Gunung Prau

Bagi seorang pendaki pemula, sepertinya Gunung Prau adalah salah satu pilihan utama yang wajib dicoba. Alasan paling mendukung karena track yang bisa dibilang lumayan gampang. Lumayan gampang untuk seorang pendaki maksudnya haha. Walaupun kata orang ini bukanlah real gunung, bisa juga disebut dataran tinggi Prau. Mengingat gunung ini tidak pernah aktif dan entah dimana kawahnya. Tapi jangan pandang sebelah mata loh, meskipun Prau hanya dataran tinggi namun mampu membuat kita terpana oleh golden sunrise dengan pemandangan 6 gunung sekaligus. Wiih kurang keren gimana coba, mulai dari gunung sumbing, sindoro, slamet, merbabu, merapi dan lawu bisa diintip loh. Tapi dengan catatan gak mendung dan berkabut. Gak cuma itu aja, masih ada bukit teletubbise yang paling terkenal disini. Selayaknya jajaran bukit hijau di sebuah kartun televisi yaitu teletubbise.

Kami memilih jalur desa dieng yang memang dikenal lebih aman tracknya dan lumayan landai, namun ditempuh dengan waktu sekitar 3 hingga 4 jam. Pilihan jalur lain yaitu patak banteng dan kali lembu. Jalur paling cepat yaitu patak banteng, hanya 2 hingga 3 jam perjalanan sih tapi tanjakannya lumayan curam. Sebagaimana proses pendakian gunung lain, mulanya kami mendaftarkan diri ke basecamp tepat didepan tembok bertuliskan welcome to dieng. Cukup dengan 10 ribu rupiah maka kami resmi sah menjadi pendaki prau, cie sah cie. Sah buat menapaki perjalanan panjang di tengah malam, kami mendaki mulai pukul 1 dini hari. Mengandalkan headlamp yang kami kenakan, perjalanan terasa mencekam. Melewati sebuah makam leluhur, dituntun dengan jalan setapak. Menyusuri ladang kentang milik warga sekitar dengan jalan yang masih landai, kami tapaki dengan semangat yang masih membara. Melewati pos satu dengan tanda sebuah gubuk kecil tempat peristirahatan para petani, semakin lama jalanan semakin naik. Tanah yang basah akibat aliran air berhasil membuat kami terpeleset setiap mencoba menaiki rintangan demi rintangan. Untung teman â?? teman sangatlah perhatian sehingga kami saling menolong dan selalu menyemangati, walaupun kami sama â?? sama merasa lelah.

Singkat cerita kami melewati hutan dan mulai terdengar suara teriakan pendaki lain yang tampaknya sudah bersemayam di puncak gunung Prau. Ah, semangat kami semakin besar untuk segera sampai di tujuan. Tepat pukul 4 pagi akhirnya kami bertemu dengan pendaki lain yang sudah terlebih dahulu mendirikan tenda. Gerimis turun tanpa permisi, dan kami segera bergegas memilih lokasi untuk mendirikan tenda. Musim yang silih berganti seolah memaksa kami untuk berdiam diri didalam tenda dengan kawan lainnya. Menghangatkan diri sambil menikmati logistic yang kami bawa, bertukar cerita dan beberapa lebih memilih tidur.

Pagi hari saat mentari mulai menampakkan diri, seluruh pendaki seolah dibuat terpana oleh pemandangan yang disebut golden sunrise. Pagi yang cerah untuk menikmati hari dengan secangkir kopi. Disinilah tempat paling seru untuk melampiaskan lelah dan amarah. Teriak sesuka hati, memotret seluruh keindangan alam dan merenung menikmati sepoi angin pegunungan. Kalian yang lagi mbaca yakin nih gak mau mencoba rasanya mendaki? Seru banget lho. Kalian akan tahu siapa teman yang benar â?? benar peduli, perhatian, cuek, dan sebagainya. Karena sifat asli seseorang akan semakin tampak saat di alam bebas. Lalu, hal apa saja sih yang harus disiapkan sebelum mendaki?

  1. Cek kondisi kesehatan terlebih dahulu, bila pernah menderita penyakit kronis atau alergi dengan hawa dingin sebaiknya memilih lokasi bermain lain.
  2. Cek barang bawaaan, tidak hanya logistic yang banyak tapi juga keperluaan saat dipuncak seperti sleeping bag untuk penghangat dan tenda.
  3. Cek kesiapan fisik, mendaki itu perlu fisik yang kuat karena melewati jalan yang terjal dan membawa tas yang gedenya kadang uda kaya anak SD.

(jow)