Selama 450 juta tahun, Bumi pernah mengalami ‘kiamat’ sebanyak 5 kali. Kiamat di sini bukanlah suatu peristiwa hancurnya alam semesta, melainkan kepunahan massal atau istilahnya Extinction Events. Bisa dikatakan kiamat karena banyak makhluk hidup mati massal, termasuk manusia akibat peristiwa yang terjadi di bumi ini.

Peristiwa kepunahan massal yang pertama adalah kepunahan massal Ordovisium-Siluria yang terjadi 443 juta tahun yang lalu. Peristiwa ini dikatakan sebagai kepunahan terbesar ketiga dalam sejarah bumi. Selama masa Ordovisium, kehidupan makhluk hidup sebagian besar berada di laut, jadi makhluk laut seperti Trilobita, Brachiopoda dan Graptolit berkurang secara drastis. Secara keseluruhan, sekitar 85% kehidupan laut musnah. Zaman Es sering disalahkan atas terjadinya kepunahan ini.

Peristiwa kedua ada kepunahan massal Late Devonian yang terjadi 359 juta tahun lalu. Sebanyak 3/4 dari semua spesies di bumi mati selama masa ini. Kehidupan di laut dangkal menerima dampak yang paling buruk, dengan terumbu-terumbu yang rusak dan punah sampai jenis baru ditemukan lebih dari 100 juta tahun kemudian. Bahkan, keadaan di dasar laut menjadi kurang dan hampir tanpa oksigen, sehingga tidak ada makhluk hidup yang dapat bertahan kecuali bakteri.

Ketiga ada kepunahan massal Permian yang terjadi 248 juta tahun lalu. Kepunahan massal Permian juga dijuluki The Great Dying, karena menyebabkan 96% spesies di muka Bumi punah.  Semua kehidupan di Bumi sekarang ini adalah keturunan dari 4% spesies yang selamat. Peristiwa ini begitu kompleks, karena setidaknya ada dua tahapan terpisah yang terjadi tersebar dalam jangka waktu lebih dari jutaan tahun. Makhluk laut dan serangga mengalami dampak yang sangat parah, bahkan bagi serangga, ini adalah satu-satunya kepunahan massal yang mereka alami di sepanjang sejarahnya.

Berikutnya ada kepunahan massal Triassic-Jurassic, yang terjadi 200 juta tahun lalu. Banyak jenis hewan mati, termasuk banyak reptil laut, beberapa amfibi besar, terumbu karang dan sejumlah besar moluska Cephalopoda. Sekitar setengah dari semua spesies hidup pada saat itu menjadi punah. Anehnya, tanaman tidak begitu terpengaruh.

Kemudian yang kelima ada kepunahan massal Cretaceous-Tersier, yang terjadi 65 juta tahun lalu. Kepunahan massal CretaceousTersier (KT) terkenal atas kematian dinosaurus. Namun, banyak organisme lain juga tewas pada akhir periode ini, termasuk ammonita, banyak tanaman berbunga dan pterosaurus terakhir. Beberapa spesies telah menurun populasinya selama beberapa juta tahun sebelum masa kepunahan Cretaceous-Tersier menghancurkan mereka semua.

Dalam publikasi di Geological Society of American Bulletin, Jumat (24/4/2015), ilmuwan mengatakan, ada satu lagi peristiwa yang bisa disebut kematian massal, yaitu peristiwa Capitanian yang terjadi 262 juta tahun lalu.

David Bond dari University of Hull dan timnya melakukan penelitian di Spitsbergen, pulau pada jarak 890 km dari pulau utama Norwegia, untuk membuktikan adanya ‘kiamat’ keenam itu.

Bond dan rekannya meneliti Kapp Starostin Formation, lapisan batuan setebal 400 meter di beberapa lokasi Spitsbergen, yang bisa memberi petunjuk tentang kondisi 27 juta tahun masa Permian Tengah, masa ketika peristiwa Capitanian diduga terjadi.

Pertama, Bond harus memastikan bahwa data dari lapisan batuan tersebut menunjukkan kesamaan dengan data adanya peristiwa Capitanian yang diambil dari wilayah tropis.

Dengan menganalisis rasio isotop karbon dan stronsium serta beragam logam dan polaritas magnetik, Bond berhasil mengonfirmasi bahwa lapisan batuan tersebut menunjukkan korelasi dengan lapisan batuan di wilayah tropis.

Kedua, Bond harus bisa menunjukkan adanya penurunan populasi satwa tertentu secara drastis pada waktu terjadinya kepunahan massal.

Bond pun menganalisis populasi moluska jenis brachiopoda dan bivalvia. Dia menunjukkan bahwa di lapisan Capitania, populasi brachiopoda mengalami penurunan hingga 87 persen. Itu merupakan petunjuk terjadinya kepunahan massal.

Sementara itu, pada lapisan batuan yang lebih muda, brachiopoda kembali muncul. Namun, pasca-kepunahan massal itu, bivalvia lebih mendominasi.

Menurut Bond, kepunahan massal kala itu terjadi karena erupsi Emeishan Traps, kini terletak di provinsi Sichuan, Tiongkok. Erupsi melepaskan banyak karbon dioksida, membuat laut mengalami pengasaman dan kekurangan oksigen.

Penelitian tentang peristiwa Capitanian dibutuhkan sebab sejak diketahui 20 tahun lalu, peristiwa itu belum dikategorikan sebagai kepunahan massal. Karena belum banyak diteliti dan minim bukti dampak, Capitanian juga sering dianggap hanya kiamat regional, bukan global.

Dengan hasil penelitiannya, Bond yakin bahwa Capitanian merupakan peristiwa yang terpisah dengan Permian Akhir. Ia juga yakin bahwa peristiwa itu bisa dikatakan kematian massal yang global.

Meski demikian, tak semua setuju bahwa peristiwa Capitanian bisa dikatakan kiamat global. Salah satunya Matthew Clapham dari University of California di Santa Cruz.

“Hilangnya beberapa lusin spesies di suatu daerah tak menjadikan sebuah peristiwa sebagai kematian massal,” katanya seperti dikutip BBC. Namun, Clapham mengakui bahwa hasil riset Bond menyuguhkan fakta menarik di Spitsbergen pada jutaan tahun lalu. (tom)