President Abdurrahman Wahid attempted to prevent Laskar Jihad activists from leaving for the Moluccas, but Laskar Jihad had the visible support of elements in the police and armed forces.

(Martin Van Bruinessen, â?? The violent fringes of Indonesiaâ??s radical Islamâ?)

Sejarah kadang berulang dengan cara yang sama sekali tidak terduga. Demikianlah bunyi sebuah pepatah. Nyatanya, itulah yang terjadi di negeri kita. Suka atau tidak, sejak runtuhnya Orde Baru atau minimal dekade 2000-an, Islam kembali bersinggungan atau berlekatan dengan isu kekerasan atau terorisme. Belakangan, misalnya kita sering menyaksikan aksi-aksi â??pembersihan lingkunganâ? ala sebuah ormas yang berbalut Islam. Belum lagi rentetan pengeboman yang dilakukan oleh orang Islam dan mengatasnamakan Islam. Ada apa sebenarnya?

Pembalasan Dendam

Banyak peneliti yang menyebutkan bahwa kekerasan dan aksi teror yang muncul dengan bendera Islam adalah bentuk ledakan atas sikap represif penguasa masa lalu, Orde Baru. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pada zaman Soeharto, Islam ditekan sedemikian rupa untuk tidak berkembang. Bahkan, ada istilah, â??Islam boleh saja banyak, tapi jangan sampai berkuasaâ?. Beberapa media Barat bahkan mengklaim Soeharto pernah berkata, â??Islam adalah musuh kedua (Indonesia) setelah komunisme.â? Sementara komunisme dipasung dengan penghancuran PKI pada akhir dekade 1960-an, Islam â??dimatikanâ? selama Orde Baru ada.

Misalnya, pelarangan Masyumi berdiri lagi sebagai partai politik, penggencetan semua organisasi yang berlabel Islam, penangkapan orang-orang (Islam) yang bersuara vokal terhadap pemerintah, bahkan hingga peristiwa Tanjung Priok (yang hampir terulang beberapa waktu lalu). Begitu Orde Baru jatuh, ada beberapa oknum yang menangkap makna kejatuhan ini dengan â??pelampiasanâ? atas kekejaman yang dilakukan Orde Baru; untuk membalas perlakuan penguasa dengan cara yang mirip: menghancurkan segala sesuatu yang memiliki pandangan berbeda dengan oknum tersebut. Buktinya, oknum-oknum ini tidak hanya menyerang kelompok sekular atau non-Islam. Orang-orang Islam yang berbeda pendapat dengan mereka bahkan dengan mudah dilabeli dengan sebutan agen Yahudi, agen zionis, atau orang yang tersesat, seolah oknum-oknum ini, yang sudah diketahui siapa oleh kebanyakan orang, telah menjadi Tuhan.

Disengaja oleh Penguasa?

Investor-investor besar ini, juga berpotensi menikmati keuntungan akibat kerusuhan yang terus dilestarikan di Kabupaten Poso dan tetangga-tetangganya di timur. Keuntungan mereka adalah dalam dua hal. Pertama adalah jatuhnya harga tanah di daerah kerusuhan, dan kedua adalah pengamanan langkah-langkah penggusuran rakyat setempat oleh aparat keamanan yang semakin bertambah di daerah-daerah konflik maupun yang terkena imbasnya.

(George Junus Aditjondro, â??Kerusuhan Poso dan Morowali: Akar Permasalahan dan Jalan Keluarnya)

Jika yang terjadi â??hanyalahâ? pembalasan dendam, ada kemungkinan pelampiasan tersebut akan habis pada waktu tertentu. Namun, ada bahaya lain atas kemunculan oknum-oknum â??penegak kebenaranâ? dengan bendera Islam. Ya, bagaimana jika mereka memang sengaja dimanfaatkan oleh kelompok tertentu, bahkan negara, untuk mengacau?

Banyak kepentingan yang bermain di sini. Dengan munculnya oknum teroris Islam, setidaknya kepercayaan rakyat Indonesia terhadap partai politik Islam misalnya, akan berkurang. Strategi ini bahkan sudah pernah dipakai pada masa Orde Baru. Kala itu, entah kebetulan atau tidak (dan kemungkinan tidak), â??demi mengimbangiâ? PPP yang mendapatkan massa Islam, dimunculkanlah Komando Jihad dan penyebaran paham Pancasila versi penguasa. Faktanya, beberapa penelitian menyatakan bahwa anggota Komando Jihad dilatih dan dibesarkan oleh intelijen negara.

Kalau sekarang, teror bom kembali mencuat, bukankah hal ini merupakan pengulangan cara lama yang terbukti efektif? Kalau sekarang, ormas berkedok Islam yang kerap melakukan kekerasan didiamkan saja, tidak bolehkah kita curiga bahwa pendiaman ini adalah strategi penguasa untuk terus memelihara mereka; menyebar kelompok ini demi pengalihan isu atau memanfaatkan jasa mereka sebagai â??perpanjangan tanganâ? dari agen-agen tak terlihat demi mempertahankan kekuasaan tetap jatuh pada orang yang dekat dengan mereka?

Kebetulan, ormas yang dimanfaatkan adalah kelompok pemuda yang pengetahuan agamanya kurang baik dan terlalu fanatik terhadap ormasnya (bukan agamanya) sehingga â??mudah dikendalikanâ? sekali disebut ada musuh bersama. Tentang orang-orang ini, ada sebuah sabda Nabi Muhammad saw., â??Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang berumur muda, akalnya pendek, dan berbicara dari kebaikan pembicaraan orang-orang baik. Namun, iman mereka tidak sampai menembus kerongkongan. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.â?

Siapa Yang Mesti Dihentikan?

Orang-orang yang tidak setuju dengan ormas ini pun seperti hendak memakan buah simalakama. Menggugat keberadaan ormas berkedok Islam atau mempertanyakan orang-orang yang mengebom sebuah tempat demi kata jihad, menjadi percuma. Karena, kita hanya seperti memotong ekor cicak. Ekor itu, jika dipotong seperti apa pun, berkaca pada Komando Jihad di era Orde Baru, akan tumbuh kembali pada suatu waktu, dalam bentuk dan nama yang berbeda selama cicaknya masih hidup.

Ya, bagaimana jika asumsi ini kemudian benar adanya. Orang-orang yang mengaku Islam tapi selalu ingin berperang ini ternyata dimanfaatkan oleh sebuah bentuk kekuasaan terselubung dan kita yang melawan orang-orang ini juga terjebak dalam pengendalian opini â??kekuasaan terselubungâ? tersebut.