap sepatu, dimana para gitaris dari band-band yang memainkan musik post-rock pada saat itu terlihat tidak begitu peduli dengan para penontonnya saat sedang berada di panggung, melainkan mereka konsentrasi dan fokus bermain dengan efek gitar mereka.

Nuansa musik ‘Shoegaze’ biasanya berbau galau, namun dikemas dengan campuran ambient dan distorsi gitar yang begitu unik dan menarik, bahkan banyak lagu dari aliran yang satu ini tidak disertai dengan vokal melainkan hanya mengandalkan nuansa yang dibawa oleh alunan instrumen terutama gitar.

Ada beberapa band ‘Shoegaze’ ternama di dunia, diantaranya My Bloody Valentine, Slowdive, Yuck!, hingga dari tanah air tercinta The Milo.