Taman Nasional Ujung Kulon, Cantik Menyapa di Pojok Kiri Pulau Jawa

Ribuan pulau-pulau berjajar membentuk gugusan pulau yang indah
Gunung-gunung berbaris dari ujung barat ke ujung timur
Samudra luas membentang dengan air yang biru
dan berisi keindahan di bawahnya

Aku bangga menjadi anak Indonesia (Cahya A.W.)

Jika bicara destinasi wisata terbaik di Indonesia memang nggak ada habisnya. Dari Sabang sampai Merauke negara berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini memiliki kekayaan alam yang tidak cukup ditulis dalam satu buku setebal 100 halaman. Kali ini tim jadiBerita.com menyambangi salah satu warisan budaya UNESCO yang terletak di ujung sebelah barat pulau Jawa. Yap, Taman Nasional Ujung Kulon atau lebih gampang kita singkat sebagai TNUK memang destinasi yang wajib kamu kunjungi. Pertama, TNUK adalah tempat habitat asli badak jawa yang merupakan satu-satunya di dunia. Populasi badak ini semakin lama semakin gampang dihitung dengan jari (dibaca sedih). Dan kamu akan sangat beruntung bisa berkunjung dan melihat langsung hewan superlangka beserta habitatnya. Kedua, selain menjadi rumah bagi beragam jenis satwa liar, Taman Nasional Ujung Kulon juga menjadi destinasi wisata komplit untuk kamu pemilik jiwa petualang. Mulai dari trekking, snorkeling, hingga surfing bisa kamu lakukan di wilayah seluas 122.956 hektar ini.

Akses Menuju Taman Nasional Ujung Kulon

  1. Via Taman Jaya: Pertama kamu cukup melipir ke terminal bus Kalideres, kemudian menggunakan jasa bus AKAP menuju Labuan. Selain itu, kamu juga bisa memulai perjalanan via terminal bus Kampung Rambutan-Serang-Labuan. Kemudian perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan umum minibus/elf jurusan Labuan-Sumur-Taman Jaya. Dari sini kamu tinggal siapkan ikat kepala 😀 dan mengandalkan 70% kemampuan fisikmu yakni dengan berjalan kaki (trekking) kurang lebih jika ditotal adalah kurang lebih 2 hari lamanya sudah termasuk camping dan istirahat. Wah capek ya sob… jangan khawatir karena rasa lelah kamu akan terbayarkan dengan pemandangan yang tak terlupakan di depan.
  2. Sobat JB’ers, selain via Taman Jaya, kamu juga bisa sampai ke rumahnya para badak Jawa melalui jalur laut. Yap, kamu cukup menggunakan kapal sewaan (longboat atau slowboat) yang biasa dijajakan di Labuan/Carita, Sumur. Dari sini, kamu bisa meneruskan perjalanan sekitar 3 jam menuju pulau Peucang. Jangan lupa siapkan cemilan untuk mengusir rasa bosan kamu selama di atas kapal.

Sejarah Taman Nasional Ujung Kulon

Kawasan yang terletak di paling ujung Barat Provinsi Banten ini dahulu pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli Botani Jerman bernama F. Junghun tahun 1846. Rupanya keunikan flora dan fauna di sana telah menarik minat peneliti dunia hingga dalam beberapa kesempatan, perjalanan mereka dicatat ke dalam jurnal ilmiah. Kemudian bencana meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 menghasilkan gelombang tsunami yang menyapu bersih daratan kawasan Ujung Kulon dan sekitarnya. Kekhawatiran akan habitat flora dan fauna yang mungkin terancam pasca bencana tersebut rupanya tidak seperti yang dibayangkan. Kawasan Ujung Kulon memiliki ekosistem dan vegetasi yang tumbuh baik dan cepat. Keren yak!

Hal senada juga dibenarkan oleh Pak Kusman yang telah bertugas sebagai pemandu di kawasan ini.

“Dulu kawasan ini sempat terkena tsunami besar, jadi jika diperhatikan pohon-pohon di pinggir pantai di sini tumbuhnya tidak pernah lurus ke atas karena akarnya terhalang oleh karang”, Ujar pria yang telah mengabdikan dirinya untuk TNUK selama 10 tahun belakangan kepada jadiBerita.com.

Ada kurang lebih 725 flora yang terlindungi di taman nasional ini, di antaranya: Palahar, Bungur, Ki hujan, Anggrek dan beberapa tanaman langka lainnnya.

Padang Pengembalaan Cidaon

Tempat yang wajib kamu kunjungi selama di Taman Nasional Ujung Kulon adalah Padang Pengembalaan Cidaon. Hamparan padang rumput dengan luas sekitar 4 hektar ini menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa liar. Tempat ini juga menjadi tempat bermainnya sapi, banteng, kerbau, burung merak hingga badak bercula satu.

Kami dan rombongan opentrip yang menjejakkan kaki pukul 10.00 WIB di sana cukup beruntung karena beberapa kawanan banteng dan kancil tengah asyik menikmati sarapan paginya di balik rerumputan. Menurut nakhoda kapal yang kami tumpangi, tak jarang jika kamu sedang beruntung bisa langsung menyaksikan Badak dengan mata telanjang. Semakin langkanya satwa besar bertubuh gempal ini membuat tidak setiap saat bisa berjumpa dengannya.

Padang Pengembalaan Cidaon (Copyright: Aldian Silalahi)
Padang Pengembalaan Cidaon (Copyright: Aldian Silalahi)

Jepret… Jepret sesi foto bersama rombongan menandakan akhir kunjungan kami di kebun binatang alami itu…

Cidaon, akhirnya foto bersama.
Cidaon, akhirnya foto bersama.

Pulau Peucang

Pulau peucang adalah salah satu pulau yang terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon. PT Wanawisata Alam Hayati sebagai pengelola pulau ini memfasilitasi beberapa penginapan bertarif mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 800 ribu per malam.

Di Pulau yang dalam bahasa sunda berarti Kancil ini kamu bisa merasakan indahnya menyatu dengan alam, tak ada sinyal ponsel, aliran listrik di sini pun hanya aktif pada malam hari saja. Kawanan kancil dan babi hutan yang berkeliaran bebas di sekitar penginapan membuat kamu benar-benar merasa diasingkan ke tengah hutan.

Sebagai bagian dari kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Pulau Peucang memang tak pernah sepi dari para traveler lokal maupun mancanegara. Hal senada dibenarkan oleh Pak Kusman. Sambil menghirup sebatang rokok, ia mengungkapkan setidaknya ada puluhan rombongan yang menginap di Pulau Peucang setiap minggunya. Apalagi disaat musim liburan seperti ini.

“Kadang ada yang nekat sampai ke pulau ini tanpa booking atau pesan kamar dulu sebelumnya, jadi mereka ada yang tidak mendapatkan kamar. Tapi mau gimana lagi, nggak mungkin kami suruh kembali. Kami pun terpaksa berusaha mencarikan penginapan”, tutur Pak Kusman.

Pantai pulau ini sayang banget kalau kamu tonton saja. Kamu bisa melakukan kegiatan seru di sekitar pantai ini. Snorkeling menjadi ritual wajib untuk kamu yang penasaran dengan ikan Nemo yang mengintip malu-malu di balik karang. Ombak di pulau ini cukup tenang, tak perlu alat khusus untuk mengintip taman laut yang indah di pulau ini. Cukup dekati bibir pantai kemudian buka matamu lebar-lebar.

Tampak dari kejauhan kawanan monyet, babi hutan dan si kancil sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tak ada satupun dari satwa tersebut yang dipelihara oleh orang-orang di sini. Mereka seolah menyambut para wisatawan dengan caranya masing-masing. Keberadaan mereka di pulau ini memang cukup membuktikan jika kamu berada di kawasan alami. Sejumlah satwa unik tak akan kamu temukan di kehidupan sehari-hari.

Kancil di Pulau Peucang (copyright: Andreas Adisyahwarman)
Kancil dan Monyet di Pulau Peucang (copyright: Andreas Adisyahwarman)

Hari sudah sore, Matahari pun bersiap merebahkan diri di sebelah Barat. Tim jadiBerita.com ditemani oleh teman-teman opentrip bersiap untuk memburu sunset di pantai Karang Copong. Karang Copong berada masih dalam satu pulau di Peucang. Letaknya berada di balik pulau membuat kamu harus trekking dulu sebelum mendapatkan Sunset terbaik di sore ini.

Menyusuri hutan lebat diselingi obrolan-obrolan ringan selama perjalanan membuat kami lupa dengan apa yang namanya lelah. Perjalanan dari penginapan di Pulau peucang menuju Pantai Karang Copong memang tidak bisa dibilang sulit ataupun mudah. Kami membentuk satu barisan panjang selama perjalanan. Pohon-pohon berusia ratusan tahun terlihat gagah kami lintasi satu-persatu. Sesekali kami berhenti dan berfoto berlatarkan pohon-pohon purba itu.

Satu foto bersama saat trekking ke Karang Copong sudah cukup membuat kami lupa dengan rasa lelah!
Satu foto bersama saat trekking ke Karang Copong cukup membuat kami lupa dengan namanya rasa lelah!

Akhirnya langkah kaki selama 1 jam mengantarkan kami pada suara ombak yang semakin dekat. Yeah! akhirnya saya dan teman-teman berjumpa dengan Matahari sore pukul 17.30 WIB, di Karang Copong.

Inilah sunset pertama saya di Taman Nasional Ujung Kulon…

IMG-20150406-WA0091
Sunset di Karang Copong (copyright: jadiBerita.com)

Cibom

Berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon belum lengkap rasanya jika belum mengupas kilas balik sejarah panjang sebelum negara ini merdeka. Sejarah bagi saya pribadi sangat penting perannya karena hanya dengan sejarah kita bisa belajar dari masa lalu. Cibom adalah pulau yang nantinya sedikit akan mengungkapkan beberapa catatan sejarah di Taman Nasional Ujung Kulon ini.

Inilah pagi pertama saya di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Berjarak sekitar 15 menit dari Peucang kami menyiapkan diri untuk memberikan tubuh ini bekerja lebih dari biasanya. Yap, kami akan melakukan trekking yang cukup panjang di pulau Cibom untuk kemudian menuju kawasan bibir pantai selatan yakni Ciramea. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki ke Tanjung Layar, titik kilometer nol pulau jawa.

Cibom adalah pulau tak berpenghuni. Tak ada penginapan, listrik, toilet apalagi sinyal ponsel. Sesampainya di pulau, kami disambut dengan gapura kayu bertuliskan “Taman Nasional Ujung Kulon, Warisan Budaya – World Heritage”. Tak jauh dari gapura ada sebuah shelter beratapkan genteng. Di sana terdapat beberapa informasi singkat dan sejarah mengenai pulau ini.

Ditemani pemandu Pak Kusman dari TNUK, kami merencanakan jalur trekking yang akan dilalui. Akhirnya setelah mempertimbangkan aspek keselamatan dan waktu jarak tempuh, kami memutuskan untuk trekking menuju ke Ciramea kemudian baru berakhir di Tanjung Layar.

Langkah kaki pertama kami mulai…. tentunya setelah berdoa terlebih dahulu.

IMG-20150406-WA0042
Gapura selamat datang pulau Cibom. Kita nggak pernah tahu ada apa di depan sana, yuk berdoa dulu…

Pengalaman trekking di hari pertama menuju Karang Copong sudah lebih dari cukup untuk membiasakan otot kaki kami agar bisa trekking dengan lancar menuju Ciramea. Jalur yang licin dan sempit sempat membuat langkah kaki kami sedikit melambat. Menurut Pak Kusman yang langkah kakinya kini menyesuaikan dengan ritme kami, perjalanan dari Cibom menuju Ciramea jika dilakukan dengan santai akan memakan waktu 2 jam. Kemudian perjalanan dari Ciramea menuju Tanjung Layar akan memakan waktu kurang lebih 2 sampai 3 jam. Wow! ini serius jalan kaki semua nggak ada gojek? 😀

Untuk mengusir lelah dan rasa bosan, perjalanan ini kami isi dengan candaan ringan dan nyanyian-nyanyian seru bersama teman-teman opentrip lainnya. Sesekali candaan kami terhenti oleh suara lutung yang terdengar di balik pepohonan menjulang tinggi. Tips untuk kamu yang akan melakukan perjalanan seperti kami. Gunakan sepatu hiking atau kenakan alas kaki ala sandal gunung agar tak mudah terpeleset. Bawalah persediaan air mineral yang banyak. Buat dirimu nyaman dan menikmati perjalanan.

Setelah kami berjalan kurang lebih 1 jam 45 menit. Suara ombak khas pantai selatan semakin jelas terdengar. Itulah tanda-tanda Pantai Ciramea segera terlihat. Yap, benar saja di depan tak jauh terlihat hamparan pasir putih lengkap dengan gugusan karangnya yang berwarna hitam. Teman-teman lainnya segera mengeluarkan gadget-nya masing-masing kemudian hilang satu-persatu untuk mencari spot foto terbaik. Huh! dasar anak muda zaman sekarang! :p

Pantai Ciramea (copyright:jadiBerita.com)
Pantai Ciramea (copyright:jadiBerita.com)

Pantai Ciramea memiliki karakter ombak yang berbeda dengan pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Bibir pantainya yang langsung berhadapan dengan pantai selatan membuat pusaran ombaknya bisa mencapai 3 meter. Itulah sebabnya para pengunjung dilarang berenang atau berada di dekat bibir pantai indah ini.

Pantai Ciramea (Copyright:jadiBerita.com)
Pantai Ciramea (Copyright:jadiBerita.com)

Selain itu, pantai yang membentang sejauh 4 kilometer ini juga menjadi tempat ratusan penyu menepi dan bertelur. Pada bulan April dan Oktober kamu bisa menyaksikan lebih dekat kawanan penyu hijau muncul dari permukaan laut dan kemudian mencari tempat untuk bertelur.

Sayangnya kami tidak datang di waktu yang tepat untuk berjumpa dengan satwa mungil itu. Lagipula kawanan penyu akan menepi ke bibir pantai pada malam hari sehingga untuk kamu yang ingin menyaksikan secara langsung diwajibkan menginap di sekitar Pantai Ciramea.

Sudah jam 11.30 WIB, ucap seorang teman sambil mengulurkan jam tangannya kepada saya. Pak Kusman yang sedari tadi duduk santai di bawah pohon pun langsung beranjak dan menyerukan untuk kami segera bergegas meninggalkan Ciramea dan melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Layar.

Perjalanan pun dimulai. Matahari tepat sejajar di atas kepala kami. Medan yang kami lalui saat itu berbeda dari sebelumnya. Langkah kaki kami harus ekstra kuat lagi karena saat ini kami berjalan di atas pasir putih. Entah mengapa perjalanan di atas pasir justru terasa lebih berat dari pada di dalam hutan. Kali ini teman-teman opentrip terlihat sangat lelah, tak ada lagi canda tawa atapun nyanyian-nyanyian ringan. Raut muka lelah dan letih jelas terlihat begitu pula saya.

Ini adalah pengalaman pertama saya berjalan kaki di tengah terik Matahari yang cukup menyengat di atas pasir. Pak Kusman mulai berjalan lebih cepat dari sebelumnya, ia meminta kita harus segera melintasi bibir pantai ini karena jika menjelang sore air laut akan pasang. Jalan yang saat ini kami injak tentu baik dilalui saat air laut pasang.

Akhirnya hati kami lega saat Pak Kusman menunjuk arah hutan. Yap, ia mengisyaratkan kami untuk segera memasuki hutan. Akhirnya kami pun meninggalkan bibir pantai yang sudah sangat menguras keringat kami dari tadi. Akhirnya setelah kami menyusuri hutan lebat Taman Nasional Ujung Kulon untuk kesekian kalinya. Tibalah kami di titik nol kilometer pulau Jawa, Tanjung Layar. Alhamdulillah sampai juga… Ucap saya dalam hati.

Tanjung Layar seperti namanya memang terdiri dari sebuah tebing tinggi yang langsung menghadap Samudra Hindia, rupa bentuknya seperti layar berkembang. Di bawahnya terhampar luas rumput ala lapangan sepakbola yang berbaris rapih. Tak jauh dari sana ada pula sisa puing-puing bangunan peningalan Belanda yang dahulunya adalah penjara para pekerja paksa.

Padang rumput Tanjung Layar (Copyright: jadiBerita.com)
Padang rumput Tanjung Layar (Copyright: jadiBerita.com)
Tanjung Layar Taman Nasional Ujung Kulon (Copyright: Endro Catur Nugroho)
Tanjung Layar Taman Nasional Ujung Kulon (Copyright: Endro Catur Nugroho)
Sisa-sisa bangunan Belanda yang dahulunya digunakan sebagai penjara pekerja paksa (copyright: Jesse Grayman)
Sisa-sisa bangunan Belanda yang dahulunya digunakan sebagai penjara pekerja paksa (copyright: Jesse Grayman)

Tanjung Layar juga memiliki dua buah mercusuar. Mercusuar pertama adalah karya asli arsitektur Belanda. Meski sisa bangunannya masih kokoh hingga saat ini, namun fungsinya sebagai mercusuar telah digantikan dengan yang baru. Pada tahun 1880, bagian atas mengalami kerusakan yang parah akibat gempa bumi. Mercusuar runtuh sesudah letusan Gunung Krakatau tahun 1883, dan bagian dasarnya yang bundar sekarang menjadi tempat tangki air besar. Sisa-sisa tangga batu yang melingkar dapat dilihat di kompleks bawah. Dari mercusuar ini, kamu bisa melihat birunya laut selatan lebih jelas. Di sini, kamu bisa mengarahkan pandangan pada luasnya Samudra Hindia.

Mercusuar Baru di Tanjung Layar (Copyright: catarinamaria)
Mercusuar Baru di Tanjung Layar (Copyright: catarinamaria)

Bangunan mercusuar yang berdiri sejak tahun 1800 ini bukan tanpa alasan dibangun oleh Belanda. Pada saat itu, Tanjung Layar menjadi lokasi strategis sebagaimana letaknya di ujung pulau Jawa. Kapal-kapal yang melintas kala itu sangat terbantu oleh petunjuk dari sorotan lampu mercusuar Tanjung Layar.

Mercusuar yang dibuat oleh Belanda
Mercusuar yang dibuat oleh Belanda

Inilah akhir perjalanan kami di Taman Nasional Ujung Kulon. Bertambah lagi satu foto untuk instagram saya di sunset kedua Tanjung Layar.

Terima kasih untuk teman-teman opentrip yang sangat bersahabat selama berwisata bersama-sama di Taman Nasional Ujung Kulon. Bagi kamu yang mau ke tempat wisata ini, persiapkan uang sekitar Rp 850 ribu – Rp 1 juta untuk biaya bersama tim travel dan jajan ya. 🙂

Taman Nasional Ujung Kulon, bersama teman-teman opentrip
Taman Nasional Ujung Kulon, bersama teman-teman opentrip

(jow)