Jika ditanya mengenai film superhero, kebanyakan pasti menjawab superhero dari Marvel seperti Iron Man dan Captain America, atau dari DC seperti Batman dan Superman. Rupanya, sineas Indonesia sudah pernah membuat film superhero berpuluh tahun lalu. Film superhero pertama kita dibuat tahun 1954, atau 5 tahun setelah kemerdekaan penuh Indonesia pada tahun 1949.

Dilansir dari Liputan6com, Rabu (6/5/2015), film superhero Indonesia pertama berjudul “Sri Asih”. Sutradaranya Turino Djunaedy dan Tan Sing Hwat. Bintang utamanya Mimi Mariani dan Turino sendiri. Film ini merupakan adaptasi dari komik berjudul sama dengan filmnya, karya mendiang RA Kosasih. Pria yang disebut Bapak Komik Indonesia ini lebih dikenal dengan masterpiece-nya komik wayang “Mahabharata” dan “Ramayana”. Sebelum membuat dua judul itu, Kosasih membuat komik “Sri Asih”.

Komiknya berkisah tetang Sri Asih, wanita berkekuatan super pembasmi kejahatan. Sri Asih mampu terbang bak roket. Aslinya, Sri Asih seorang wanita kikuk tapi cantik bernama Nani. Siapa Sri Asih asli tak pernah diketahui. Rekan kerja Nina, Sambas, tak pernah lelah mencari tahu identitas asli Sri Asih. Ia curiga Nina adalah Sri Asih, tapi tak pernah bisa membuktikannya.

Untuk wujud dari Sri Asihnya sendiri bisa dibilang merupakan gabungan dari Wonder Woman dan Superman, plus ramuan lokal (kostumnya mirip dewi khayangan).

Ilustrasi Sri Asih (Deviantart)
Ilustrasi Sri Asih (Deviantart)

Pada tahun 1950-an saat Sri Asih lahir, Hollywood tidak sedang gandrung dengan film superhero di layar lebar dan lebih sering menampilkan superhero di layar kaca. Contohnya adalah “Adventure of Superman” dengan bintangnya George Reeves, yang mulai tayang pada tahun 1952. Kemudian barulah pada tahun 1978 Superman diangkat ke layar lebar dengan judul “Superman: The Movie”, yang menandai bangkitnya film superhero Hollywood di layar lebar.

Empat tahun sebelum Superman: The Movie rilisâ??atau saat keluarga Salkind masih berjuang mewujudkan mimpi membuat film layar lebar superheroâ??kita sudah mendahului Hollywood. Pada tahun 1974, sineas kita melahirkan “Rama Superman Indonesia”. Kisahnya tentang Andi (Boy Shahlani), remaja penjaja koran yang mendapat jimat kupu-kupu emas. Bila jimat itu dicium, ia bisa berubah jadi superhero yang bisa terbang, berkostum bak Superman, bernama Rama (diperankan August Melasz).

Rama Superman Indonesia (Wikipedia)
Rama Superman Indonesia (Wikipedia)

Selang 7 tahun kemudian, sineas kita membuat “Gundala Putera Petir”. Kisahnya seputar Sancoko (Tedy Purba), seorang ilmuwan, berubah jadi superhero bernama Gundala. Awalnya, Sancoko diam-diam menyuntikkan cairan anti petir. Hasilnya luar biasa. Tubuhnya jadi tahan arus listrik dan punya kekuatan super, berkat bimbingan gurunya Dewa Petir (Pitrajaya Burnama). Kostumnya sendiri bisa dibilang mirip Captain America.

Gundala (Septiyansholic Blogspot)
Gundala (Septiyansholic Blogspot)

Setelah 1980-an sineas kita berhenti membuat film superhero. Film jenis ini baru dibuat lagi pada tahun 2000-an, misalnya “Garuda Superhero”, namun ternyata hasilnya tak sesuai ekspektasi. Sehingga era 200-an sineas Indonesia yang membuat film superhero kalah pamor dibandingkan film superheo buatan Hollywood dengan efek khusus yang ‘wah’.

Di sini pula sineas kita bertemu tantangan sesungguhnya. Bila sineas kita nekat ingin bikin film superhero, yang menjadi saingan bukan lagi film bikinan sineas negeri sendiri, melainkan Hollywood. Masyarakat kita sudah begitu akrab dengan film-film superhero Hollywood. Harga tiket antara film Hollywood dengan film kita pun sama.

Maka, bila film nasional kita ingin untung besar, yang menjadi sasaran harusnya tak cuma pasar dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Untuk bisa diterima berbagai pasar luar negeri, kualitasnya harus bisa bersaing dengan Hollywood. Salah satu film Indonesia termahal hingga saat ini dipegang “The Raid 2: Berandal” yang rilis pada tahun 2014 lalu dengan budget Rp 54 miliar. Angka itu masih jauh di bawah film superhero Hollywood.

Lalu, mungkinkah Indonesia bisa membuat film superhero sekelas superhero Hollywood? Asal ada yang bersedia berinvestasi hingga triliunan rupiah hal itu bukan tak mungkin. Namun pertanyaannya bukan siapa, melainkan adakah orang yang rela seperti itu? (tom)