JadiBerita.com – Siapa sih yang nggak tahu, Monas? Yup! Monumen kebanggaan tanah air tercinta ini merupakan ikon negara Indonesia. Mulai dari penduduk lokal hingga turis mancanegara tentunya tahu akan keberadaan monumen yang memiliki tinggi mencapai 146 meter tersebut.

Namun, apakah kalian tahu bagaimana sih awal mulanya Monumen Nasional Indonesia ini dibangun? Siapa sih yang menjadi perancangnya? Well, kalian harus baca terus artikel menarik yang satu ini!

Gagasan pembangunan sebuah monumen yang menjadi ikon Republik Indonesia, muncul pada beberapa hari setelah ulang tahun Republik Indonesia yang ke 9. Saat itu dibentuk sebuah tim panitia tugu nasional yang terdiri dari Sarwoko Martokusumo selaku pemimpin, S Suhud selaku penulis, Sumali Prawirosudirdjo selaku bendahara dan dibantu oleh empat orang anggota masing-masing Supeno, K K Wiloto, E F Wenas, dan Sudiro.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, para penggagas tugu nasional tersebut pun membentuk timpanitia pembangunan Monas yang dinamakan �Tim Yuri� diketuai langsung Presiden RI Ir Soekarno dimana perekrutan dalam tim ini dilakukan melalui sayembara sebanyak dua kali pada tahun 1955 dan tahun 1960.

Namun, selama 2 kali sayembara tersebut digelar nampaknya tidak ada yang dapat menjalani tugas tersebut. Akhirnya ditunjuk lah seorang arsitek kawakan yang bernama Soedarsono karena gambarnya yang dinilai sangat mewakili perjalanan dan semangat tanah air tercinta.

Dalam pembangunannya, tugu Monumen Nasional dibangun melalui tiga tahapan yaitu tahap pertama pada tahun 1961-1965, tahap kedua pada tahun 1966-1968, dan tahap ketiga pada tahun 1969-1976.

Bentuk tugu monas yang menjulang tinggi memiliki arti falsafah â??Lingga dan Yoniâ? yang menyerupai â??Aluâ?sebagai â??Linggaâ? dan bentuk cawan berupa ruangan menyerupai â??Lumpangâ? sebagai â??Yoniâ?. Alu dan Lumpang merupakan alat penting yang dimiliki oleh setiap warga Indonesia pada saat itu, hal ini menggambarkan kesatuan atau kemasyarakatan, sementara Lingga dan Yoni merupakan simbol yang ada sejak zaman dahulu kala yang menggambarkan keabadian.