Seleb muda Hollywood, Justin Bieber, mengakui kalau dirinya menganggap mantan kekasihnya, Selena Gomez, sebagai pasangan jiwanya.

Mantan pasangan kekasih ini berkali-kali putus sambung sejak Desember 2010. Terakhir kali keduanya pacaran pada tahun lalu.

“Justin meyakini bahwa mereka adalah pasangan jiwa. Dia benci jika haarus terpisah dari Selena,” ucap sumber yang dilansir dari HollywoodLife, Kamis (14/5/2015).

Selena dan Justin kerap putus sambung karena ego keduanya sama-sama besar. Ditambah perangai Justin bak seorang Don Juan, membuat Selena tak betah di sisinya.

Setelah putus dari Selena pun, pelantun lagu “Boyfriend” itu belum sembuh dari penyakit playboy-nya. Beberapa kali Justin terlihat menghabiskan waktu dengan model Hailey Baldwin dan bintang televisi Kendall Jenner.

Tak heran jika  kemudian muncul isu bahwa Justin mengencani keduanya.

Meski gampang dekat dengan lawan jenis, ditegaskan sumber bahwa Justin tetap mencintai Selena.

“Justin memang dekat dengan Kendall Jenner dan Hailey Baldwin, tapi hatinya masih untuk Selena,” kata sumber anonim.

Selena kini sedang sendiri setelah putus dari DJ Zedd. Namun, sejauh ini belum tampak tanda-tanda Selena mau kembali ke pelukan Justin.

Selain menyesal karena tidak bisa kembali menjalin hubungan dengan Selena Gomez, Justin Bieber juga menyesali perilakunya selama ini yang kerap berbuat ulah. Dia kecewa terhadap diri sendiri.

“Saya sedikit memberontak. Saya tidak punya orang yang mengontrol saya. Saya melihat kembali pada masa itu dan saya merasa kecewa terhadap diri saya,” ucap Justin dalam wawancara dengan majalah Seventeen.

Walau begitu, pelantun Boyfriend ini berusaha belajar dari kesalahan.

“Anda harus memiliki kesalahan. Kemudian, Anda harus mengatakan, ‘Aku minta maaf kalau aku sudah mengecewakan Anda.’ Aku selalu ingin jujur dan membiarkan orang tahu bahwa semua kesalahan itu tidak menunjukkan siapa diri saya. Saya yang sebenarnya adalah seseorang yang benar-benar peduli kepada orang lain,” jelasnya.

Mantan kekasih Selena Gomez ini senang jika berhubungan dengan orang yang membuatnya merasa aman dan berada di lingkungan pergaulan yang sehat.

“Saya perlu hubungan yang sehat dengan orang lain. Orang yang kepadanya saya bisa berkata jujur. Saya tidak ingin dihakimi,” urainya. (tom)