Drinksavvy (Shejipi)

Belakangan ini publik dibuat resah dengan munculnya bahan makanan yang dibuat dari bahan berbahaya. Selain itu ada juga modus kejahatan baru dengan menggunakan obat bius dalam minuman. Namun kini sepertinya masalah obat bius dalam minuman sudah bisa diatasi.

Sebuah perusahaan di Massachusetts yang bernama DrinkSavvy membuat gelas, sedotan, dan sendok berbahan plastik yang mampu mendeteksi aman atau tidaknya minuman. Gelas, sendok dan sedotan tersebut sebelumnya telah dilapisi obat yang bekerja untuk memberikan reaksi untuk menandai aman atau tidaknya minuman.

Perusahaan ini mendapat perhatian umum setelah berkampanye bahwa mereka menghasilkan obat yang mampu mendeteksi minuman melalui perlengkapan minum. Ketika publik mengetahui hal itu, mereka mendapatkan donasi sebesar USD 50 ribu (sekitar Rp 650 juta), dan nantinya akan digunakan sebagai dana untuk memproduksi gelas dan sedotan.

Pendiri DrinkSavvy, Michael Abramson yang merupakan lulusan dari Worcester Polytechnic Institute, menjelaskan temuan ini didasari pengalaman buruknya ketika berada di suatu pesta. Seseorang mencampurkan semacam obat perangsang ke dalam minuman yang dia minum. Selain dirinya, ada juga tiga orang temannya yang menjadi korban.

“Selama tiga tahun ini, tiga teman saya dan saya sendiri telah menjadi korban obat-obatan yang diam-diam dimasukkan ke dalam minuman yang kami minum,” kata Abramson dikutip dari Daily Mail, Rabu (10/6/2015).

Kini, Abramson menyewa seorang pengacara untuk mengurus hak paten atas temuannya dan bekerja sama dengan WPI kimia, serta peneliti biokimia agar obat-obatan yang dicampur diam-diam ke dalam minuman seseorang dapat terlihat.

Gelas dan sedotan yang dia ciptakan itu menggunakan bahan khusus yang akan berubah warna bila terkena 3 buah obat yang sering digunakan oleh pemerkosa, yaitu GHB, ketamine dan Rohypnol. Ketiga zat tersebut bekerja dengan cara menyerang sistem saraf pusat. Setelah dikonsumsi, obat ini dapat menyebabkan kantuk, amnesia dan hilang kesadaran.

Jika ditemukan ketiga zat tersebut dalam minuman, maka pada gelas plastik, akan muncul garis-garis berwarna merah. Sedangkan pada sedotan akan berubah menjadi berwarna merah.

Hanya saja, sepertinya produk yang sebenarnya cukup berguna ini akan sulit muncul di pasaran. Pasalnya, produk ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 2013, namun hingga kini masih belum ada ketersediaannya di pasaran.

Perusahaan ini merencanakan pada tahun selanjutnya untuk mengembangkan produk pengaman dalam bentuk botol dan kaleng. Abramson berharap agar bar, klub, maupun perguruan tinggi untuk menggunakan produk tersebut. Tujuannya untuk memberi rasa aman dan menghindar dari hal-hal yang merugikan seseorang. (tom)