Ketika memutuskan untuk beragama, seseorang tentu berkeyakinan bahwa agamanya adalah yang terbaik untuknya dalam menemukan Tuhan. Namun, ada kalanya kita justru terperangkap dalam keadaan memiliki agama tersebut. Hanya karena beragama, seseorang merasa bahwa ia benar-benar menemukan Tuhan. Padahal, agama adalah sebuah jalan panjang yang berliku. Di dalamnya terdapat banyak jebakan, termasuk anggapan bahwa diri sendiri paling benar dalam menafsirkan ajaran agama.

Ketika seseorang sudah merasa benar sendiri dalam agamanya, tentu ia bukan lagi dikategorikan sebagai umat beragama. Pada titik ini, beragama dengan cara semacam inilah yang dibenci Tuhan. Pada sisi luar, kita mungkin mengerjakan ibadah. Namun, pada sisi dalam, merasa diri sendiri adalah yang terbenar akan membuat Kebenaran Hakiki tertutup dari kita.

Sebuah kisah dalam Masnawi karya Jalaluddin Rumi mungkin bisa mencerahkan hati.

Dikisahkan, Musa, salah satu nabi tercerdas, tengah berjalan di padang tandus. Didengarnya seorang anak gembala berdoa. â??Tuhan, Di manakah Engkau? Aku ingin membantu-Mu; menjahit kasut (sepatu kulit)-Mu; menyisir rambut-Mu.â?

Anak gembala tadi terus menyebutkan kata-kata tak pantas untuk Tuhan. Musa, yang telah diberi pengetahuan dan etika berhadapan dengan Tuhan, tentu saja marah dengan perilaku ini. Dihardiknya sang penggembala dengan keras.

â??Apa yang kaulakukan! Bukan begitu caranya memperlakukan Tuhan! Kau merendahkan-Nya! Ada ucapan-ucapan yang hanya pantas untuk manusia dan sebaliknya. Namun, kau mencampuradukkan segala hal! Kau tidak layak disebut umat beragama!â?

Mendengar ucapan Musa, sang anak gembala pergi dengan bercucuran air mata.

Beberapa saat kemudian, Tuhan menegur Musa.

â??Kau telah memisahkanku dengan orang yang Kucintai. Musa, Aku telah memberikan cara-cara khusus kepada setiap orang dalam memahami dan mengenali-Ku.

Apa yang tampak salah bagimu, benar di matanya.

Yang merupakan madu bagi seseorang, adalah racun bagi orang lain.

Demikianlah kehidupan di dunia. Namun, Aku berada di atas semua itu!

Ibadah dan penyembahan tidak bisa diukur dengan ibadah dalam sistem ajaran yang lain.

Orang Hindu beragama dengan cara Hindu. Demikian pula orang Islam dengan cara sendiri.

 

Bukan Aku yang dimuliakan dengan ibadah mereka. Manusialah yang memuliakan dirinya dengan ibadah; mendekati-Ku.

Aku tidak perlu mendengar ucapan demi ucapan dalam bibir mereka. Yang kuperhatikan adalah batin mereka; seberapa jauh mereka mengenali diri-Ku.

 

Musa, di dalam Kabah, kemana pun arah engkau bersujud, tidak ada masalah.

Agama cinta tidak memiliki doktrin atau aturan. Yang ada hanyalah Allah.

Keputusanmu melarang orang tadi adalah cara yang benar bagimu. Namun, bagi-Ku, caranya yang â??salahâ? itu benar adanya karena ia hanya ingin meleburkan diri di hadapan-Ku. Sementara engkau dengan segala pengetahuan yang kaupunya, justru membatasi perilaku ibadahmu. Kau melupakan esensi penting beragama; ketulusan, kemurnian, yang lepas dari doktrin kaku yang mungkin menjerumuskan.â?

Kadang kala, demikianlah yang kita lakukan dalam hidup. Ketika sudah memilih sebuah agama, kita memilih hal-hal ringan dari agama tersebut dan berkilah belum cukup mampu menjalankannya. Ada pula yang merasa dirinya sebagai wakil Tuhan di dunia dan menganggap kebenarannya paling sempurna sehingga mengkafirkan umat beragama lain. Bahkan, orang yang seagama pun bisa dianggap kafir hanya karena berbeda pendapat. Orang-orang yang hanya mau enaknya sendiri ini (malas beragama atau terlalu fanatik sempit pada ortodoksi agama), bukankah mereka sendiri yang melecehkan agama mereka? Bukankah mereka adalah kafir yang sesungguhnya? Bukankah, mereka sendiri yang (cara ber-) agamanya dibenci Tuhan?