Mempunyai kehidupan bahagia, jauh dari kriminalitas, dan lingkungan yang sehat siapa yang tidak mau. Sayangnya di Indonesia masih belum bisa tercapai kondisi negara seperti itu. Namun jangan salah, karena nyatanya ada negara yang diklaim sebagai negara paling bahagia sedunia. Negara itu adalah Bhutan.

Bhutan terletak di bawah pegunungan Himalaya, tanahnya tidak subur, hasil tambangnya tidak banyak dan pendapatan warganya tidak tinggi. Namun negara itu bisa dibilang bahagia. Apa rahasianya?

Dilansir dari Digital Nomad, Kamis (21/5/2015), menurut Eric Weiner, seorang traveling yang telah melakukan beberapa perjalanan ke berbagai negara dan salah satunya ke Bhutan, ketika mengunjungi Bhutan ia pun mengalami beberapa hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai negara kecil yang terletak di dataran tinggi di Asia selatan membuat cuaca dan pasokan oksigen di negara ini sangatlah sedikit.

Awal pertama Eric datang ke Bhutan ia merasa sesak nafas. Karena baru pertama kali datang ke Bhutan Eric belum terbiasa dengan lingkungan disana. Dengan ketinggian 2.300 mdpl membuat badan Eric menjadi lebih berat dikarenakan pasokan udara sangatlah tipis selain itu angin yang bertiup sangatlah kencang. Karena takut terjadi apa-apa dengan tubunya Eric pun lantas pergi ke dokter.

Apa yang dikatakan dokter membuat Eric terkejut. Ternyata, dia sehat-sehat saja dan badannya tidak bermasalah. Walaupun, Eric sempat panik karena badannya yang langsung drop.

Sang dokter mengatakan pada Eric kalau dirinya harus merenungkan kematian paling tidak 5 menit setiap hari agar bisa sembuh. Eric jelas bertanya-tanya apa maksudnya.

Eric kemudian mendapati fakta yang mencengangkan. Dia membaca buku “A Field Guide to Happiness: What I Learned in Bhutan About Living, Loving and Waking Up “karangan Linda Leaming. Di situlah dia baru sadar, rahasia Bhutan menjadi negara paling bahagia di dunia adalah masyarakatnya yang selalu merenungkan kematian.

“Saya menyadari, berpikir tentang kematian tidaklah membuat orang tertekan. Itu justru membuat saya menikmati setiap momen dan melihat hal-hal yang mungkin tidak biasa saya lihat. Di Negara Barat, kematian adalah sesuatu yang menyedihkan. Sedangkan di Bhutan, itu adalah bagian dari hidup yang pasti kita lalui,” tulis Linda Leaming dalam bukunya.

Bukan berarti orang-orang di Bhutan berani untuk mati. Mereka tetap takut dengan datangnya kematian, tapi justru tidak memikirkan hal itu menjadi masalah. Bhutan pun menawarkan kematian dalam banyak cara, seperti jatuh dari jurang, diserang beruang atau makan jamur beracun.

Kesimpulannya, kematian suatu hal yang mungkin dianggap mengerikan. Tetapi ketika orang-orang merenungkan hal itu, otak Anda dengan otomatis akan mencari pikiran atau sesuatu yang bahagia.

Itulah rahasia dari Bhutan yang menjadi negara paling bahagia di dunia. Orang-orang di Bhutan yang setiap hari merenungkan kematian, justru membuat mereka makin menikmati hidup tiap detiknya. (tom)